Sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi, Kelas 2-3 Seorin High School adalah sebuah simulasi kekacauan yang teratur. Di tengah hiruk-pikuk itu, Park Yohan duduk dengan punggung tegak di barisan belakang. Rambut hitamnya yang dipotong rapi tanpa model macam-macam membingkai wajahnya yang memberikan kesan "anak baik". Meski tangannya sibuk membolak-balik halaman buku teks, telinganya adalah radar yang menangkap setiap frekuensi gosip di ruangan itu.
"Kau sudah lihat siswi pertukaran dari Indonesia itu? Di kelas 3-1?" suara bisikan itu terdengar di antara tawa beberapa siswa.
"Namanya Yura. Dia... tidak seperti yang kubayangkan. Kulitnya putih. Kudengar ayahnya keturunan Rusia."
"Benar! Dan matanya cokelat madu. Tapi dia sangat pendiam, seperti ada tembok kaca yang mengelilinginya. Benar-benar sulit didekati."
Yohan tidak mendongak, namun sudut bibirnya terangkat tipis. Yura. Nama itu terdengar seperti sebuah bisikan yang asing namun entah kenapa terasa pas di telinganya. Ia menyentuh pipinya yang sedikit berisiβkebiasaan saat ia sedang berpikir strategisβsambil bertanya-tanya dalam hati: Seperti apa mata cokelat yang bisa membuat seluruh koridor membicarakannya?
Sore harinya, Seoul diselimuti cahaya jingga yang pekat. Yohan memutuskan untuk tidak langsung pulang ke rumahnya di Gangnam yang luas namun selalu terasa terlalu sunyi. Kakinya membawanya menuju atap gedung lama sekolah, tempat di mana ia biasanya bisa menjadi dirinya sendiri tanpa perlu menjadi "Park Yohan yang bisa diandalkan".
Saat pintu besi itu berderit terbuka, napas Yohan tertahan.
Seorang gadis berdiri di dekat pagar pembatas. Angin musim semi menyapu lembut poni lurus yang membingkai wajahnya, membuat rambut hitam bergelombangnya menari kecil di bahu. Ketika gadis itu menoleh, matahari sore seolah-olah hanya bersinar untuknya.
Yohan terpaku. Kulit gadis itu memang seputih porselen dengan rona cool tone yang kontras dengan cahaya hangat. Namun, adalah matanyaβbulat, teduh, dan berwarna cokelat terangβyang membuat Yohan kehilangan kata-kata. Gadis itu tampak seperti lukisan yang belum selesai, indah namun membawa sisa kesedihan yang tak terucap.
"Oh," suara itu lembut, memecah kesunyian. "Maaf, aku tidak tahu tempat ini ada penghuninya."
Yohan tersentak dari lamunannya. Rasa canggung sempat melintas, namun sifat ramah alaminya segera mengambil alih. Ia tersenyum lebarβjenis senyuman yang membuat matanya menyipit dan bibirnya melengkung sempurna membentuk siluet love yang manis.
"Tempat ini tidak punya pemilik," sahut Yohan, suaranya kini terdengar hangat dan ringan. Ia melangkah mendekat, aura kepemimpinannya melunak menjadi keramahan seorang junior. "Aku Yohan. Kelas 2-3."
"Aku Yura," jawabnya singkat. Ia tidak langsung membuang muka, melainkan menatap Yohan dengan rasa ingin tahu yang tenang.
Yura kembali mengalihkan pandangan ke arah langit Apgujeong yang mulai menggelap. Ia merasa kehadiran laki-laki berpipi chubby ini tidak mengganggunya. Sebaliknya, ada energi stabil dan hangat yang memancar dari Yohan.
"Kenapa kau di sini? Bukannya anak-anak populer biasanya berkumpul di kafe setelah sekolah?" tanya Yura tanpa nada menghakimi.
Yohan terkekeh, berdiri di samping Yura dengan jarak yang sopan. "Populer itu hanya pekerjaan sampingan. Di sini... setidaknya kebisingannya tidak terdengar. Seoul terkadang terlalu menuntut untuk terus bersuara."
Yura menoleh, poni lucunya sedikit berantakan tertiup angin. Ia tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang membuat jantung Yohan berdegup di luar ritme biasanya.
"Kau benar, Yohan-ssi," bisik Yura. "Kadang, diam itu lebih berisik daripada bicara."
Di atas atap Seorin High School, Yohan menyadari satu hal. Ia yang selalu menyukai keteraturan dan rencana, baru saja menemukan satu variabel yang tidak akan pernah bisa ia prediksi: Yura Putri. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak keberatan jika rencananya berantakan.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Lobi apartemen di daerah Daechi-dong itu terasa hangat begitu mereka melangkah masuk. Namun, bagi Yohan, bukan hanya suhu ruangan yang berubah. Begitu pintu lift terbuka di lantai tujuan, sebuah aroma yang asing namun sangat menggoda langsung menyergap indra penciumannya.
Tajam, hangat, dan sangat gurih.
"Baunya sudah sampai sini!" seru Minji sembari menarik tangan Yura.
Yohan melangkah di belakang mereka, hidungnya kembang kempis pelan. Sebagai anak yang tumbuh dengan masakan Ibu yang cenderung bersih dan ringan, aroma ini terasa sangat kompleks. Ada jejak serai yang segar, lengkuas yang hangat, dan aroma santan yang dimasak berjam-jam hingga menjadi karamel rempah yang pekat.
