Keisengan terkadang bisa berbuah keseriusan seperti halnya para personil Rollfast, band psychedelic rock dari pulau dewata ini. Berawal dari keisengan mereka yang ingin membuat sebuah band sekolah pada tahun 2011 lalu ternyata mampu membawa mereka melaju lebih serius hingga seperti sekarang.
Band yang digawangi oleh Agha Praditya (vokal), Arya Triandana (bass), Gungwah Brahmantia (gitar), Bayu Krisna (gitar), dan Ayrton Maurits Willem (drum) ini mengusung genre rock. Dalam bermusik kelima pemuda ini sepertinya enggan memberikan batasan terhadap genre yang mereka bawa. Dalam musikalitas Rollfast lebih ekperimental, hal ini terbukti ketika ditanya perihal musik mereka yang pada dasarnya mengusung konsep rock namun tidak menutup diri oleh unsur-unsur di luar konsep rock.
Menyoal referensi, Black Sabathlah yang menjadi inspirasi mereka disusul beberapa band seperti Led Zeppelin, Pink, Floyd, Jimmy Hendrix, Genesis dan masih banyak lagi. Namun masing-masing personil mempunyai kiblat sendiri dalam bermusik, berangkat dari selera musik yang berbeda-beda Rollfast berhasil menciptakan kuintet rock psychedelic yang layak masuk dalam list band favorit kalian.
Terbentuk sejak tahun 2011 lalu band ini telah mengeluarkan satu Album yang berjudul “Lanes Oil, Dream is Pry” dan dua mini album yang berjudul “Rollfast dan Live at Jizz Jazz Studio”. Tema lirik yang diangkat oleh Rollfast sendiri sarat akan hal-hal yang terjadi di lingkungan mereka, baik itu internal maupun eksternal.
Band ini kerap tampil di perhelatan musik Bali dan nasional, mereka juga sangat vokal menolak reklamasi teluk Benoa. Tidak hanya di pulau sendiri, Rollfast juga mulai dikenal diluar pualu Bali bahkan di luar negeri. Rollfast diberi kesempatan manggung di sebuah perhelatan yang di selenggarakan oleh Tokyo Psych di Jepang pada September 2014 kemarin, dan tidak hanya itu band ini juga sempat bermain di beberapa gigs di Nagoya Jepang. Saat ini Rollfast telah menjadi salah satu band yang cukup disegani di Indonesia karena jam terbang mereka manggung di beberapa event bergengsi nasional dan lokal, yang paling hebatnya mereka juga berhasil meraih penghargaan sebagai ‘Best Metal Performance’ pada Hammersonic Awards 2017 mengalahkan band-band besar Indonesia yang juga masuk nominasi seperti Burgerkill, Deadsquad, Rollfast, Jasad, hingga Seringai.
Ditanya perihal rencana Rollfast ke depan mereka sepertinya masih merahasiakan gebrakan terbarunya. Tapi apapun yang terjadi kedepannya semoga kalian tetap kompak dan teruslah berputar seperti roda Rollfast!
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Perang konten audio-visual antar musisi sedang memuncak dengan target korban sebanyak–banyaknya. Di berbagai platform, keriuhan estetika dijejalkan tanpa hentinya mengingat ketatnya persaingan. Oktober 2017, Bias merilis sebuah EP yang bertajuk “Basabasi“ yang menjadi deklarasi untuk ikut dalam riuhnya skena musik indie di Yogyakarta. Disusul dengan dirilisnya beberapa demo track dan Live Studio Session.
“Lulabi” melagukan rasa frustasi seseorang yang merindukan lelap dan tenangnya tidur malam ditengah hiruk pikuknya keseharian yang menyesakkan. “Overdosis Visual” secara perlahan menjabarkan potensi destruktif dan semu-nya kehidupan dunia maya yang sudah dan akan tetap menjadi epidemik jika manusia kerap mengabaikan perspektif yang sehat. “Selir Pemberontak” mengeluh, mengadu, merindukan kesetaraan dan perlakuan manusiawi yang seharusnya didapatkan oleh para korban kekerasan seksual yang akhirnya berteriak, memberontak, dan melawan. 3 lagu tersebut merupakan demo tracks yang sudah dirilis lewat platform Bandcamp dan dapat didengar secara gratis.
