Rudito (and) Famiola in Business Ethics
moralitas dapat diartikan sebagai pedoman yang dipakai oleh individu atau kelompok untuk memberi penilaian tentang tingkah laku sebagai sesuatu yang baik atau tidak baik, benar atau salah (Rudito dan Famiola, 2007: 32) (morality can be interpreted as guidelines used by individuals or groups to give an assessment of the behavior as something that is good or bad, right or wrong (Rudito and Famiola , 2007:32)) terdapat tiga alasan mengapa orang memilih tindakan-tindakan tidak etis, yaitu: - Orang akan berbuat apa yang Ia rasakan paling leluasa untuk dibuat Ketika orang dihadapkan pada dilema etika, di sana Ia terkadang akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak diinginkan atau yang tidak menyenangkan menyangkut suatu prinsip atau praktek moral. Apa yang akan kita buat dalam situasi-situasi seperti itu? Apakah kita melakukan hal yang mudah atau hal yang benar? - Orang akan berbuat demi suatu kemenangan Semua orang di dunia ini sangat benci kekalahan. Apalagi para pebisnis, pasti akan selalu ingin menang lewat prestasi dan kemudian meraih sukses karenanya. Tetapi banyak yang menganggap bahwa mereka harus memilih antara sikap etis dengan menang. Untuk dapat memenangkan suatu proyek atau bisnis, orang bisa saja menghalalkan segala cara. Banyak orang yang percaya bahwa merangkul etika akan membatasi pilihan-pilihan mereka dan peluang-peluang mereka untuk sukses dalam bisnis. - Orang selalu mencoba merasionalisasikan pilihan-pilihannya dengan relativisme Banyak orang menghadapi situasi-situasi yang tidak bisa menang dengan memutuskan apa yang benar saat ini, menurut keadaan mereka. Wujud etika tidak lain berasal dari tingkah laku kita sendiri. Etis atau tidak etisnya aktivitas bisnis akan tercermin dari tingkah laku para pelaku bisnis itu sendiri, karena bisnis dijalankan oleh manusia. Sehingga membenahi bisnis kita untuk lebih beretika berarti membenahi dulu diri kita sendiri sebagai pelaku bisnis itu sendiri. Maxwell dalam Rudito dan Famiola (2007: 45-48) (There are three reasons why people choose unethical actions, namely: - People will do what he feels most free to be made When people are faced with ethical dilemmas, where he would sometimes faced with choices of unwanted or unpleasant about a moral principle or practice. What will we make in situations like that? Do we do the easy thing or the right thing? - People will do for the sake of a victory Everyone in this world really hate losing. Moreover, the businessmen, will always want to win through achievement and success because of it. But many who consider that they have to choose between ethical attitude to win. To be able to win a project or business, one might justify the means. Many people believe that embracing ethics would limit their choices and their chances for success in business. - People are always trying to rationalize his choices with relativism Many people face situations that can not be won by deciding what is true today, according to their circumstances. Another form of ethics is not derived from our own behavior. Ethical or not ethical business activity will be reflected from the behavior of the business itself, because the business is run by humans. So to fix our business to more ethical means to fix ourselves first as a business itself. Maxwell in Rudito and Famiola (2007: 45-48)) dari sekian banyak faktor etika yang telah dipertanyakan kepada para pemimpin perusahaan, kejujuran adalah tiang utamanya. Jujur dapat diartikan dengan dapat dipercaya (integritas). Rudito dan Famiola (2007:66) (of the many factors that have questionable ethics to corporate leaders, honesty is the main mast. Honesty can be interpreted by trust (integrity). Rudito and Famiola (2007:66)) integritas dan tingkah laku yang berkenaan dengan etika harus menjadi landasan dalam hidup personal dan profesional. Tocqueville (1831) dalam Rudito dan Famiola (2007:66) (integrity and behavior with regard to ethics should be the foundation of personal and professional life. Tocqueville (1831) in Rudito and Famiola (2007:66)) beberapa faktor yang mempengaruhi bagaimana menjadi bisnis terpercaya dan beretika, yaitu kepemimpinan, strategi dan performasi, budaya perusahaan, dan karakter individual. Steiner (2006) dalam Rudito dan Famiola (2007:67) (several factors that affect how a reliable and ethical business, namely leadership, strategy and performasi, corporate culture, and individual character. Steiner (2006) in Rudito and Famiola (2007:67)) Budaya perusahaan adalah suatu kumpulan nilai-nilai, norma-norma, ritual dan pola tingkah laku yang menjadi karakteristik suatu perusahaan. Setiap budaya perusahaan akan memiliki dimensi etika yang didorong tidak hanya oleh kebijakan-kebijakan formal perusahaan, tapi juga karena kebiasaan-kebiasaan sehari-hari yang berkembang dalam organisasi perusahaan tersebut, sehingga kemudian dipercaya sebagai suatu perilaku, yang bisa ditandai mana perilaku yang pantas dan mana yang tidak pantas. Budaya-budaya perusahaan membantu terbentuknya nilai dan moral di tempat kerja, juga moral yang dipakai untuk melayani para stakeholder-nya. Aturan-aturan dalam perusahaan dapat dijadikan salah satu cara untuk membangun budaya perusahaan yang baik. Hal ini juga sangat terkait dengan visi dan misi perusahaan. (Rudito dan Famiola, 2007:71) (Corporate culture is a set of values, norms, rituals and patterns of behavior that characterize a company. Every culture will have an ethical dimension that is driven not only by formal company policies, but also because of the habits that develop daily in the company organization, so then believed to be a behavior, which can be marked where appropriate conduct and where inappropriate. Corporate cultures helped the formation of values โโand morals in the workplace, moral as well used to serve their stakeholders. The rules within the company can be one way to build good corporate culture. It is also strongly associated with vision and mission. (Rudito and Famiola, 2007:71)) perilaku etika seseorang dalam suatu organisasi akan sangat dipengaruhi nilai-nilai, norma-norma, moral dan prinsip yang dianutnya dalam menjalankan kehidupannya, yang kemudian bisa dianggap sebagai kualitas individu tersebut. Irwin (2001) dalam Rudito dan Famiola (2007:72) (ethical behavior of a person in an organization will be strongly influenced the values, norms, morals and principles espoused in the running life, which could then be regarded as a quality individual. Irwin (2001) in Rudito and Famiola (2007:72)) Rudito, Bambang dan Melia Famiola. 2007. Etika Bisnis Dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Di Indonesia. Rekayasa Sains, Bandung. (Rudito, Bambang and Melia Famiola. 2007. Business Ethics And Corporate Social Responsibility in Indonesia. Engineering Science, Bandung.)