Begitu pintu apartemen dibuka, seorang wanita paruh baya dengan senyum yang sangat lebar menyambut mereka. Ia mengenakan celemek motif batik, tangannya masih memegang sudit kayu.
"Eonnie sudah pulang? Ya ampun, wajahmu pucat sekali!" seru Ibu Minji dalam bahasa Korea dengan aksen Indonesia yang kental. Matanya kemudian beralih ke sosok pemuda yang berdiri kaku di belakang anak-anaknya. "Eh? Ada tamu ganteng?"
Yohan membungkuk sopan. "Selamat sore, Park Yohan imnida."
"Ayo, ayo masuk! Pas sekali, Ibu sedang angkat Rendang dari kuali!"
Suasana di dalam apartemen itu sangat berbeda dengan rumah Yohan di Gangnam yang luas namun seringkali terasa sunyi. Di sini, ruangannya lebih padat, penuh dengan pernak-pernik dan foto keluarga, serta dipenuhi suara tawa Ibu Minji.
Yura dipaksa duduk di meja makan, masih dengan jaket Yohan yang membungkus bahunya. Yohan duduk di seberangnya, matanya bulat menatap sebuah piring besar di tengah meja. Isinya adalah potongan daging sapi berwarna cokelat gelap, hampir hitam, yang diselimuti bumbu kental berminyak yang kaya akan rempah.
"Ini namanya Rendang, Yohan-ssi. Makanan paling enak di dunia versi orang Indonesia," bisik Yura, suaranya masih sedikit parau.
Ibu Minji menyendokkan nasi hangat ke piring Yohan dengan porsi yang cukup banyak. "Ayo coba. Kau terlihat seperti anak yang suka makan. Pipi ini tidak mungkin bohong," goda Ibu Minji sembari mencubit pelan pipi Yohan yang chubby.
Yohan tersipu, namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia mengambil sumpit, memotong sedikit daging sapi itu. Teksturnya sangat lembut, seolah serat-seratnya akan luruh hanya dengan sentuhan ringan.
Saat suapan pertama masuk ke mulutnya, mata Yohan membelalak.
Ledakan rasa gurih, sedikit pedas, dan kekayaan rempah yang luar biasa langsung memenuhi rongga mulutnya. Ada rasa manis dari kelapa yang disangrai, namun diimbangi oleh rasa pedas yang tidak membakar, melainkan menghangatkan kerongkongan.
"Wah..." gumam Yohan. Pipinya menggembung saat ia mengunyah dengan lahap. Wajahnya yang biasanya datar kini memancarkan kepuasan yang murni. Ia tidak bisa berhenti. Suapan kedua, ketiga, dan keempat menyusul dengan cepat.
Yura memperhatikan Yohan dari seberang meja. Melihat bagaimana juniornya itu begitu menikmati masakan dari negaranya, ada rasa hangat yang menjalar di dada Yuraβlebih hangat daripada demam yang ia rasakan. Ia melihat Yohan yang biasanya jago bicara, kini terdiam hanya karena sebuah potongan daging sapi.
"Enak?" tanya Yura pelan.
Yohan mengangguk mantap, bibirnya sedikit berminyak. "Aku belum pernah merasakan yang seperti ini. Rasanya... sangat dalam. Seperti butuh waktu lama untuk membuatnya."
"Memang lama, Yohan-ssi. Seperti perasaan yang tulus, tidak bisa buru-buru," sahut Ibu Minji dari dapur, membuat Yohan nyaris tersedak nasi.
Yohan berdeham kaku, menyembunyikan wajahnya yang mulai merona di balik gelas air minum. Di meja makan sederhana di Daechi-dong itu, Yohan menyadari satu hal: dunia Yura ternyata penuh dengan warna dan rasa yang berani. Dan entah mengapa, ia merasa ingin menjadi bagian dari bumbu-bumbu yang menghangatkan hidup gadis itu.
Bel pulang sekolah berbunyi, namun getarannya terasa menyakitkan di kepala Yura. Ia merapatkan jaket milik Yohan yang masih tersampir di bahunyaβjaket itu kini menjadi satu-satunya sumber kehangatan yang tersisa.
"Eonnie! Ya ampun, wajahmu merah sekali!" Suara melengking Minji membelah keheningan perpustakaan. Ia berlari mendekat, meletakkan telapak tangannya di kening Yura. "Panas! Kenapa kau tidak meneleponku tadi siang? Aku kan bisa menjemputmu ke kelas."
Yohan berdiri dari kursinya, kembali memasang wajah datarnya yang kaku. "Dia kehujanan kemarin sore," ucap Yohan pendek.
Minji menoleh ke arah Yohan, lalu ke arah jaket laki-laki itu yang membungkus tubuh Yura. Matanya memicing nakal selama setengah detik sebelum rasa cemas kembali mendominasi. "Ayo pulang. Aku sudah menelepon Ayah, katanya dia akan pulang cepat untuk memeriksa Eonnie."
"Aku akan ikut," sela Yohan.
Minji dan Yura serentak menoleh.
"Maksudku... rumahku searah. Dan aku harus mengambil jaketku kembali nanti," bohong Yohan lagi. Alis tebalnya bertaut, menyembunyikan rasa gugup yang mulai merayap. Ia tidak bisa membiarkan Yura pulang hanya dengan Minji yang ceroboh; ia harus memastikan dengan matanya sendiri bahwa Yura sampai di kasurnya dengan selamat.
