seen from Australia
seen from Türkiye
seen from United States
seen from France

seen from Syria
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from Brazil
seen from Switzerland
seen from China
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from South Korea
seen from Germany

seen from Egypt

seen from Syria
seen from United States

seen from Egypt

seen from United States

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
It’s so easy to manipulate beauty and pain. To twist it so far your veins break and paint. To turn appreciation into rough edges and maroon. Pale blue blooms and forget me not fertilize. Lost in waters that pool around the iris and leave trails that gleam. This is the beauty I know. This is the pain womankind has suffered, has relished and held onto like freshwater pearls. Yet, it is now relinquished unto you and all who have turned a blind eye. Our gift now yours to hold. It is lost with pleasure and passion burning in our lungs and fire rushing out of our mouths and eyes. We are now the serpent in your gardens of lies. This is our beauty and our pain to own, and no one can make us feel less than for deciding to make it known.
I
I’m gay and 28 years old, but I’ve never been to a pride parade. It’s not that I don’t want to go—I do. I’ve thought about it so many times, imagined what it might feel like to stand in a crowd of people who share a part of my experience, to feel that sense of belonging, of celebration. But somehow, I’ve always found a reason not to go. Maybe it’s fear, maybe it’s uncertainty, or maybe it’s just not knowing where I fit into it all.
For so long, being gay felt like something I had to figure out in private, something I had to carry alone before I could share it with the world. Even now, when I’m more comfortable with who I am, the idea of stepping into a space so loud and proud still feels intimidating. I guess it’s because I’m still learning what pride means to me—not just as an event, but as a feeling, a way of living.
I think a part of me worries that I won’t fit in, that I’ll stand there and feel like an outsider in a place that’s supposed to feel like home. But I also know that pride isn’t just about the parades or the rainbow flags—it’s about embracing who you are in whatever way feels right for you. Maybe that means showing up in a crowd, or maybe it’s simply living your truth in your everyday life.
I know I’ll get there one day, when the time feels right. And when I do, I hope I can stand in that crowd and finally feel like I belong—not just in that moment, but in the world.
Re-embracing my punk kid roots, I've started wearing rings again, a good mix of stuff from my youth and stuff I've acquired in my adulthood. Feels good to find parts of myself I thought I'd left behind 😁 #embracingmyself #rings #iwasa90spoppunkkid https://www.instagram.com/p/CiQ7GHvuMAr/?igshid=NGJjMDIxMWI=
#embracingmyself eps. III
Dear Pecinta Kucing,
Gimana rasanya menginjak umur 23 tahun? Gimana rasanya hidup di titik ini? Apakah ini titik terbaikmu? Gimana rasanya jadi pacarku hingga sekarang?
Sepertinya, aku paling banyak salah sama kamu. Rasanya, aku udah terlalu banyak melakukan hal buruk ya ke kamu. Maaf ya sayang :( Aku terlalu ga sempurna buat kamu.
Dari awal pacaran, aku udah sering bikin kamu kesel, marah, sedih, dan sebagainya. Yang hebat dari kamu adalah kamu mau bertahan melalui itu semua. Melalui segala ketidaksempurnaanku. Melalui segala macam kebodohanku.
Sekarang setelah aku sadari, aku menyesal tidak lebih dewasa sedari awal. Aku menyesal, karena kamu melihat ketidaksempurnaanku sedari awal kita pacaran. Sekarang, yang aku mau hanyalah make memories sih sama kamu. Sebanyak-banyaknya, sebaik-baiknya. Ya meskipun kamu udah jadi memori paling menyentuh di hidupku.
Setelah aku ingat, aku benar-benar bahagia karena aku menghabiskan waktu lebih banyak bersamamu. Aku bahagia karena isi otakku terasa lebih berisi saat bersamamu. Intinya, aku bahagia. Saking bahagianya, aku sering lupa mengabadikannya. Karena seperti yang kamu tahu, ketika aku sedang kesal dan marah, aku harus segera membuka galeri kita untuk melihat foto-foto yang mungkin isinya tidak penting, namun bisa membuang rasa kesal dan marah yang terkadang tidak berguna itu.
Terimakasih sudah mau menjadi bagian dari hidupku. Kamu sangat berarti bagiku. Aku tidak tahu bagaimana masa depan yang akan kita hadapi, pastinya aku sangat bahagia bisa belajar banyak dari kamu. Maaf karena aku tidak pernah meminta maaf terlebih dahulu, dan maaf karena kamu terlalu sering berhadapan dengan egoku.
Sekarang, aku sudah bisa menerima diriku apa adanya. Aku juga sudah mengerti bagaimana kelemahan dan kelebihanku perlu aku terima. Yang pada akhirnya, aku sendiripun saat ini sudah bisa menerima kamu sepenuhnya. Menerima hubungan kita dengan segala risikonya. Segala tangis, tawa, sedih, ataupun bahagia yang akan kita hadapi. Aku sudah siap hingga bertahun-tahun yang akan datang. Dan sekarangpun aku berani bicara tentang masa depan.
Yang ingin kukatakan saat ini kepadamu adalah
Aku ingin mencintaimu, lebih dari ini.
🙂