Dokumentasi oleh Bangkai Kota / Syahdad Rodes dkk
“Koboi“ dan “24 Karat“ merupakan 2 dari 6 track dalam EP Basabasi yang diangkat menjadi Live Studio Session. Bertempat di Jogja Audio School, sesi ini bertujuan untuk merepresentasikan kesesatan, keragaman, dan dinamika audio dari Bias dan dikemas dengan visual yang frontal, sinematik, dengan permainan warna yang nakal. “Koboi” terinspirasi dari film The Unforgiven (1992) yang diarahkan dan diperankan oleh Clint Eastwood. “24 Karat” menjadi wujud kekesalan dan kebosanan terhadap siaran televisi yang penuh dengan sajian kriminal khususnya korupsi, konten jualan birahi, jualan drama, yang seolah tidak sadar bahwa mereka bertanggung jawab atas bobroknya moral penonton.
Untuk mendengarkan EP Basabasi dan beberapa demo track, bisa diakses secara gratis di biasbasabasi.bandcamp.com/, kunjungi kanal Youtube Bias untuk akses Live Studio Session dan Music Videos www.youtube.com/channel/UCNC338BDdfhpxjF4uEuCuHg.
Setelah merilis full album pada tahun 2010 berjudul Me Vs Space Army yang terjual sebanyak 3000 copy di seluruh Indonesia. Lama tertidur pulas, dan di sibukkan oleh rumitnya kehidupan orang dewasa. King Of Panda akhirnya mengeluarkan album berjudul BACK IN THE GAME.
Kenapa dinamakan Back In The Game?
Karena, King Of Panda ingin menyatakan bahwa titik kembalinya Kinopan (sebutan King Of Panda) di mulai pada album ini. Judul album ini diambil dari salah satu lagu yang ada di album kedua King Of Panda, menceritakan bagaimana situasi dan perjalanan King Of Panda sendiri selama hibernasi dan akhirnya memutuskan untuk kembali berkarya. Pada perilisan album ini King Of Panda sekaligus mengenalkan single berjudul Setara Pelangi. Setara Pelangi menceritakan tentang narasi lanjutan di lagu Stereo yang merupakan single dari album pertama King Of Panda.
Artwork Album KING OF PANDA “Back in the Game”
Songlist “Back In The Game” album
1. Back In The Game
2. Desember
3. Never Ending Summer
4. Setara Pelangi
5. Friends With Benefits
6. Kelana
7. Youth Of Today
8. I’m Not Good At Goodbyes
9. Setara Pelangi (acoustic version)
Album Back In The Game berisikan 9 track yang seluruhnya dikerjakan oleh para personil King Of Panda yang terdiri dari Choqy Satria (Guitar, Vocal), Wahyu Indira (Guitar, Vocal), Wiwin Wijanar (Bass, Vocal), dan Gungde Yudistira (Drum). Lirik di album ini banyak menceritakan kehidupan sehari-hari, mulai dari lagu yang menggambarkan kebanggan para personil yang hidup di Bali sampai lagu blak-blakan untuk generasi muda kita yang di landa ketergantungan pada media digital, sempit nya kebebasan berpendapat dan sifat tak acuh dengan situasi di sekitar mereka. Dari Segi musikalitas dan lirik kami memang mengalami pendewasaan dari album sebelumnya namun tidak meninggalkan ciri khas King Of Panda
Seluruh lagu di album Back In The Game direkam di Rockness Recording Studio dan dimixing dan mastering oleh Teguh Nerakusuma.
Info:
Twitter/Instagram @kingofpanda
Facebook Page : King Of Panda
Youtube Page : King Of Panda
Dimas Panji Adhi K (081252078889)
Ed Riman a.k.a Hilang Child yang merupakan musisi dan penulis lagu berdarah Wales-Indonesia yang lahir dan besar di selatan London, Inggris. Karya-karya yang dia hasilkan berhasil mendapat cukup banyak penghargaan dan telah melakukan tur di beberapa tempat di London, Britania Raya, hingga di beberapa tempat di seluruh dunia. Ed Riman telah merilis single berjudul ‘Growing Things’ yang dirilis oleh label asal London dan sudah bisa didengar pada digital stores.
Disela-sela kesibukan saat perform pada festival SXSW yang diadakan di Austin, Texas bulan Maret kemarin, Ed Riman menyempatkan diri untuk menjawab interview dari Music for Brighter Day;
Photo Doc. Hilang Child
Hello Ed Riman, How are you ?