Mereka bertiga berjalan keluar dari gerbang Seorin High School. Sinar matahari sore yang keemasan menyapu trotoar Apgujeong, menciptakan bayangan panjang yang menari di depan mereka.
Yura berjalan di tengah, diapit oleh Minji yang terus mengoceh tentang obat-obatan dan Yohan yang berjalan dengan tangan di saku, menjaga langkahnya agar tetap sejajar dengan langkah Yura yang mulai melambat.
Yohan memperhatikan profil samping Yura. Cahaya sore membuat mata cokelat gadis itu terlihat sangat transparan, seperti kelereng kaca yang indah namun rapuh. Kulit pucatnya kini tampak sedikit berkeringat di pelipis. Berkali-kali Yohan ingin mengulurkan tangan untuk memapah Yura, namun Minji sudah lebih dulu menggandeng lengan Yura dengan erat.
"Yohan-ssi, kau tahu tidak?" celoteh Minji sembari menoleh pada Yohan. "Ibuku sedang membuat Rendang hari ini! Itu masakan daging sapi dari Indonesia. Baunya sampai ke lantai bawah apartemen!"
"Rendang?" Yohan mengeja kata asing itu. Pipi chubby-nya bergerak sedikit saat ia mencoba membayangkan rasanya. "Apakah itu pedas?"
"Sedikit! Tapi sangat enak. Yura Eonnie paling suka itu," jawab Minji riang.
Yura tersenyum lemah, menatap Yohan yang tampak serius memikirkan kata 'Rendang'. "Kapan-kapan... kau harus mencobanya, Yohan-ssi," bisik Yura serak.
Yohan mengangguk pelan. "Aku akan mencobanya. Selama kau yang memberitahuku cara memakannya."
Tiba-tiba, langkah Yura goyah. Ia hampir tersandung undakan trotoar jika saja Yohan tidak dengan sigap menangkap bahunya. Untuk sedetik, mereka membeku. Telapak tangan Yohan yang hangat bersentuhan langsung dengan kulit leher Yura yang panas karena demam. Mata bulat Yohan bertemu dengan mata teduh Yura dalam jarak yang sangat dekat.
"Hati-hati," bisik Yohan. Suaranya tidak lagi datar; ada getaran kecemasan yang nyata di sana.
Minji terdiam, menatap tangan Yohan yang masih enggan melepaskan bahu Yura. Suasana ceria yang ia bawa tiba-tiba terasa janggal. Di antara kebisingan jalanan Apgujeong, ada sebuah ruang sunyi yang mendadak tercipta hanya untuk Yohan dan Yuraβsebuah ruang yang bahkan Minji pun tidak bisa masuk ke dalamnya.
Yohan segera menarik tangannya saat menyadari tatapan Minji. Ia berdeham kaku, kembali menatap lurus ke depan. "Ayo cepat. Matahari hampir tenggelam."
Mereka kembali berjalan. Irama tiga langkah yang awalnya terasa seimbang, kini terasa sedikit goyah. Yura merasakan jantungnya berdegup lebih kencang daripada rasa sakit di kepalanya, sementara Yohan bergelut dengan batinnya sendiriβmenyadari bahwa semakin ia mencoba bersikap biasa saja, semakin ia tenggelam dalam keinginan untuk melindungi gadis asing ini.
βTernyata, berjalan bertiga tidak membuat jalannya terasa lebih singkat,β batin Yohan sembari melirik sisa-sisa sinar matahari di rambut cokelat Yura. βMalah terasa lebih jauh, karena aku harus menahan diri untuk tidak memelukmu sekarang juga.β
Pagi itu, Seorin High School diselimuti kabut tipis sisa hujan semalam. Udara terasa lembap dan menusuk, namun bagi Yohan, rasa dingin yang paling tajam justru berasal dari ulu hatinya. Ia berdiri di koridor lantai tiga, dekat jendela besar yang menghadap ke arah gerbang, tempat ia kehilangan setengah detiknya kemarin.
Pintu kelas 3-1 terbuka. Yura melangkah masuk, dan seketika itu juga, napas Yohan tertahan.
Gadis itu tampak rapuh, seolah terbuat dari kaca yang hampir retak. Kulitnya yang biasanya putih pucat kini terlihat hampir transparan, dengan rona kemerahan yang tidak sehat di sekitar hidung dan telinganya. Rambut cokelatnya tidak terikat rapi seperti biasanya; beberapa helai tampak masih sedikit lembap, menempel di dahi dan lehernya yang dingin.
Yohan memperhatikan bagaimana bahu Yura menegang pelan setiap kali ia menarik napas. Jaket wol yang ia kenakan tampak berat, seolah masih menyimpan sisa-sisa air hujan yang tidak sempat menguap sepenuhnya. Saat ia duduk, Yura menyandarkan kepalanya ke meja, memejamkan mata dengan bibir yang sedikit bergetarβmenahan menggigil yang mencoba menyerang tubuhnya.
βSeharusnya aku bergerak lebih cepat,β batin Yohan. Tangannya yang berada di dalam saku celana meremas gagang payung hitamnya yang keringβpayung yang terasa seperti sebuah ejekan sekarang. βHanya satu langkah lagi, dan dia tidak perlu menanggung dingin ini sendirian. Bodoh... kau benar-benar diam saja saat dia berjalan menembus badai.β
Yohan menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Rasa bersalah itu bukan lagi sekadar pikiran, tapi sudah menjadi beban fisik yang membuat dadanya sesak. Ia melihat Yura mencoba membuka botol air mineralnya dengan tangan yang gemetar, namun gagal. Gadis itu akhirnya menyerah dan kembali menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan.
