beberapa hari yang lalu pernah coba joging tapi gak pakek onderdil dan jilbab aku slempangin ke belakang,itu aja rasanya udah puas banget, pas banyak yang merhatiin :D

seen from Canada
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Japan
seen from United States
seen from Russia

seen from United States

seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Argentina
seen from Albania
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Germany

seen from Australia
beberapa hari yang lalu pernah coba joging tapi gak pakek onderdil dan jilbab aku slempangin ke belakang,itu aja rasanya udah puas banget, pas banyak yang merhatiin :D

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Beli takjil tapi pengen takjil_atin
Tapi pas bulan puasa, Aq pernah sih beberapa kali. Disclaimer dulu ya, Aq sebenarnya nggak berhijab. Tapi kalo bulan ramadhan, itu kemana mana kudu berhijab. Nah, itu kan ribet, jadi Aq kadang keluar kayak ke warung atau beli batagor dekat rumah itu suka ga pake daleman. Ya biar sat set aja. Tapi Aq notice mas2 n bapak2 di sana tuh ngeliatin tetek aq yg keliatan nggak membusung seperti yg pada pake bra kan. Ada momen di mana, entah Aq kesambet apa, Aq jalan-jalan ke taman dekat komplek perumahan pas menjelang buka puasa. Di situ banyak yg jualan takjil, rame jadinya. Aq pake daster yg ada kancingnya kayak kemeja gitu, trus pake bergo lebar panjang, tapi kancing yg bagian dada nggak Aq kancingin, jadi teteknya Aq keluarin dari daster trus gondal gandul di balik bergonya. Rasanya sejuk dan deg2an banget, tapi seru. Aq waktu itu bediri2 dekat orang yg lagi siap-siap jualan sama orang2 lain yg mau beli. Kalo ada mas2 deket situ, Aq sengaja sedekap gitu biar tetekku keangkat dan itu keliatan nyeplak gitu pentilnya, Aq yakin mas2 itu pada notice. Trus pas jualan rame, orang pada desak2an, Aq sengaja nempel2in dadaku ke lengannya cowok2 yg ada di sana. Aq angkat dikit kan bergonya, biar teteknya nempel ke kulit lengannya si cowo, trus sengaja Aq gesekin pentil Aq ke lengannya gitu. Deg2an banget pas ga sengaja kami liat2an, dia nyadar tapi Aq diem aja. Berharap banget diremes atau apa gitu, tapi si cwo itu cuma diem juga. Akhirnya Aq melipir, duduk2 di bangku yg jejer2 itu, makan jajan, trus pulang.
Jalan Pagi
Waktu masih kuliah, Irma sering ngekos di daerah dekat kampus dan pertokoan. Pagi menjelang subuh, ia suka keluar jalan pagi sendirian. Gadis itu hanya mengenakan kaos T-shirt longgar yang agak kebesaran dan celana pendek basket. Di balik celana tipis itu, ia tidak memakai celana dalam.
Udara pagi masih dingin dan gelap gulita. Lingkungan sekitar kos lebih mirip kavling siap bangun, sepi tanpa satpam atau pagar. Irma berjalan pelan menyusuri jalan perumahan yang sepi. Setelah merasa aman, ia memberanikan diri melepas celana pendeknya. Dengan tangan kanan ia menenteng celana itu, sementara kaos longgarnya hanya menutupi sampai pangkal paha.
Angin pagi langsung menyapa area intimnya yang sudah mulai basah karena sensasi gairah dan ketegangan. Putingnya mengeras menusuk kaos tipis. Irma berjalan terus dengan hati-hati, mata dan telinga siaga. Kalau ada suara motor tukang sayur atau orang yang nongkrong di depan rumah, ia siap memakai celana dalam sekejap.
Sesampainya di jalan besar, Irma langsung memakai celananya lagi karena sudah ada beberapa kendaraan yang lewat meski masih gelap. Tapi begitu ia masuk ke area parkiran ruko yang masih tutup total, ia melepas celana dan kaosnya sekaligus. Kini Irma berjalan telanjang bulat, hanya menenteng bajunya di tangan. Payudaranya yang kencang bergoyang lembut mengikuti langkahnya, sementara angin pagi meniup langsung ke selangkangannya yang licin.
Tanaman hias dan pohon-pohon rimbun di pinggir area parkiran memberinya sedikit perlindungan dari pandangan orang yang lewat di jalan besar. Irma merasakan adrenalin yang luar biasa. Ia berjalan lebih pelan, menikmati sensasi telanjang di tempat terbuka.
Akhirnya ia tiba di pelataran sebuah komplek gedung serbaguna. Gedung itu biasanya hanya ramai saat ada acara, jadi pagi buta seperti ini benar-benar sepi. Irma memberanikan diri berkeliling di halaman luas itu sambil tetap telanjang. Kakinya yang telanjang menyentuh ubin dingin yang basah embun. Payudaranya terasa berat dan sensitif, putingnya semakin keras karena udara dingin.