Baik!
First of all I just wanna say; Your Songs is Awesome!
Thank you!! Terima kasih banyak.
Let's talk about what just happened, what about SXSW? Can you tell me about your experience at the music showcase?
SXSW was intense, but a lot of fun. Downtown Austin is transformed into a huge party, lots of crowds and noise. I played 2 shows which were both really enjoyable, this was the first time I’ve played in the USA so it was crazy that people actually came down. Actually at both shows there were also Indonesians in the audience - at my first show I met the manager and keyboardist from Efek Rumah Kaca, who were also playing at SXSW. And after my second show I met a group of Indonesians who live in Austin, they had heard I was half-Indonesian so came to check out my show and brought me gifts, which was so sweet!
How does America accept your music?
So far pretty well it seems! I often get really kind messages from fans in America, or people asking when I’ll be touring properly over there. Hopefully I’ll be able to play there again soon.
Honestly, I still do not know much about you and your music. I just accidentally listened to your music. Can you tell me a bit, your journey in music until now?
I started out as a drummer, playing in a few bands and doing some touring as a session musician, but was always writing a bit on the side and eventually realised I could sing too. So a few years ago I began recording and releasing stuff online, initially for free, then released a couple of EPs with some London indie labels. Then earlier this year I signed to Bella Union to release my debut album, which will be out this summer. I’ve also been doing some touring with Lost Horizons over the past year, singing and playing mellotron in their live shows and I co-wrote a couple of songs on their album.
Your music sounds very easy-listening with a very strong indie pop sounds, can you tell me about your music?
I’ve never really tried to put a certain style to my music, I think my sound has come from a natural meeting point of all the elements I enjoy in other music. I’ve always been really into music that creates the feeling of space, and sounds & textures which you can’t really tell what they are. And I get a buzz inside when I hear really beautiful harmonies and interesting melodies, so when I write I try to include these kind of things which hit me in other peoples’ music. I write and record most of it at home, though I go into studios to record louder things like drums.
What inspires you to make music?
I have always had the urge to ‘create’ and music is how I satisfy that urge, whether it’s writing or playing with others. I don’t really remember when I decided it was what I wanted to do, but it’s the only thing I know how to at the moment!
'Hilang Child' why did you choose that as a stage name?
When I first started releasing my own music, all my friends and fellow musicians still knew me only as a drummer. I was really nervous about them hearing my singing voice for the first time, so I didn’t use my own name because I didn’t want them to find out I was singing! There’s no deep meaning to the name but I wanted to use an Indonesian word and an English word, to represent my half-Indonesian, half-British background and somehow arrived at ‘Hilang Child’. A halfway point between ‘missing child’ in English and its Indonesian translation ‘anak hilang’. Using a word from each language doesn’t really make sense and I quite like that!
I am curious about your relationship with Indonesia, can you tell me about it?
Yes, my dad is Indonesian and I have family from all over Indonesia; in Bandung, Cianjur, Jakarta, Yogya and more, as well as more distant relatives in Padang and elsewhere... we try to visit every few years and I speak a little bit of bahasa Indonesia. The last time I visited was during the 50th anniversary of Indonesian independence, there were parades and music all over Jakarta, it was amazing! I’m hoping to visit again soon, my brother Harley is going to Yogya in a couple of months so I really want to join if I can, it depends if I get time.
What's your back story? where are you from and how do you grow up?
I was born and raised in South London, UK, and have almost always lived here, other than a short time in Leeds in the north of England. My dad is Indonesian as mentioned but my mother is Welsh, so growing up I also spent a lot of summers in Wales with my grandparents, I always really appreciated being able to get out of the city when I could.
Do you want to perform and introduce your music in Indonesia?
Yes!!! I would love to come and perform in Indonesia, it’s certainly one of my dreams to. My friends and family out there often ask me when it’s going to happen, I really hope it’ll become a reality some time soon. Even though I’ve never lived in Indonesia, every time I visit I get that feeling inside like I’ve returned ‘home’, so I think it’d be really special to finally do a show there.
What do you do besides music on your free time?
I usually try to get out of the city whenever I can, I need space away from the claustrophobia of London as much as possible. If I can’t do that, it’s often just gaming, or rock climbing.
Okay Ed, last question. Where next you will play? and what's your future plans?