Yohan tidak bisa lagi hanya berdiri dan menonton.
Perpustakaan, Waktu Istirahat.
Yura mencari kehangatan di antara rak-rak buku tua yang tinggi, berharap debu dan kayu bisa memberikan sedikit rasa nyaman. Ia duduk di kursi paling pojok, mencoba fokus pada buku catatannya, namun setiap huruf yang ia tulis tampak kabur. Kepalanya terasa berat, berdenyut seiring dengan detak jantungnya.
Tap. Tap.
Sebuah benda hangat tiba-tiba diletakkan di samping buku catatannya. Yura mendongak dengan gerakan lambat.
Yohan berdiri di sana. Ia tidak memakai jaket sekolahnyaβjaket itu kini tersampir di sandaran kursi Yura tanpa sepatah kata pun. Di depan Yura, terdapat sebuah botol thermos kecil milik Yohan yang mengeluarkan uap tipis aroma jahe dan madu.
"Minumlah," ucap Yohan pendek. Suaranya datar, namun matanya yang bulat menatap lurus ke arah mata cokelat Yura yang kini terlihat sayu.
Yura menatap jaket di bahunya, lalu menatap thermos itu. "Yohan-ssi... ini milikmu?"
"Ibuku membuatnya pagi ini. Aku tidak suka minuman manis," bohong Yohan. Padahal, ia tadi harus memohon pada bibi di kantin untuk meminjamkan air panas agar ia bisa mencairkan madu sasetan yang ia beli di toko bawah.
Yohan duduk di kursi seberang Yura, namun ia tidak membuka buku. Ia hanya duduk diam, memperhatikan Yura yang perlahan menyesap minuman hangat itu. Yohan bisa melihat bagaimana warna perlahan kembali ke pipi pucat Yura.
"Kenapa kau diam saja di lobi kemarin?" tanya Yura tiba-tiba, suaranya serak. "Aku sempat melihatmu berdiri di sana dengan payungmu."
Yohan membeku. Alis tebalnya bertaut rapat. Jadi, Yura melihatnya? Dia melihat keraguannya?
"Aku... aku hanya sedang menunggu seseorang," bohong Yohan lagi, suaranya sedikit pecah di akhir kalimat. "Lalu taksimu datang, jadi aku pikir kau tidak butuh bantuanku."
Yura tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa menyakitkan bagi Yohan. "Aku sempat berharap kau akan datang. Tapi tak apa, mungkin setengah detik memang jarak yang terlalu jauh untuk kita, ya?"
Kalimat itu menghantam Yohan tepat di titik yang paling rapuh. Ia menatap Yura yang kini kembali menyandarkan kepalanya, kali ini di atas jaket milik Yohan yang masih menyimpan hangat tubuh laki-laki itu.
Yohan ingin bicara. Ingin meminta maaf. Ingin bilang bahwa ia menyesal setengah mati karena telah membiarkan ego dan keraguannya menang. Namun, lidahnya terasa kaku. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja, berjanji dalam diam bahwa ia tidak akan pernah lagi membiarkan setengah detik itu menghancurkan apa pun di antara mereka.
Di tengah kesunyian perpustakaan, Yohan menyadari satu hal yang menakutkan: melihat Yura sakit jauh lebih menyiksanya daripada rasa lapar atau lelah mana pun yang pernah ia rasakan.
Langit Apgujeong mendadak berubah menjadi abu-abu pekat, seolah tinta raksasa baru saja tumpah di atas Seoul. Tak lama kemudian, hujan turun deras tanpa peringatan, menghantam atap Seorin High School dengan suara yang memekakkan telinga.
Yohan berdiri di lobi gedung utama, menggenggam gagang payung kuning polosnya erat-erat. Ia menatap ke arah gerbang sekolah. Di sana, di bawah atap kecil penjaga gerbang, ia melihat Yura.
Gadis itu berdiri sendirian. Minji sudah pulang lebih awal karena ada urusan keluarga, meninggalkan Yura tanpa perlindungan dari badai sore ini. Yura menatap langit, mata cokelatnya terlihat sedikit redup di bawah bayang-bayang mendung. Ia merapatkan jaketnya, sesekali mengusap lengannya yang putih pucat untuk mengusir dingin.
Yohan menarik napas panjang. Kakinya terasa berat, terpaku di lantai marmer lobi.
βAyo, melangkah saja,β batinnya memerintah. βTawarkan saja. Hanya sampai halte bus atau sampai rumahnya di Daechi-dong.β
Namun, Yohan adalah pria yang hidup dalam sunyi. Baginya, melangkah masuk ke dalam ruang pribadi seseorang adalah hal yang besar. Ia ragu. Bagaimana jika Yura merasa tidak nyaman? Bagaimana jika teman-temannya yang masih berkeliaran di lobi mulai berbisik lagi?
Alis tebal Yohan bertaut. Ia melihat Yura mulai membuka tasnya, mengambil sebuah buku catatan tebal untuk menutupi kepalanyaβsebuah usaha yang sia-sia melawan hujan sederas ini.
Yura tampak mengambil ancang-ancang. Ia menoleh sekilas ke arah lobi, seolah mencari seseorang, atau mungkin hanya sekadar memastikan tidak ada harapan lagi. Tatapannya sempat menyapu arah Yohan, namun Yohan refleks membuang muka, berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Saat Yohan kembali mendongak, Yura sudah mulai melangkah keluar dari perlindungan atap.
