Sebuah obrolan mengenai Fakultas Percakapan dan Perseduluran Perjeboran Jatiwangi
Antara Grace dan Ferial suatu ketika dari awal sampai pertengahan Mei
Ada beberapa hal yang saya ingat mengenai Fakultas Percakapan (Faculty of Talking, FoT). Dia adalah sebuah proyek berbasis percakapan intensif antara sekelompok orang yang saya fasilitasi. Dia terinspirasi dari metode meta-apa kemarin itu kamu cerita?
Eh gimana yah, konsep openess ini bukan inspirasinya. Openesss juga bukan metode. Jadi kalau ditanya metode apa yang dipakai untuk FoT adalah resep campur aduk dari berbagai, yakni openess untuk menjadi parameter untuk melihat timbal balik ke partisipan, 5why yang biasa dipakai untuk menyelesaikan sebuah konflik, ice breaker untuk sesi terakhir biar pada ngegambar ga nulis mulu. Inspirasinya dari kondisi di Madagaskar itu sendiri, gimana mendapatkan sebanyak-banyaknya informasi dalam waktu singkat. Tetapi dalam perjalanannya bukan soal informasi saja. Tetapi proses mengalami, transfer pengalaman dari orang-orang disana.
Hm, seru. Saya selalu berpikir bahwa kerja seniman bukan semata membuat benda seni, tetapi juga pengalaman seni, pengalaman artistik, pengalaman estetik. Bisa nggak kalau saya bilang FoT ini adalah sebuah metode dalam praktik berkaryamu?
Bisa, sebagai salah satu metode praktik kekaryaan. Kan banyak yang lain-lain belom di breakdown metodenya apa. Hahahaha..
Dari metode ini, kamu jadi bisa mendapatkan subject matter yang relevan bagimu sekaligus lingkungan sekitar tempat kamu bekerja, kan?
Nggak tahu, yah, ini subject matter yang relevan atau tidak. Karena dari FoT sebelumnya, tidak ada observasi dulu, di JAF pake observasi baru melakukan FoT. FoT di JAF jadi dah ada Subject Matter sebelumnya.
Yang saya tangkap dari ceritamu sebelumnya tentang metode ini adalah penjelajahan: Interaksi antar-manusia, toleransi dalam sebuah ruang percakapan yang terbatas, sekaligus distribusi pengalaman personal secara terbuka namun terstruktur. Bisa nggak dibilang begitu nggak?
Bisa.
FoT sebagai sebuah metode pernah pernah kamu uji-coba dalam program residensimu bersama Yayasan Biennale Yogyakarta, kan, ya? Di Madagaskar, ya, waktu itu? Sempat diolah jadi karya nggak sih?
Keterbatasan waktu membuat saya tak sempat membuat karya bersama para peserta FoT di sana. Kali ini, dalam residensi saya di Jatiwangi art Factory, saya ingin menguji-coba pembuatan karya bersama peserta FoT. FoT yang pertama sudah saya anggap karya, tapi kalau kebutuhannya jadi karya yang umumnya ada di praktek seni rupa memang belum. Misalkan jadi instalasi, patung, video, foto, dll.
Eh, tapi ada karyanya orang Jepang di Yokohama Triennale mirip kayak gini, dia memajang hasil interaksi sama partisipan berupa kertas-kertas coret-coret yang diproduksi sama pertisipannya; saya melakukan hal yang sama dalam presentasi akhir di Is’Art galerie Madagaskar.
Karena suatu hari ada diskusi di KKF mengenai FoT di Madagaskar, kemudian Grace menantang untuk membuat sesuatu berdasarkan “gagasan” yang dikembangkan bersama, maka muncul ide bahwa lingkarannya FoT perlu dibikin spiral (seandainya proses FoT pertama disebut lingkaran). Maka untuk spiral dibutuhkan lingkaran kedua, yakni membongkar kembali temuan dari lingkaran pertama untuk menentukan “gagasan”, dimana kemudian diarahkan menjadi sebuah produk karya visual.