My next show is a small one in London, then I’m playing some shows with Lost Horizons in Italy, UK and Ireland. Then playing at some UK festivals in the summer which should be fun. As for future plans, the album comes out in August so we’ll see what happens - I am starting to write my second album too, so hopefully I’ll have plenty to share this year and next.
A U R E O L E Album : Selamat Datang di Semesta Wake Up Iris !
Photo By Pratama TD @pratama_td
Akhirnya, projek musik dari Malang, Wake Up Iris ! meluncurkan album debut mereka A U R E O L E pada tanggal 24 Januari 2018, tepat tiga tahun sejak panggung perdana mereka.
Perjalanan Wake Up Iris ! diawali pada tahun 2015 dan telah merilis 2 buah lagu dengan format berbeda. Rain’s Tale dalam live forest session yang diunggah dan dirilis Januari 2017 dan Metanoia di Spotify pada bulan April 2017. Selain itu, Wake Up Iris! juga sempat melakukan Prelude showcase tour untuk memperkenalkan diri kepada pendengar pada bulan April 2017 di Jakarta dan Bandung. Sejak saat itu, proses pembuatan album A U R E O L E resmi dimulai.
Photo by Varian Tyan @variantyan
A U R E O L E adalah sebuah medium pengenalan diri Wake Up Iris ! secara lebih utuh daripada sebelumnya. Bercerita mengenai semangat yang menggebu untuk memulai kebaikan dari diri sendiri, rasa geram terhadap kemanusiaan yang terombang-ambing hari ini, perasaan rindu untuk berkelana dan menemukan rumah diantara perjalanan-perjalanan yang ditempuh. A U R E O L E adalah sebuah pintu gerbang memasuki semesta Wake Up Iris ! dan perjalanan musik mereka kedepannya.
Inspirasi pengerjaan album ini, banyak mereka dapatkan secara empiris saat travelling, bertemu dengan orang-orang baru dan kisah kisah baru, serta ketika mereka mengasingkan diri di bukit-bukit yang mereka hampiri. Salah satu lagunya pun terinspirasi perjalanan mereka ke pegunungan di Gowa, Makassar tahun 2017 silam.
Dalam proses pengerjaan album ini, Wake Up Iris berusaha untuk menemukan sound design yang cocok untuk memunculkan karakter musik mereka di Indonesia. Dalam album ini, kita akan mendengar semangat, harapan dan rasa percaya diri yang dibungkus dengan nuansa yang cenderung raw dan natural, apa adanya.
Ilustrasi Artwork album ini dikerjakan oleh kongsi rupa Macan Unggulan dengan tema mikrokosmos dan makrokosmos yang dirangkum dalam lagu-lagu Wake Up Iris ! yang terdapat dalam album ini.
Artwork Album ‘A U R E O L E’ Wake Up Iris !
Wake Up Iris ! adalah projek musik dan perwujudan mimpi dari Bie Paksi dan Vania Marisca. Dengan alat musik minimalis yaitu Gitar Nilon, Biola, Kickdrum dan Tamborin, Wake Up Iris ! ingin memberikan nuansa yang berbeda. Menembus ketidakmungkinan dan berani menjadi diri sendiri adalah semangat yang ingin mereka sampaikan kepada pendengar melalui karya-karya mereka.
Rencananya, tur album akan diadakan sekitar bulan April-Mei di beberapa kota di Indonesia dan Asia untuk memperkenalkan debut album A U R E O L E ini. Album ini menjadi tanda siapnya Wake Up Iris ! untuk mewarnai kancah musik Indonesia dengan warna-warni musik yang mereka bawakan.
###
for more information, promo requests or to set up an interview, please contact +62 8133 630 4747
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch • No registration required • HD streaming
Datang dari Utara pulau Sumatera, grup yang menyebut ‘Sensasi Pop’ sebagai genre yang mereka usung ini berhasil menjadi salah salah satu band yang cukup disegani di Medan, kota dimana mereka terbentuk sejak pertengahan Oktober tahun 2014 silam.
Band yang awal terbentuk dari inisiasi sang penggebuk drum Doli yang berhasil mengumpulkan teman-temannya yang memiliki visi bermusik sama. Nama Kemedja Poetih akhirnya mereka pilih sebagai nama band mereka hingga sekarang. Nama ini diambil menyesuaikan dengan filosofi kemeja yang memberi kesan rapi dan warna putih yang bermakna lembut seperti genre yang mereka usung. Formasi Kemedja Poetih hinggi kini adalah Fakhri Apriansyah pada vokal, Juniardin Simbolon sebagai gitaris utama, Muhammad Chairunas pada Bass, dan Doli Andriansyah Nasution pada drum.