Sekarang.
Yohan bergerak. Ia membuka payungnya dengan bunyi klik yang tajam dan berlari kecil menuju gerbang. Ia ingin memanggilnya, ingin meneriakkan 'Selamat sore' atau 'Apa kabar' yang salah kaprah seperti kemarin hanya untuk menghentikan langkah gadis itu.
Namun, keputusannya datang terlambat setengah detik.
Tepat saat Yohan mencapai batas gerbang, sebuah taksi kuning berhenti tepat di depan Yura. Yura segera masuk, menutup pintunya dengan cepat sebelum air hujan membasahi seluruh tubuhnya. Melalui kaca jendela yang mulai berembun, Yohan sempat melihat profil samping wajah Yura yang pucat sebelum taksi itu melaju menembus tirai hujan.
Yohan berdiri mematung di pinggir jalan. Payung kuningnya terbuka lebar, melindunginya dari air, namun dadanya terasa basah oleh rasa kecewa yang aneh. Ia hanya berjarak tiga meter. Tiga meter dan setengah detik yang memisahkan keberaniannya dengan kenyataan.
Ia menatap aspal yang tergenang air. Di sana, ia menyadari bahwa hal yang paling menyakitkan bukanlah penolakan, melainkan sebuah kesempatan yang lewat begitu saja karena keraguan yang tidak perlu.
Yohan menghela napas, pipi chubby-nya mengempis saat ia mengeluarkan napas panjang yang terasa panas di tengah udara dingin. Ia berbalik, berjalan perlahan menuju rumahnya di Gangnam. Jalanan yang biasanya hanya memakan waktu 15 menit, hari ini terasa jauh lebih panjang.
βTernyata, kesunyian yang kupilih hari ini rasanya terlalu berisik,β bisik hati Yohan.
Ia menutup payungnya saat sampai di depan gerbang rumahnya, namun bayangan mata cokelat Yura yang menatap hujan tadi tetap tertinggal, menjadi pengingat bahwa dalam hidup, setengah detik bisa berarti sebuah penyesalan yang membekas lama.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Perpustakaan Seorin di sore hari adalah definisi dari kedamaian yang dicari Yohan. Sinar matahari senja menyelinap melalui jendela besar, menyiram deretan rak buku dengan warna emas. Di salah satu sudut terjauh, ia menemukan Yura. Senior itu sedang fokus menulis di sebuah buku catatan, dengan kamus saku kecil tergeletak di samping lengannya yang putih pucat.
Yohan menghampirinya dengan langkah yang sengaja dibuat tenang, meski di dalam saku celananya, tangannya berkeringat dingin. Ia sudah berlatih kalimat ini berkali-kali di rumah semalam, bahkan mencatatnya di pinggir buku fisikanya.
Yura mendongak saat merasakan bayangan seseorang mendekat. Sebelum ia sempat menyapa, Yohan sudah membungkuk kaku dan berucap dengan suara beratnya yang khas.
"Salamat... paki, Apa kabur?"
Yohan mengucapkannya dengan intonasi yang sangat datarβkhas orang Korea yang mencoba melafalkan huruf 'p' dan 'b' yang sering tertukar, serta salah satu huruf vokal yang meleset jauh.
Yura tertegun sejenak. Matanya yang cokelat mengerjap lambat, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. Detik berikutnya, sesuatu yang langka terjadi. Bahu Yura bergetar, dan sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa tulus yang membuat matanya membentuk bulan sabit yang indah.
"Yohan-ssi," ucap Yura di sela tawanya yang lembut. "Ini sudah sore, bukan pagi. Dan 'Apa kabur' berarti kau bertanya apakah aku melarikan diri."
Wajah Yohan seketika memerah hingga ke ujung telinga. Alis tebalnya bertaut karena malu. "Ah, benarkah? Aku membacanya di situs pencarian semalam. Harusnya Apa kabar, ya?"
"Iya, Apa kabar," koreksi Yura sembari menggeser kursinya, memberi ruang bagi Yohan untuk duduk. "Dan untuk sore, kau bisa bilang Selamat sore."
Yohan duduk di sampingnya, masih merasa sedikit konyol. Namun, saat ia menatap Yura, rasa malunya menguap.
Melihat Yura tertawaβkejadian yang sangat jarang terjadi di sekolahβterasa seperti sebuah pencapaian besar bagi Yohan. Tawa itu membuat wajah pucat Yura terlihat jauh lebih hidup.
"Mari kita coba lagi," ucap Yura dengan sabar. "Ikuti aku: Se-la-mat so-re."
Yohan memperhatikannya dengan intens. Bukan hanya memperhatikan gerak bibir Yura, tapi juga cara cahaya matahari membuat mata cokelat gadis itu terlihat semakin hangat.
"Se-la-mat... so-le," ucap Yohan. Ia masih kesulitan dengan huruf 'r', lidahnya masih terlalu kaku.
"Lumayan," puji Yura dengan binar teduh di matanya.
Tepat saat Yohan hendak menanyakan kata berikutnya, suara langkah kaki cepat dan ceria mendekat.
"Eonnie! Akhirnya aku menemukanmu!" Minji muncul dari balik rak buku dengan wajah berseri-seri. Sakit giginya sepertinya sudah sembuh total. "Eh? Ada Yohan-ssi juga di sini?"