Ia berjalan mengelilingi gedung, sesekali berhenti di balik pilar untuk mendengarkan. Rasa was-was kalau ada tunawisma yang tidur di emperan gedung membuat jantungnya berdegup kencang. Justru ketegangan itu yang membuat tubuhnya semakin panas. Di tengah pelataran, Irma berdiri cukup lama dengan kaki agak terbuka. Jemarinya turun menyentuh klitorisnya yang sudah sangat basah dan membengkak, menggosoknya pelan sambil matanya terus memindai sekitar.
Sensasi telanjang total di tempat terbuka yang luas, ditambah angin pagi yang menyapu seluruh tubuhnya, membuat Irma hampir mencapai klimaks hanya dari sentuhan ringan. Tapi ia menahan diri, terus berkeliling sambil menikmati setiap detik rasa malu dan kenikmatan yang bercampur.
Setelah puas, Irma akhirnya memakai bajunya kembali sebelum meninggalkan area gedung. Ia berjalan pulang dengan napas masih sedikit tersengal, paha bagian dalam terasa licin, dan pikiran dipenuhi adrenalin yang membuatnya tersenyum kecil sepanjang jalan.
Pantai
Suatu sore di pinggir pantai, Irma berjalan sendirian menyusuri pasir basah saat air laut sedang surut. Gadis berusia 20 tahun itu tinggal di rumah yang tak jauh dari pantai. Angin laut meniup rambutnya yang panjang, membawa aroma garam yang segar. Sekitar 200 meter di depannya, Pantai Boom ramai dengan wisatawan. Orang-orang berfoto, bermain air, dan berjalan-jalan di tepi pantai yang lebih ramai.
Irma berhenti sejenak. Hatinya berdegup lebih kencang. Ide gila itu muncul begitu saja di kepalanya. Tanpa banyak berpikir, ia melanjutkan langkah mendekat ke area yang airnya masih dangkal, hanya setinggi betis orang dewasa. Ia memastikan jaraknya masih cukup jauh dari kerumunan, tapi cukup dekat sehingga ia bisa melihat gerakan orang-orang itu dengan jelas.
Dengan tangan sedikit gemetar karena campuran gugup dan excited, Irma melepas semua pakaiannya. Satu per satu baju dilempar ke pasir kering di belakangnya. Kini ia berdiri telanjang bulat di bawah cahaya jingga matahari senja. Payudaranya yang kencang terkena angin laut, putingnya mengeras seketika. Bulu halus di area intimnya basah oleh hembusan angin dan percikan air laut.Ia berjalan lebih dalam sedikit hingga air menyentuh pahanya, lalu perlahan berbaring di pasir dangkal. Air laut yang hangat menyapu tubuhnya, tapi tidak cukup tinggi untuk menutupi seluruh tubuhnya. Irma membuka kakinya lebar-lebar. Jemarinya langsung turun ke antara selangkangan, menyentuh klitorisnya yang sudah membengkak dan basah bukan hanya karena air laut.
Bayangan bahwa ada puluhan orang di Pantai Boom yang mungkin bisa melihatnya — meski dari jarak 200 meter — membuat Irma semakin terangsang. Ia membayangkan ada yang sedang memegang kamera, ada yang kebetulan menoleh dan melihat sosok telanjangnya di kejauhan. Jemarinya bergerak semakin cepat, menggosok klitorisnya dengan lingkaran-lingkaran kecil yang intens, sesekali memasukkan dua jari ke dalam vaginanya yang sudah licin.
Tubuh Irma melengkung. Payudaranya naik turun mengikuti napasnya yang semakin berat. Air laut kecil menyapu pinggulnya setiap kali ombak datang. Rasa malu bercampur kenikmatan membuatnya hampir gila. “Kalau mereka tahu… kalau mereka sedang melihat aku sekarang…” gumamnya dalam hati.Tak lama kemudian, orgasme datang dengan hebat. Tubuh Irma mengejang kuat, pinggulnya terangkat dari pasir. Ia mencapai klimaks yang intens, cairan tubuhnya bercampur dengan air laut. Ia menggigit bibir bawahnya keras supaya tidak berteriak, tapi desahan kecil tetap lolos dari mulutnya. Kakinya gemetar hebat saat gelombang kenikmatan itu menerjang berkali-kali.
Setelah orgasme mereda, Irma masih berbaring telanjang beberapa saat, dada naik turun, wajahnya memerah. Air laut perlahan membersihkan sisa cairannya. Ia tersenyum kecil, merasakan campuran lega dan adrenalin yang luar biasa.
Akhirnya ia bangkit, membilas tubuhnya sekali lagi dengan air laut, lalu memakai pakaiannya kembali. Seolah tak terjadi apa-apa, Irma melanjutkan jalan pulang menyusuri pantai, dengan sensasi hangat yang masih tersisa di antara pahanya.