Photo doc. Kemedja Poetih
Band yang secara musikal terdengar oldskul dan juga dengan lirik-lirik romantis ala 60-80an ini sudah cukup dikenal di skena musik indie Medan, hal ini telah mereka buktikan dengan tampil pada berbagai gigs skala kecil hingga skala nasional. Mereka di tahun 2017 kemarin juga telah menyelesaikan tur ke Bali pada gelaran Music for Brighter Day yang diadakan 18 hingga 20 Agustus 2017 bertempat di Sol House Legian dan Gimme Shelter Canggu.
Selain perform di bergagai gelaran musik, pada gelaran Record Store Day 15 April 2015 silam mereka juga telah mengeluarkan rilisan fisik yang berhasil dirilis berkat kerjasama antara Don’t Fade Away Records (Medan) dan Nanaba Records (Jakarta). Rilisan ini berisi 2 singel andalan mereka yang berjudul ‘Resah Menderu’ dan ‘Samudera Rindu’. Hal yang menarik dari rilisan merkea ini selain kerjasama 2 label antar pulau, juga adanya kolaborasi antar pulau mereka dengan 7 ilustrator yang menjadi cover rilisan mereka yang dibuat dalam format kaset ini.
Artwork Rlisan Kaset Kemedja Poetih
Pada bulan Juli tahun 2017 silam mereka juga ikut serta dalam album kompilasi Music for Brighter Day edisi ke-8 bersama puluhan band dari beberapa kota besar di Indonesia dan juga berbagai band dari 4 belahan benua berbeda. Track ‘Resah Menderu’ mereka pilih untuk ikut serta dan masuk dalam album kompilasi Music for Brighter Day 8.1 yang rilis ke seluruh dunia di puluhan digital stores pada 9 Juli 2017 silam.
Band ini banyak terinspirasi dari musik era 60an hingga 90an seperti Frank Sinatra, Bob Dylan, The Cardigans, The Bee Gees serta beberapa musisi lokal seperti Fariz RM, Chrisye, Bing Slamet, Vina Panduwinata, dan Utha Likumahua. Melalui influence musisi tersebut Kemedja Poetih meracik musik mereka menjadi sebuah ciri khas tersendiri yang mereka sebut sensasi pop.
Saat ini Kemedja Poetih sedang mengatur jadwal pada manggung mereka dengan terus berkarya dan memberi warna untuk skena musik indie Medan dan pastinya untuk musik Indonesia dan terus berusaha memperkenalkan karya mereka ke banyak orang.
JUNO AND HANNA : Good Vibes and Story of Juno and Hanna
Photo doc. Juno and Hanna
Pada tahun 2013 duo bersaudara Saiful (1988) dan Hanna (1997), memutuskan untuk membentuk sebuah band bernama Juno and Hanna. Lahir dan dibesarkan di Johor Bahru, Malaysia. Mereka menyatukan kepribadian unik mereka untuk menciptakan music, dimana Hanif kebanyakan menangani produksi ketukan dan konstruksi musik sementara Hanna menciptakan melodi dan menulis lirik berdasarkan pengalaman dan perspektif mereka tentang perasaan yang dirasakan oleh sebagian besar orang.
Juno and Hanna telah merilis debut EP “AIR” pada tahun 2015 yang berisikan 6 lagu, dan mereka telah perform di berbagai musik festival besar seperti Baybeats Festival Singapura, Goodvibes Music Festival 2016, Fred Perry Subculture Live and Record Store Day, Yayasan Sime Darby arts festival, Urbanscapes 2017. Mereka juga telah menjadi band pembuka untuk band internasional seperti Postiljonen (Swedia), Bottle Smoker (Indonesia), The Tress and The Wild (Indonesia), Arms and Sleepers (USA) dan Cigarettes After Sex (USA). Mereka juga telah ditampilkan di 8tv quickie, added to Lush 99.5 radio Singapore’s playlist, The Wknd live sessions, Juice magazine Malaysia, Bfm radio station, Nylon Mag Indonesia, Redbull Soundseekers, Popspoken Singapore, Itunes dan interview for VbuzzHD.