Aha. Begitu sih ingatan saya juga tentang FoT-mu itu. Makanya, saya berpikir, untuk TAHUN TANAH 2015, akan menarik kalau kamu menguji-coba lebih lanjut metodemu ini. Kamu kira-kira mau mulai dari mana dalam untuk residensimu di TAHUN TANAH 2015-nya JaF ini?
Saya berangkat dengan menelusuri kisah-kisah di seputar pabrik-pabrik genteng tradisional—atau yang lebih dikenal dengan sebutan jebor. Pengamatan ini saya lakukan berbasis percakapan dengan para pekerja, pemilik genteng, dan instansi pemerintah maupun akademik yang pernah meneliti hal yang sama. Sebagai awalan, saya menggunakan temuan-temuan Pak Kadus Ila yang sedang dalam proses pengerjaan Museum Genteng Jatiwangi. Lain halnya dengan Pak Kadus Illa, fokus saya bukan pada genteng atau jebor-nya, tetapi pada para manusia yang berada di dalamnya.
Kata kunci awalmu jadinya ‘perseduluran’, ya? Lalu bagaimana mulainya pengamatanmu ini?
Saya membutuhkan interaksi langsung dengan mereka untuk meminjam mata mereka, untuk mengalami pandangan mereka. Beragam cerita yang saya dengar kemudian saya rangkai menjadi kerangka berpikir saya untuk program dan karya yang akan saya kerjakan di sini. Tadinya saya tidak menentukan tema tertentu (dalam hal ini “perseduluran”), namun setelah beberapa tempat, kepala saya mulai mengarah pada tema tersebut.
Memulai pengamatannya dengan cara datang saja ke pabrik genteng. Misalkan karena obrolan dengan Pak Kadus Ila, kawasan Burujul sudah banyak maka saya coba cari di kawasan lain. Datang begitu saja, berkenalan, lau ngobrol. Kemudian menangkap kata apa yang paling menarik dari suatu obrolan, untuk kemudian selanjutnya dipakai untuk mendatangi lokasi selanjutnya. Ada juga beberapa orang didatangi berdasarkan rekomendasi orang sebelumnya. Para tokoh: orang yang paling sering disebut-sebut. Perkembangan tata cara produksi dan sejarah. Beberapa ada bunga-bunganya juga, misalkan orang yang pernah kerja sebagai TKI dan pabrik garmen, kembali kerja di Jebor. Menemukan kata perseduluran juga setelah bertemu beberapa orang yang ternyata sudah generasi ke2-3 di jebor tersebut. Ternyata anaknya mau ngurus Jebor. Generasi yang sekarang usia 40an kebanyakan keluar kota untuk sekolah, lantas kemudian bekerja di kota-kota tersebut. Namun generasi yang sekarang berusia 30an malah banyak yang kembali ke Jebor.
Perseduluran terlahir akibat lamanya industri ini berserakan di Jatiwangi. Kecamatan ini terkenal sebagai penghasil genteng terbanyak, persebarannya tidak hanya di kota-kota dalam negeri, tapi juga memproduksi pesanan dari luar negeri. Dari data tertulis pembuatan genteng pertama 1905, seseorang menyatakan sejak 1890an.
Sebelum krisis moneter 1997, jumlah Jebor mencapai 600an, jumlah produksi masing-masing bisa 50.000 genteng per-hari. Tidak hanya memasok kebutuhan bangunan perorangan, tetapi juga berbagai bangunan pemerintah. Kini memang tidak segemilang sebelum moneter, jumlahnya menurun menjadi kurang dari 200an, dengan produksi rata-rata 2000-5000 genteng per-hari.
Dari berbagai obrolan, perjeboran memiliki perseduluran yang sangat kuat, secara biologis maupun tidak. Warisan sangat kental. Warisan dari ikatan darah: orang tua, kakek, mertua, mantu, istri dan sebagainya. Warisan dari ikatan non darah: teman, kolega, bos, mandor, pemasok kayu, serta pemasok tanah. Tentu saja warisan ini tangible dan intangible. Seseorang menyatakan pabrik-pabrik genteng adalah industri leluhur, sudah mendarah-daging dan membudaya.