Minji langsung menarik kursi dan duduk di antara mereka, mulai bercerita panjang lebar tentang drama yang ia tonton semalam. Yohan seketika terdiam. Ia kembali memasang wajah datarnya. Kesunyian yang tadi ia bangun bersama Yuraβruang khusus di mana hanya ada suara mereka yang saling mengeja kataβkini pecah berantakan.
Yohan merasa terusik. Ia menyukai Minji karena Minji baik pada Yura, tapi saat ini, ia hanya ingin Minji menghilang sebentar saja agar ia bisa mendengar suara Yura mengoreksi logatnya lagi.
Ia memperhatikan Yura yang kini tersenyum melayani celotehan Minji. Yohan menyadari satu hal: ia adalah orang yang membenci kebisingan dan kerumitan. Namun, mempelajari bahasa asing yang susunan katanya terbalik-balik dan pengucapannya sangat sulit bagi lidah orang Korea, ternyata tidak seburuk itu.
Yohan kembali menatap catatan kecilnya di saku. Ia memikirkan bagaimana cara mengucapkan Sampai jumpa untuk nanti.
β Ternyata, aku tidak keberatan belajar bahasa baruβ¦ selama itu bahasa miliknya.
batin Yohan sembari menarik napas panjang, menekan rasa kesalnya pada Minji dan menggantinya dengan tekad untuk belajar lebih banyak kata besok.
Malam itu, kamar Yohan di kediaman Parkβsebuah rumah dua lantai yang tenang di jantung Gangnamβterasa lebih luas dari biasanya. Yohan berbaring telentang, menatap pantulan lampu jalan yang menembus celah gordennya. Biasanya, ia akan tertidur dalam hitungan menit setelah membaca buku. Namun malam ini, langit-langit kamarnya seolah berubah menjadi layar yang memutar ulang kejadian di atap sekolah.
Ia teringat bagaimana mata cokelat Yura memantulkan cahaya matahari. Bagaimana kulitnya yang pucat tampak hampir transparan. Dan cara Yura bicara tentang debu yang menariβsebuah hal sepele yang mendadak terasa sangat filosofis bagi Yohan.
"Yura," gumamnya pelan, mencoba merasakan bagaimana nama itu singgah di lidahnya. Yohan berbalik, memeluk bantalnya, dan tanpa sadar senyum berbentuk hatinya muncul dalam kegelapan. Untuk pertama kalinya, kebisingan pikirannya mereda hanya dengan membayangkan satu wajah.
Sinar matahari pagi menyelinap masuk, dan Yohan sudah melompat dari tempat tidur sebelum alarmnya berbunyi. Ia bersenandung kecil saat bersiap, menyisir rambut hitamnya dengan rapi.
Di ruang makan, aroma sup daging sapi (Sogogi Muguk) dan telur gulung (Gyeran-mari) memenuhi udara. Ibu Yohan, yang sangat gemar memasak, sedang menata piring di atas meja kayu yang besar. Begitu melihat Yohan turun dengan langkah ringan, sang Ibu mengangkat alisnya heran.
"Yohan-ah? Kau sudah rapi?" tanya Ibunya. "Biasanya Ibu harus mengetuk pintumu tiga kali."
Yohan tidak menjawab, ia langsung duduk dan mulai makan dengan lahap. Pipinya yang sedikit chubbyβakibat kegemarannya menyantap masakan Ibuβbergerak-gerak lucu saat ia mengunyah. Meskipun wajahnya sering terlihat datar di sekolah, di rumah ia adalah anak laki-laki yang sangat menghargai setiap suapan makanan.
"Kau ada ujian hari ini? Semangat sekali," goda Ibunya.
"Tidak ada, Bu. Aku hanya... ingin segera sampai di sekolah," sahut Yohan sembari meraih tasnya. Ia mencium pipi Ibunya kilat, lalu berlari keluar rumah menuju gerbang depan. Sang Ibu hanya bisa menggelengkan kepala melihat anak laki-lakinya yang biasanya santai, kini berjalan cepat seolah sedang mengejar kereta terakhir.
Kantin Seorin High School, 12:30 PM.
Suasana kantin sangat bising. Aroma nasi hangat dan bumbu tumisan memenuhi udara. Di tengah kekacauan itu, Yura berdiri mematung di depan papan menu digital. Ia tampak kebingungan.
Hari ini adalah hari yang sulit bagi Yura. Minji, teman satu homestay sekaligus "penerjemah" pribadinya, tidak masuk sekolah karena sakit gigi yang parah. Tanpa Minji, Yura merasa seperti turis yang tersesat di tengah kerumunan.
Ia membaca menu hari ini: βDak-galbi-deopbapβ. Yura tahu dak adalah ayam, tapi istilah galbi dan deopbap yang digabung membuatnya ragu. Apakah ini sangat pedas? Apakah ayamnya bertulang? Ia ingin bertanya pada petugas kantin, tapi antrean di belakangnya mulai mendesah tidak sabar.
"Ehm, choegiyo..." bisik Yura ragu, namun suaranya tenggelam oleh bisingnya obrolan siswa lain.
Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dari belakangnya, menunjuk ke arah menu di layar.
"Itu nasi dengan tumis ayam pedas manis. Ayamnya tanpa tulang, jadi mudah dimakan. Sangat enak jika dicampur dengan sedikit sup rumput laut," suara bariton yang akrab terdengar tepat di samping telinganya.