Melihat pencapaian Juno and Hanna di skena musik Malaysia. Music for Brighter Day menginterview dan memilih mereka sebagai salah satu ‘featured band’ minggu ini.
Photo doc. Juno and Hanna
Halo Juno and Hanna apa kabar?
Hey guys! Khabar baik. We hope you guys are doing well as well.
Okay First, can you explain in general about Juno and Hanna?
Generally, Juno and Hanna is a synth pop siblings duo that started in 2015 from Johor Bahru, Malaysia and we love making music!
Juno and Hanna is a duo sibling group. It seems to be easier for both of you to make music together. Can you guys tell me the process of you two making music?
Yes honestly speaking we feel very comfortable with each other. Despite sometimes the media would crave some stories of us bickering and so forth, we wouldn’t categorize our exchange of thoughts as arguments it would be merely a discussion and a lot of sarcasm haha. Normally Juno would produce the beats and Hanna would continue with the melodies and lyric writing. If so happens Hanna came up with the basic beats and melodies, Juno would complete it by adding necessary adjustments. But for finalizing and mastering it is Juno who does it. I might say we do complete each other’s weaknesses, although it is not to say that we are enough, expanding do cross our minds.
Really good story from you guys. I have heard your debut album "Air", very impressive! Can you tell me the story of making this album?
Thank you for enjoying and listening to our debut EP. We did not expect this kind of reaction. The album consists of carefully selected songs from an abundant of songs that we have been writing since before Juno and Hanna. Our concept of writing is that we observe and confer from our surroundings and things that happen to ourselves or around us. And during that time, we were more influenced by heartbreak and unrequited love. As cliché as it might sound, that was the thing that circulated around our lives. Personally to me (hanna), I prefer to write about the small things that people tend to ignore as it will pass with time but I think that makes it unknown and undeveloped as a feeling. We should be aware of what we feel and know how to handle not ignore it. Hopefully, the next EP would show our maturity in thoughts.
Favorite songs from the album "Air" ?
Mine (hanna) would be ‘Best Never Had’ and for Juno would be ‘Intro’. Special to us would be ‘Air’
How would you calssify your music?
We’ve had troubles classifying our music but nonetheless it needs to be answered haha, closest would be dream pop.
Haha its Okay, next Who Are Juno and Hanna Biggest Influences? And whats your Favorite bands ?
Our biggest influences are Blonde Redhead, Sade, M83, London Grammar, Rhye and lots more but actually we don’t really depend on specific artist but we listen to specific songs from different artists. Our favourite bands are similar to our influences adding Mew, Blood Orange, etc...
The most impressive thing as long as you two formed this band, can you tell me?
There’s alot of impressive things we’ve experienced, to mention all would be alot. Some notable ones are Goodvibes, Baybeats. To us the most impressive is the people reacting to our music, the reaction is what drives us to improve.
The indie music scene movement in Malaysia from my observations is quite massive. How do you see the movement of indie music scene in Malaysia today?
We would say that generally all over the world indie music is slowly accepted of the younger generations but i might say the support for gigs have gone a bit down as to what it used to be. Nonetheless, quality musicians are popping up daily as technology is at the tip of our fingers.
Looking at your Instagram account post, it looks like Juno and Hanna is quite busy with the gig schedule. Is there a recent project that you run now?
Yes thankfully we are quite preoccupied in terms of gigs, however we did slow down alot due to the process of writing the new EP and for our personal matters as well. Since Hanna is a fulltime student, she does not really have any free time. Balancing is one thing but to dedicate to either fully is another matter. But basically, we are pressing hard on the new EP to be released next year. We have met up with a few talents to feature in our upcoming music videos.
Yes, hope your next EP & Upcoming Video work goes well and releases successfully. Last question. What is Juno and Hanna's dream that you guys really want to achieve in the future?
A long dream of ours is to be able to tour overseas, that has been our goal ever since. Although, now it does seem in reach hopefully, so that would be next in our bucket list. To begin with we never really expected people’s reaction to be this positive so our main goal is to always make quality music that people can be proud of and ponder upon it as well. We hope it influences the young minds to interpret it in their own way according to their contexts. Thank you so much for this interview, we are very honoured. Hopefully we will get to meet you guys in person.
You’re welcome Juno and Hanna. Hopefully all of your future plans can go well, and your music can reach more people. We are waiting for Juno and Hanna to be able to perform in Indonesia someday.