Saya jadi ingat pernah bercakap dengan Pak Didi (pemilik Super Fajar) yang bilang kalau hubungan dia dan jebornya mungkin lebih akrab daripada dengan istrinya. Haha. Bukan karena dia nggak akrab sama istrinya, sih, tapi, dari lanjutan obrolannya, saya jadi tahu bahwa maksudnya adalah dia lebih banyak menghabiskan waktu di jebor dan juga memikirkan jebor daripada bersama istrinya...
Iya, dia kan sebagai pemilik yah jadi sewajarnya paling banyak menghabiskan waktu disana. Tidak ada jam kerja, sore pulang malam balik lagi karena ada pengiriman kayu. Ada beberapa jebor juga yang akhirnya diteruskan sama mandornya, karena mandor lebih sering ada di lokasi. Saya pikir A Didi bilang ini juga bukan soal waktu saja sih, tapi istri-kan harus dirawat, mungkin ini dia pakai untuk mengganti kata “manajemen”. Soalnya pihak pemerintahan maupun akademis, menyalahkan ketakberlangsungan beberapa jebor karena manajemennya bodoh.
Masing-masing jebor bisa mempekerjakan sampai 300an orang (perempuan dan laki-laki), cara melamar kerja juga dari mulut ke mulut. Tidak ada ketetapan pola kerja yang ketat, bebas kapan saja mau bolos karena sakit, hajatan, maupun masa panen dan tanam sawah. Bebas istirahat makan, minum, juga membawa dan merawat anak.
Sebagaimana bebas? Kan tetap pekerja posisinya—kalau nggak mau disebut buruh? Pak Kuwu Tomas (Wawan Setiawan, Burujul Wetan) juga pernah bilang sesuatu yang keren! “Kerja di jebor jelas lebih baik untuk pertumbuhan anak. Sebab, sebagai orang tua, kamu jadi bisa selalu berada di sekitar anakmu. Mengawasi anakmu sendiri. Kalau ada bayi yang menangis di kain gantungnya, siapapun yang melewati kain itu bisa ikut mengayunnya supaya si bayi kembali tidur. Kerja di pabrik garmen yang baru-baru itu, mana bisa begitu...” Mungkin nostalgik atau romantik, tapi, kok, saya senang masih bisa mendengar pendapat seperti itu ya... Saya senang bisa membayangkan sesama manusia, hidup berdampingan, tumbuh bersama...
Sistem kerja jebor memang dilaksanakan berkelompok. Jam kerja ditentukan bersama rekan lain. Misalnya, untuk satu kelompok pencetak dengan target 2000-3000 genteng, mereka mengatur sendiri jam mereka mulai kerja. Katakanlah pukul 7 pagi. Lalu, mereka istirahat untuk makan pagi bersama jam 9, kemudian pada jam 12 siangnya mereka sudah bisa pulang. Apabila target produksinya lebih, mereka kembali bekerja jam 1 siang sampai 4 sore. Ini bukan satu-satunya sistem yang ada. Dan, bukan hanya target produksi yang berpengaruh pada jam kerja. Bisa juga tergantung pada jumlah pekerja.
Mengenai sistem umum untuk langkah kerja pembuatan genteng, kan, kita bisa intip di situs Museum Genteng Jatiwangi. Nah, selain cara itu, ada cara lain yang kamu temukan selama observasi? Ada nggak sih ruang buat maju? Maksud saya ruang bagi si pekerja/buruh buat jadi swadaya atau mandiri gitu?
Dari kegiatan inti sampai kegiatan pendukung semuanya saling terkait. Kegiatan inti adalah olah tanah menjadi halus – cetak – jemur – panggang – kemas. Kegiatan pendukung misalnya pemasok tanah/kayu – pembuat/reparasi mesin cetak – depot/penjual – distribusi/penyebaran. Beberapa pabrik yang rada besar memiliki kontrol untuk semuanya, namun kebanyakan kegiatan pendukung melahirkan beberapa pengusaha mandiri terkait. Dua atau tiga contoh?