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
#embracingmyself eps. II
Dear Siti,
Terimakasih atas segala kebaikanmu. Sungguh, kamu adalah orang pertama di Malang yang aku kenal yang tulus banget ke orang lain. Selama aku mengenal kamu, ketulusanmu itu bener-bener buat aku kagum. Sifat itu yang selalu aku tiru dari kamu. Bagaimana kamu memperlakukan teman, saudara atau bahkan seorang tamu yang datang ke rumahmu. Aku kagum sekali Siti. Karena aku merasa aku belum pernah diajari ketulusan seperti itu di kehidupanku sebelumnya. Karena ketulusanmu kepada orang lain itu membuatku sungkan. Aku sungkan untuk sekedar minta tolong ke kamu. Sedikitpun Siti, aku tidak pernah berniat meminta apapun dari kamu. Aku cuma bisa berharap semua kebaikanmu dibalaskan oleh Allah. Aku cuma bisa mendoakanmu, Siti. Karena aku rasa kehadiranku tidaklah cukup untuk membalas setiap kebaikanmu.
Siti, terimakasih karena kamu ada di saat aku butuh. Terimakasih juga sudah melindungiku sejauh ini. Jujur, aku merasa terlindungi. Hanya dengan bisa bercerita ke kamu. Setiap aku cerita hal apapun ke kamu, aku selalu mendapatkan satu atau dua hal yang membuatku sadar, merenung, dan mempelajari itu. Hal yang mungkin harganya lebih mahal dari keberadaanmu. Yaitu, kata-kata ajaib yang keluar dari mulut seorang Siti. Kata-kata yang mampu membuatku kuat, berani, dan percaya diri. Kata-kata yang cukup untuk merecharge diri dari seluruh emosi dan pikiran yang aku alami.
Siti, setelah mengenalmu, aku semakin ingin menjauh darimu. Kamu tahu menurutmu mengapa? Karena aku ingin menghadapi diriku yang sedang mengalami krisis, Siti. Aku ingin fokus mempelajari dan membenahi diri. Karena tiap bersamamu, aku selalu merasa masalah sudah berakhir. Namun, pada kenyataannya, masalah itu terus muncul. Lalu mengapa aku tidak menceritakan semuanya kepadamu? Sebenarnya hampir semua masalah hidup aku sudah ceritakan kepadamu. Namun, aku tidak ingin masalahku menjadi masalahmu juga, Siti. Aku ingin menghadapinya sendiri. Apakah aku terlalu egois hanya untuk menghadapinya sendiri? Aku pun tidak tahu, Siti. Yang aku tahu hanya aku tidak ingin kamu ikut terluka, sedih dan merasakan penderitaanku. Aku terlalu sayang ke kamu, Siti. Kamu terlalu baik untuk mendengar semua ceritaku.
Lalu, apakah hubungan kita merenggang? Aku tahu, ini adalah risiko dari semua yang aku sudah putuskan. Aku tidak masalah bagaimanapun hubungan kita nantinya, yang pasti aku ingin kamu tahu, aku masih merindukanmu, Siti. Salah satu orang yang aku percaya di hidup ini. Salah satu orang yang mau mendengarkan setiap cerita hidupku. Namun, akulah yang pergi. Akulah yang menjauh.
Terakhir, terimakasih atas setiap detik yang aku bisa habiskan bersamamu. Aku masih ingat kata-katamu Siti, bahwa kamu bercita-cita untuk kuarter date dengan pasangan kita masing-masing. Aku masih menantikan itu, Siti.
Sampai jumpa di kehidupan lainnya. Aku bahagia pernah kenal denganmu Siti.
🙂
#embracingmyself eps. 1
Dear Siti,
Gimana kabarnya? Aku udah lama ga ngehubungi kamu ya? Sebenernya, aku ga ngehubungi kamu bukan berarti aku ga sayang sama kamu. Tapi, justru aku merasa aku ingin kita saling berkembang dengan diri kita masing-masing.
Terakhir kali aku ke rumahmu, yang ada Raras datang menyusul, yang sebelumnya aku cerita tentang kondisi hubunganku dengan Zahra, aku sengaja membiarkan kamu untuk tahu ceritanya seperti itu saja. Mungkin harusnya kamu tahu, sebenernya ada cerita di baliknya yang aku ga mau kamu tahu. Kenapa? Karena aku terlalu sungkan untuk orang lain tahu perlakuan orang lain kepadaku.
-kilas balik-
