Something Ordinary #4
Chapter 4: Detik yang Tertinggal
Langit Apgujeong mendadak berubah menjadi abu-abu pekat, seolah tinta raksasa baru saja tumpah di atas Seoul. Tak lama kemudian, hujan turun deras tanpa peringatan, menghantam atap Seorin High School dengan suara yang memekakkan telinga.
Yohan berdiri di lobi gedung utama, menggenggam gagang payung kuning polosnya erat-erat. Ia menatap ke arah gerbang sekolah. Di sana, di bawah atap kecil penjaga gerbang, ia melihat Yura.
Gadis itu berdiri sendirian. Minji sudah pulang lebih awal karena ada urusan keluarga, meninggalkan Yura tanpa perlindungan dari badai sore ini. Yura menatap langit, mata cokelatnya terlihat sedikit redup di bawah bayang-bayang mendung. Ia merapatkan jaketnya, sesekali mengusap lengannya yang putih pucat untuk mengusir dingin.
Yohan menarik napas panjang. Kakinya terasa berat, terpaku di lantai marmer lobi.
“Ayo, melangkah saja,” batinnya memerintah. “Tawarkan saja. Hanya sampai halte bus atau sampai rumahnya di Daechi-dong.”
Namun, Yohan adalah pria yang hidup dalam sunyi. Baginya, melangkah masuk ke dalam ruang pribadi seseorang adalah hal yang besar. Ia ragu. Bagaimana jika Yura merasa tidak nyaman? Bagaimana jika teman-temannya yang masih berkeliaran di lobi mulai berbisik lagi?
Alis tebal Yohan bertaut. Ia melihat Yura mulai membuka tasnya, mengambil sebuah buku catatan tebal untuk menutupi kepalanya—sebuah usaha yang sia-sia melawan hujan sederas ini.
Yura tampak mengambil ancang-ancang. Ia menoleh sekilas ke arah lobi, seolah mencari seseorang, atau mungkin hanya sekadar memastikan tidak ada harapan lagi. Tatapannya sempat menyapu arah Yohan, namun Yohan refleks membuang muka, berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Saat Yohan kembali mendongak, Yura sudah mulai melangkah keluar dari perlindungan atap.


