Kali pertama mendengar Kapal Udara di tahun 2015, musiknya yang menghentak dan riang, telah berhasil mengantar saya dengan selamat dan bahagia menuju sebuah suasana yang asing namun terasa dekat. Saya tidak ingat persis lagunya, namun tabuhan cajon, petikan gitar Ale yang bergairah, dan suara berat Ayat membawa saya menemui sebuah tempat di mana yang tumbuh hanya suka cita—lalu saya melihat pesta panen di sawah-sawah; menemukan pesta penyambutan nelayan setelah mengarungi lautan berminggu-minggu; menjumpai orang-orang menggelar acara bakar ikan di kolong rumah; bertemu tarian-tarian penggugah semangat di ujung malam. Kesan itu begitu melekat. Dan sejak saat itu, di ruang dengar saya, Kapal Udara telah berhasil lepas landas.
Pertemuan dengan Kapal Udara yang meninggalkan kesan menawan, tidak coba saya sisipi dengan harapan: bisa mendengarkan mereka dua atau tiga tahun kemudian. Mereka muncul dengan labelitas musisi kampus yang sejauh ingatan saya tidak akan bisa bertahan. Mereka suka berkarya, mereka suka menghibur, mereka suka bermusik, mereka beraktivitas seni, tapi semua itu hanya sebatas pelengkap dirinya sebagai mahasiswa. Muncul di kegaiatan-kegiatan kampus, lalu mereka akan raib setelah status mahasiswanya tidak lagi bergelora.
Apalagi seni dalam hal ini musik, setahuku tidak pernah diandalkan untuk bisa menjadi industri besar di kota ini (Makassar). Terlebih bagi pekerja seni kampus, menurut saya ceritanya selalu sama: dunia di luar kampus yang gempita, mereka benturkan keras dengan idealisme yang kadang kekanak-kanakan. Sehingga karya mereka yang ciamik harus berhenti karena persoalan yang dihadapi terlalu “dihitam-putihkan”. Sangat disayangkan.
Sementara itu, skena musik Makassar sejak awal 2012 mulai menampakkan kerja kerasnya. Panggung-panggung tergelar di hampir tiap pekan. Genre musik pun tidak lagi melulu punk, rock atau pop. Balada, pop alternative, grunge, shoegaze, dan folk mulai menemukan pendengarnya. Musisi-musisi baru berdatangan, dan mereka yang lama pun tidak berhenti berkarya. Kemajuan tersebut tidak lain karena atmosfir geliat industri kreatif yang sedang hangat-hangatnya serta adanya respon yang positif dari masyarakat. Dan hal yang memukau adalah, ide-ide dan kerja-kerja kolaboratif semakin menggelinding dalam membangun proses berkesenian yang sesungguhnya.
Lalu kemudian, panggung yang tersedia banyak di kota ini, ternyata tidak berhenti mempertemukan saya dengan Kapal Udara. Kepesimisan yang awalnya saya bangun berganti harapan-harapan kecil pada mereka. Mereka bertahan dan itu bukan pendirian yang mudah. Mereka menemukan pendengar, dan mereka menghargai setiap panggung dengan totalitas. Lalu, single “Melaut” singgah di ruang dengar saya. Kata-katanya minim, serupa puisi-puisi pendek, diksinya mudah dikenali, dan gampang dimengerti. Lalu, benih-benih harapan tadi tumbuh besar untuk mereka sejak itu. Saya yakin, Kapal Udara akan mengantarkan banyak cerita pada pendengarnya. Penampilan mereka selalu sama membahagiakannya sejak kali pertama. Meski wajah personilnya bergonta-ganti, hentakan iramanya tidak bisa menahanmu larut lalu sama-sama menari.
Ayat, Ale, Bobby dan Dadang resmi menahkodai Kapal Udara sejak Februari 2016. Yang menarik, mereka sama-sama bertemu dan belajar di FISIP UNHAS. Bobby jurusan Sosiologi dan ketiga lainnya di jurusan Antropologi. Latar belakang pendidikan keempat personil Kapal Udara tersebut sangat lekat dengan masyarakat. Mereka mengkaji, melihat, meneliti, terjun langsung dan memiliki materi yang kaya untuk dipadatkan menjadi lagu. Tidak mudah memang, tapi dalam lagu “Melaut” mereka berhasil mewajahkan nelayan dengan sangat cantik.