Yura menoleh dan menemukan Yohan berdiri di sana. Di bawah lampu neon kantin, mata bulat Yohan menatapnya dengan tenang. Alis tebalnya sedikit terangkat, seolah bertanya tanpa suara.
"Yohan-ssi," gumam Yura, merasa lega luar biasa.
"Berikan baki mu," ucap Yohan. Ia mengambil alih baki Yura dan bicara pada petugas kantin dengan bahasa Korea yang sangat lancar dan sopan, memesankan paket menu ayam tersebut yang paling pas untuk Yura.
Setelah mendapatkan makanan, Yohan tidak langsung pergi. Ia menuntun Yura ke sebuah meja di pojok yang agak sepiβtempat yang biasanya ia tempati sendiri.
"Minji tidak masuk?" tanya Yohan saat mereka duduk berhadapan.
"Iya, dia sakit gigi," jawab Yura, ia menatap Yohan dengan mata cokelatnya yang teduh. "Terima kasih banyak, Yohan-ssi. Aku hampir saja memesan sesuatu yang mungkin tidak cocok denganku."
Yohan mulai menyuap nasinya. "Lain kali, kalau kau bingung, cari saja aku. Kelas 2-3 tidak jauh dari kelasmu."
Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka di tengah riuhnya kantin. Yura memperhatikan cara Yohan makanβsangat tenang, namun terlihat sangat menikmati makanannya. Sesekali pipi Yohan terlihat menonjol saat mengunyah, membuat Yura menyadari bahwa juniornya ini punya sisi yang sangat manis di balik wajah dinginnya.
"Yohan-ssi," panggil Yura pelan.
Yohan mendongak. "Ya?"
"Kenapa kau membantuku? Maksudku... teman-temanmu di sana memperhatikan kita." Yura melirik sekelompok siswa kelas 2 yang sedang berbisik-bisik di meja seberang.
Yohan melirik sekilas ke arah teman-temannya, lalu kembali menatap Yura. Tatapannya tidak berubahβtetap datar, namun ada percikan kecil di kedalaman matanya yang bulat.
"Karena aku tidak suka melihat debu yang menari sendirian," jawab Yohan pelan, mengutip kata-kata Yura di atap kemarin. "Dan aku baru memutuskan sesuatu."
"Apa?"
"Aku akan belajar bahasa Indonesia sedikit. Agar kalau Minji tidak ada, kau tidak perlu terlihat kebingungan di tengah kantin."
Yura terpaku. Keputusan kecil Yohan barusan terasa seperti sebuah getaran tipis yang merambat di permukaan hatinya yang tenang. Di sisi lain, Yohan mengepalkan tangannya di bawah meja, menyadari bahwa tembok "kesunyian" yang selama ini ia bangun, kini mulai runtuh karena keinginan kuat untuk bisa melindungi gadis di depannya ini.
Hello, me! ππ» π€ Are you okay? Feeling π’ sad? π confused? π lonely? Please... Don't worry to much. Hang on... Allah has prepared beautiful gifts πfor people who are patient with their trials. Trust me! πππ»
Rasa syukur seorang istri adalah ujung tombak bahagianya, ketenangan batin suaminya, dan kerukunan rumah tangganya.Bahkan, menurut apa yang pernah saya dengar di salah satu kajian, surga dan neraka seorang istri terletak pada rasa syukur atas segala yang suaminya berikan.
Katakanlan dia wanita santun yang pandai menjaga dirinya, pandai menjaga ibadahnya, baik terhadap sesamanya, tapi jika dia tak pernah mensyukuri segala yang suaminya perjuangkan untuknya maka neraka baginya.
Rasa syukur seorang istri tidaklah sesederhana ketika kita tak menjalani. Walaupun kata syukur itu sederhana dan mudah sekali diucapkan tapi tidak dengan dipraktikan, bahkan dengan berbagai persoalan di depan mata.
Menjadi seorang istri tidaklah mudah pun tidaklah sulit. Mudah baginya meraup setiap pahala dari setiap taatnya, mudah baginya memasuki pintu surga mana saja yang dia inginkan selama dia menjaga sholatnya, puasanya, dan taat pada suaminya. Mudah sekaligus sulit dilakukan.
Seringkali istri lupa untuk mengucapkan terima kasih atas segala yang suaminya lakukan kepadanya, bukan hanya menggerutu karena maunya yang tidak terlaksana. Seringkali para istri adanya mengomel kala suami hanya membantu sedikit sekali pekerjaan rumah, padahal satu dua bantuan yang dia kerjakan sudah teramat berarti mereka masih mau berbagi waktu untuk mengurusi rumah sedangkan di luar sana kita tak pernah sedikitpun membantunya. Seringkali para istri tidak mau melihat apa yang sudah suaminya perjuangkan untuknya di luar sana ditambah bagian dirinya yang telah berubah kehidupannya setelah adanya tanggung jawab terhadap kita. Ingatlah bukan hanya hidup kita yang berubah setelah menikah, tetapi suami kita juga.
Bersyukurlah atas segala pemberian harta yang suami kita berikan, sekecil bahkan melebihi kecukupan kita bahkan jika karena sibuk mencari nafkah terkadang waktu untuk kita menjadi berkurang. Bersabarlah, bersyukurlah.
Bersyukurlah atas segala waktu yang suami kita berikan, setiap menit yang berharga yang dia prioritaskan untuk menemani kita padahal mereka meninggalkan waktunya mencari nafkah ataupun ilmu di luar sana sehingga terkadang terlambat memberi nafkah. Bersabarlah, bersyukurlah.