Sebenernya, saat 2016 kejadian itu (kejadian yang aku ceritakan, yang aku memergokin Momo dan Zahra berduaan di kampus) terjadi, hubunganku dengan Zahra memang sudah tidak sedekat dulu lagi, kami sudah tidak sejalan, sudah tidak pernah saling menyapa juga. Awalnya, dulu memang aku dan Zahra selalu berdua kemanapun kami pergi, mulai dari ke kampus hingga sekedar jalan kaki buat refreshingpun, kami selalu berdua. Aku juga dikenalkan Zahra dengan teman-temannya dari Gorontalo, diajak nonton bareng mereka, dan sebagainya. Saat di kelas, kami hampir selalu duduk bersebelahan. Hampir? Ya, karena duduk kami disiapkan oleh Shabrina tiap harinya. Jujur, aku ga pernah titip bangku ke siapapun ketika di kelas (karena menirutku ga adil aja buat yang dateng lebih awal). Dan ketika aku tahu tentang OMEK2, ternyata aku baru sadar kalau disekeliling aku dan Zahra (di kelas) itu temen-temen sealiran dia (yang mana pada saat itu mereka udah mulai berteman dan dekat). Sampai suatu hari, aku datang ke kelas lebih awal, namun bangku biasanya aku duduk udah di tempati, tersisa 1 di sebelah Shabrina. Aku datengin. Ternyata aku ga boleh duduk di bangkunya karena katanya buat Zahra. Ya okelah, sejak itu aku merasa kecewa. Aku sadar, selama ini Shabrina ga menganggap aku teman :( keliatannya lebay ya, tapi beneran deh Sit, pas di kondisi itu, aku sedih banget :( Akhirnya aku pindah tempat duduk, di depan, seorang diri. Dan mulai saat itu aku menanamkan ke diriku buat tidak terlalu percaya orang lain. Aku merasa aku belajar. Setelah kejadian itupun, Shabrina ataupun Zahra tidak pernah mengajakku untuk bersama lagi. Dan aku semakin yakin, untuk tidak kembali lagi. Aku semakin sadar, aku akan mencari dan belajar tentang jati diriku. Sendiri. Belajar mandiri, dan segalanya. Kejadian itu sebelum tahun 2015 terjadinya. Aku sudah mencoba merujuk dengan banyak cara, Sit dengan mereka tapi aku sadar mereka sudah tidak menganggapku seperti aku dulu merasa bagaimana mereka menganggap aku dan mereka.
2015 aku ingat mencari kostan sengaja di daerah Sigura-gura karena aku bertemu dengan lingkungan yang bisa menerima aku, dan aku gamau kehilangan mereka, Sit. Mereka tinggal di sekitar Sigura-gura, sehingga aku berharap bisa lebih dekat dan mengenal mereka. 2015 aku dapat info kalau Zahra berencana pindah kostan, aku segera menghubungi dia, buat ngecek kondisi kostan dan akhirnya aku pindah di kamar di kostan lama dia. 2015 aku bahkan belum dekat atau "sadar" keberadaan Momo. Selama tahun2 itu, aku masih dekat dengan kamu, Raras dan Ruth dan juga dengan lingkungan baruku.
Sampai akhirnya 2016 kejadianlah yang pernah aku ceritakan ke kamu terakhir kali kita bertemu. Dan saat itu (kejadian Momo dan Zahra), aku benar-benar terluka Sit. Dengan kondisi, aku dan Zahra sudah tidak sedekat seperti tahun 2014, rasanya itu sangat wajar. Hal pertama yang terjadi setelah malam itu adalah aku minta putus ke Momo. Bukan karena takut kehilangan teman (Zahra), tapi aku gamau terluka. Aku ingin melepaskan hal yang membuatku terluka. Karena aku rasa, orang yang bisa melindungi hatiku ya cuma aku. Selain itu, di waktu itu Momo adalah satu-satunya "teman"ku, Sit. Jika waktu itu Momo mengabulkan, aku mungkin sudah kehilangan 2 teman saat ini.
Kenapa aku cerita ini? Karena waktu itu kamu menasihati aku, untuk jangan mengorbankan teman hanya karena laki-laki. Sebenarnya waktu itu, aku ingin cerita ini supaya kamu tahu, siapa temanku saat itu hingga saat ini.
🙂
Embracing my new life as an Instagram model😌🤪 • • • #EmbracingMyself #InstagramModel #EmbraceYourWeirdness #FashionBlogger #ButNotReally #RunMeLikeARiver #50ShadesOfAle #Model #ButNotReally #TattoedGirl #ILikeHashtags (at Salto De Jima) https://www.instagram.com/p/B0jujKsjUtn/?igshid=18kvzr8fc0ftp