Photo by Muh. Zulfikar
Di penghujung 2015, kabar bahwa Kapal Udara serius menggarap karya mereka untuk kemudian dijadikan mini album, adalah kabar baik di tengah tingginya apresiasi terhadap karya musisi Makassar . Sayangnya semangat itu mencapai puncaknya setelah karya berhasil ditelurkan dalam bentuk album CD atau EP. Persoalan launching, publikasi, marketing, branding tidak dikerjakan dengan detil hingga tuntas. Sehingga, euforianya terhenti sesaat setelah lagu-lagunya di kemas ke dalam cakram. Kabar baik perihal Kapal Udara mengendap berbulan-bulan, tapi proses berkarya mereka tidak berhenti. “Menari”, mulai mereka release di panggung. Liriknya minim dan padat. Menari saya dengarkan sebagai seruan atas hak manusia untuk kerja keras mereka. Semua orang berhak untuk merayakan capaian-capaian kecil dan besar dalam hidup mereka.
***
Beberapa bulan lalu, Kapal Udara memasuki tahap persiapan pembuatan EP nya. Saya mendengar keseluruhan karyanya. “Menanam”, “Menyambut”, dan “Merantau” melengkapi dua lagu sebelumnya. Kelima lagu tersebut memiliki benang merah yang kentara. Kapal Udara menegaskan seruan agar kita kembali pada muasal. Mereka menerjemahkan nilai-nilai lokalitas yang sejatinya lestari. Pun tanpa menegasikan sektor-sektor dalam struktur masyarakat kita.
“Menanam dan “Melaut”, adalah hal yang tidak boleh ditanggalkan. Pada petani dan nelayan: hasil tanah dan hasil laut, harusnya cukup menghidupkan. Tidak perlu berganti semen seperti di Kendeng, bertikai dan berbuah darah dan luka serupa di Takalar, atau berganti gedung seperti di Losari. “Merantau” adalah pilihan, bahwa hidup adalah gerak maju. Hijrah adalah menemukan kemungkinan-kemungkinan, tapi sepatutnyalah kita tetap pulang. “Menyambut” mengurai sejarah bagaimana kita besar sebagai manusia yang permisif, yang senang mappangngiyye dan kadang lupa betapa berharganya diri kita. Keseluruhan lagu dalam EP ini memang tak henti berseru, seperti tajuknya “Seru dari Hulu”.
Proses kreativitas tim Kapal Udara menurut saya, pun dijalani dengan sehat. Mereka mengajak banyak orang untuk terlibat dalam EP ini. Mulai dari art work yang dikerjakan oleh seniman handal Gunawan Adi (Benang Baja), yang menginterpretasi lima lagu tersebut. Tidak berhenti di situ, Kapal Udara juga mengajak penulis, peneliti, mahasiswa, untuk menerjemahkan setiap lagu mereka dalam narasi yang lebih panjang serta paparan data yang lebih real terkait lagu-lagu tersebut. Kemudian tulisan tersebut dikemas ke dalam bentuk zine dan dibagikan secara gratis.
EP Kapal Udara ini adalah proyek bersama, proyek kolaborasi yang tidak boleh berhenti di sini. Walau membutuhkan waktu yang tidak cepat, dan proses yang berat—karena benturan konsep dan berbagai ide—tapi pada akhirnya karya yang dihasilkan, menciptakan iklim yang sehat untuk skena Makassar.
Oktober 2017, Kapal Udara secara resmi lepas landas. Segala kerja keras, waktu, tenaga, materi dan ide yang terkuras mungkin tidak akan terbayar lunas apalagi dalam hitungan rupiah (sekali lagi, industri musik Makassar, bagi pasar tidak semenarik kuliner atau fashion). Walau berjalan lambat, namun orang-orang seperti kalian yang mengapresiasi karya ini, akan memastikan skena dan industri musik kota ini akan terus bergerak.
Baca zine nya, perhatikan artworknya dan dengarkan lagunya! Setelah lepas landas, Kapal Udara akan melaut pun mengudara. Tidak perlu mencari jalan aman, jalan mudah, jalan cepat, atau jalan lurus. Tapi, yang berliku, terjal, melelahkan, berbatu, menegangkan adalah perjalanan yang sesungguhnya. Dan selanjutnya, biarkanlah nada dan suara itu terus berseru dari hulu.