Bagaimana hubungan antar manusia dalam jebor? Lalu, hubungan antar satu jebor dengan yang lainnya di Jatiwangi? Ada semacam serikat atau perkumpulan pekerja? Atau asosiasi pengusaha?
Masing-masing Jebor saling mengetahui dengan tidak pasti satu sama lain, tidak ada perkumpulan aktif antar Jebor yang menaungi seluruh Jatiwangi. Tidak ada standar formal yang ditetapkan atas kemampuan atau upah pekerja, material, kualitas produk, maupun harga genteng ketika jadi. Namun secara tidak formal, nyaris satu sama lain saling kenal perseorangan pemiliknya, sehingga standar-standar yang kini berjalan sifatnya juga perseduluran; bisa berubah kapan saja, tergantung pertemuan dari mulut ke mulut.
Semua orang (pemilik maupun pekerja) jebor ini sesungguhnya saling kenal kan ya? Maksud saya, bagaimanapun kan mereka tetangga... Seperti apa hirarki hubungan antara pemilik jebor dan pekerjanya? Apakah ada? Bagaimana manifestasinya?
Pemilik dan pekerja itu memang tidak terikat kontrak resmi apalagi sistem asuransi. Kalau sakit dibantu pengobatannya, kalau nikah turut nyumbang. Bisa hutang kapan saja juga. Atau maksudnya kecelakaan kerja yah? Ada yang pernah kena mesin press, dibayar semua pengobatannya, trus karena dah ga bisa kerja ngepress, dibantu juga untuk buka usaha di rumah berupa toko kelontong.
Hm, kalau soal hirarki, misalnya cerita Jebor Narsa. Itu jebor yang pertama punya mesin press. Dulunya, mesin ini bukan punya Pak Narsa yang dari Cirebon, tapi milik orang Belanda yang kemudian menyerahkan pabriknya karena pada 1940an ia harus kembali ke tanah airnya. Pada saat itu H. Arifin (PG Abadi) bekerja bersama Pak Narsa. Mereka akhirnya berkerabat, berbesanan karena pernikahan dalam keluarga besar mereka.
Saya lupa yang mana saja, tapi masih mudah deh mencari jebor mana saja yang lahir dari Narsa sebagai pionir ini. Ya, orang bekerja disana jadi semacam ajang nyantrik untuk pada akhirnya bikin jebornya sendiri. Hal ini yang sangat kelihatan pengaruhnya pada puncak kesuksesan genteng Jatiwangi yang pertama (60an). Sementara, pada booming genteng kedua (80-90an), PG ABADI adalah sumber inspirasinya. PG ABADI mulai menjelajahi sistem kerja dan alat yang lebih modern, mengembangkan pembakaran, pengepresan, dan lain sebagainya. Seperti pada Narsa, di PG ABADI juga beberapa pekerjanya mulai dari sana. Sekian waktu setelah mereka sudah merasa cukup mampu, kemudian mereka pun memulai usaha pabrik genteng mereka sendiri.
Perkembangannya tadinya di satu desa, Burujul (waktu itu belum dibagi 2 wetan & kulon). Trus ABADI buka di Sukaraja, disana juga banyak Jebor. Nah untuk yang ini gue juga curiga pengaruhnya dari ABADI. Trus jarak antara Jebor satu dan lain yang sebenarnya ga jauh-jauh amat, jadinya kaya tau kisah-kisah tetangganya. Kalau sesama anak ga kenal, juga bisa menyebutkan anak siapa. Seperti kejadian antara Pak Asep-Super Mewah (dahulu Tenang Jaya) dan A’Andry-Megan Karya (dahulu Adi Karya), mereka saling kenal karena tahu nama orang tua masing-masing.
So melihat ini, serta pencarian tanah yang baik (dulu kan sistem jebor dekat dengan sumber bahan baku), maka mereka jadi saling kenal walaupun tempatnya berjauhan. Kebanyakan pernah kerja bareng.