Seringkali saya malu dari setiap maaf yang suami lontarkan karena merasa belum maksimal memberikan segalanya, padahal dia telah mencurahkan dan memberikan segalanya. Bahkan terima kasih yang terlontang terkadang tak cukup menggambarkan perjuangannya.
Menjadi seorang istri bagi saya adalah sebuah fase pembelajaran diri untuk lebih menerima terhadap apa yang Allah berikan dalam hidup, untuk lebih bercermin tentang apa yang menjadi kebutuhan, prioritas dan keinginan, untuk lebih lapang dengan segala hal yang diberikan dalam hidup.
Maka, bersyukurlah menjadi seorang istri. Segala rasa syukur dalam hidupnya adalah bahagianya, ketenangan hidupnya, kelapangan dunianya.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Belajar dari kisah Abdullah Bin Umi Maktum -dan- Iblis
ββπ±
Kala itu Abdullah berjalan pelan menuju masjid, tangan kanannya memegangi tongkat yang menjadi matanya. Tongkat itulah yang meraba-raba jaln untuknya. Abdullah yang berjanji dalam hati untuk istiqomah datang ke masjid untuk berjamaβah sholat subuh.
βπΎ
Selang beberapa saat berjalan, Abdullah tersandung batu. Ia jatuh tersungkur dan kepalanya terantuk batu. Darah pun mengalir.Abdullah segera mengusapnya dan berjalan kembal. Rasa perih akibat lukapun bukanlah penghalang baginya.
βπΎ
Tiba-tiba ada seorang yang menyapanya, orang itu berniat mengantar ke masjid dan mengantarkannya pulang kembali. Bukan hanya hari itu saja orang itu menolong Abdullah.
Namun anehnya orang itu tidak pernah memberitahukan siapa dirinya. βπΎ
Sampai pada suatu saat orang itu berkata kepada Abdullah, βSebenarnya aku adalah iblis, masih ingatkah engkau saat pergi ke masjid lalu engkau tersandung batu dan berdarah?, aku mendengar malaikat mengatakan bahwa separuh dosamu telah diampuni karenanya. Aku tidak mau engkau terjatuh lagi hingga habislah dosamu diampuni semuanya.β
βπΎ
Abdullah terkejut. Rupanya lelaki budiman yang menolongnya adalah iblis yang tek rela dosa-dosanya diampuni semuanya.
βπΎ
Bahkan iblis pun rela berbaik hati agar dosa-dosa Abdullah tak habis karena ampunan. βπΈβ
Mari berdoa agar Allah senantiasa melindungi kita dari hal-hal melebihi batas ππ aamiin βββββ
Cc : #77cahayacintadiMadinah
.
Kontribusi oleh @mydeardeera
Dia banyak mengajarkan hal-hal yang seharusnya dilakukan wanita yang beranjak dewasa, mandiri. Dia manusia cerdas kedua yang saya kenal setelah bapak saya. Terima kasih sudah membuat saya agak berani menghadapi keramaian, menghilangkan rasa takut terhadap orang-orang baru, dan membuat saya belajar apa itu sabar.
Masa muda...
Dia bukan orang yang ada disaat masa muda saya terbentuk. Dia anak muda yang mengajarkan saya umur tidak menghalangi seseorang untuk bisa saling mencintai. Dia yang membuat saya merasa kalau kehadiran saya dapat merubah hidupnya, walaupun tidak banyak. Dia memperlakukan saya layaknya seorang putri, melakukan hal bodoh bersama, menertawakan hal yang sama-sama ada di pikiran kami, membaca buku yang sama, mengingat masa lalu yang sama, yaa mungkin karena kami sama. Dia membuat saya merasakan hal yang tidak pernah saya rasakan di waktu saya muda dulu. Terima kasih sudah memberikan kenangan super indah di hidup saya. Seperti yang selalu dia katakanΒ βPerasaan bisa hilang, tapi tidak dengan kenangan.β
Masa depan...
Hai, kamu di masa lalu, kembali dengan pribadi yang baru. Seseorang yang dulu selalu saya doakan agar berubah, dan doa saya terkabul. Bertahun-tahun, baru sekarang Allah menjawabnya. Mohon bimbingannya, mohon ingatkan saya kalau melakukan kesalahan yang membuat saya jauh dari Allah. Walaupun perasaan yang dulu belum kembali, saya percaya waktu yang akan mengembalikan semuanya.
Untuk diri sendiri...
Jaga diri baik-baik, jadikan masa lalu dan masa muda sebagai pelajaran, fokuslah untuk masa depan, cukuplah doakan masa lalu dan masa mudamu. Jadilah wanita yang baik untuk masa depanmu....
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Quality
Anya is LIVE right now
FREE
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Jangan berharap sama manusia, berharapnya sama Allah SWT saja. Seperti bunga yang berharap disiram tiap hari, tapi tidak disiram-siram. Kalau berharapnya sama Allah SWT, musim kemarau pun akan diturunkan hujan.
Dada terasa sesak, namun air mata tidak mengalir deras. Allah tau perasaan itu dan pasti Allah cemburu, kenapa seorang hamba menangis meratapi nasib hanya dengan mengingat sebuah nama. Hamba tersebut lupa hanya Allah sang pemilik hati, hanya Allah sang pemberi cinta yang sempurna.