Misalkan kisah Bu Titin, dia anak pengusaha pasir yang meluas jadi usaha tanah genteng. Beberapa tahun dia kerja sebagai pemasok tanah ABADI, trus jadi bikin jebor sendiri. Bu Hj Deden dari pengusaha glasur, jadi buka Jebor juga. Pak H. Subana (Bumi Mas) juga tadinya tangan kanan H. Arifin (ABADI).
Para pekerja, misalkan yang bertugas menjemur genteng, juga biasanya ikut saja si bos kemana. Misalkan pekerja Bu Hj Deden, dia kerja sama bu haji sejak usahanya masih glasur.
Perpindahan kerja ini karena rata-rata mau jadi bos juga, sesuai pernyataan Pak Bana, mau belajar dari “buntut macan jadi kepala tikus”. Atau misalkan pelangsir tanah/kayu mulai bisa ngemodalin, sistem pembelian jadi hutang, tidak mampu bayar hutang lantas Jebornya di sita. Ada juga dari kerja sebagai buruh mesin press jadi mandor.
Dari cerita-cerita yang kamu temukan, ada sejarah keberadaan perkumpulan nggak, sih? Ada yang pernah bikin? Kenapa mereka nggak ada lagi sekarang? Nggak bertahan gitu maksudnya...
Paling awal ada PERKAKEK (perkumpulan karyawan kenteng), trus KOPRIGI (Koprasi Perusahaan Genteng), trus APEGJA (Asosiasi Pengusaha Genteng Jatiwangi). Awalnya ada PERKAKEK ga tau dari mana. Kalau KOPRIGI menurut Bapak Andi Sopandi karena lihat yang di Kebumen, pengusaha disana ada koprasinya. Tapi ini basisnya ekonomi, kebutuhan untuk menyuntik modal dan membantu distribusi genteng. Bukan untuk kebutuhan perkumpulan layaknya labor union. Kalau gue menyimpulkan dari ngobrol-ngobrol itu yah, kebutuhan uang. Panjang urusannya sama pemerintah juga, misalkan ada proyek percobaan apa dari pemerintah dikasihnya harus ke suatu perkumpulan, ga bisa perorangan. Terus jadi muncul isu kalau dananya dipakai sendiri. Kenapa gue bilang isu, karena yang dituduh juga berani memberikan bukti-bukti kemana dana tersebut digunakan. Kalau dipinjamkan ke pengusaha, jadinya juga ga dipake untuk mengembangkan usaha, tapi dipakai untuk beli mobi, bangun rumah. Gue ngeliatnya persoalan komunikasi dan tidak benar-benar ingin berorganisasi.
Tidak ada penggulingan ketua, atau itikad untuk berkumpul. Pak Andi Sopandi, Pak Dadang UNMA, serta Pak Asep INDAG si bilangnya pengusaha sombong-sombong. Kalau gue ngeliatnya bukan sombong-sombong, karena kejayaan masa lalu, beberapa yang bisa bertahan jadinya mati-matian menjalankan bisnis.. sehingga tidak ada urgensi untuk berkumpul. Generasi sekarang cuma denger kalau generasi terdahulu kapok sama perkumpulan. Gimana yah.. jadi sulit kalau sekarang mau kumpul. Tapi Pak Djuanda – Sinar Mas – Sukaraja menyatakan mereka punya perkumpulan insidental, menolak memiliki nama resmi. A’Andry – Megan Karya – Burujul juga bilang mereka sering kumpul juga, tapi lewat pengajian.
Yang paling bener kisah organisasinya buat gue ya perkumpulan insidental di Sukaraja itu, mereka menjaring sampai 40an orang, dengan percakapan tentang manajemen masing-masing jebor. Tidak semata-mata tentang uang, harga genteng. Membahas proses pembuatan genteng dengan kualitas yang oke, merangkul para buruh, isu-isu antar Jebor juga dibahas.
Oke-oke-oke. Udah dulu kali, yah! Sudah 6 halaman, nih! Haha. Nanti kita ngobrol lagi setelah jalan semua sesi pertama FoT-nya yah!












