tw : major character death, blood, vomit, angst, sorrow, hanahaki disease, unrequited love.
ibunya sering kali mengatakan kalau egi bermimpi terlalu besar di dunia yang kecil.
meski begitu, ia seharusnya jadi yang paling tahu bagaimana caranya untuk tak jatuh untuk hal penuh tipu daya seperti cinta karena hal-hal gila tetap dapat terjadi di dunia kecil yang ditinggalinya.
seperti bagaimana ia seharusnya mempersingkat kunjungan ke judy’s florist alih-alih membuang waktu untuk mengenal ian si pegawai baru — atau bagaimana ia seharusnya melupakan kalau daffodil merupakan bunga kesukaan laki-laki itu (egi bisa tahu hanya dengan melihat dari pin bunga di seragamnya, tradisi di judy’s florist.)
karena dari sekian banyak hal gila yang bisa dilakukan. di dalam kepalanya, egi justru memilih untuk 1) percaya dirinya tinggal di dunia yang lebih magis daripada pixie hollow: di mana langitnya serupa permen kapas, matahari baru terbit pukul sepuluh dan ia tinggal di rumah pohon bersama para peri; 2) ia hidup untuk menyukai bunga — dan tinggal di sana sambil merawat mereka adalah tugas utamanya.
kelopak bunga yang hidup selalu membuat hatinya senang. tetapi, sekarang mereka justru terus berjatuhan dari mulutnya. bentuknya kelopaknya mirip seperti pin bunga milik ian. dan warnanya terlihat berseri seperti saat cahaya mentari menari di atas kulit laki-laki itu.
ia berhenti makan maupun pergi ke luar. ia hanya terus batuk dan muntah. dan tak ada lagi agenda mampir ke judy’s florist sepulang kerja.
lantainya kini dipenuhi oleh bunga daffodil yang berserakan, seakan dunia penuh bunga yang ada di kepalanya menjadi nyata.
tetapi dadanya terasa sesak, dan cairan merah pekat mulai ikut menodainya.
egi merasa kesepian dan mulai menangis, tetapi lagi-lagi ia terbatuk dan memuntahkan bunga lainnya.
bahkan dalam mimpinya, bunga-bunga itu datang untung memangsanya. tetapi sekarang sulit untuk mengatakan apa warna asli bunga yang terus ia muntahkan. yang ia ingat hanya sosok terakhir ian yang dilihatnya di toko bunga.
rasa pahit sekaligus manis tertinggal dan menyekat tenggorokkannya. sementara akar-akar kecil terus meregang dan mengoyak paru-parunya. membuatnya terengah-engah, kehabisan napas. menenggelamkannya, sedangkan egi tak tahu caranya berenang.
sembulan puluh tiga — dan egi mulai kehilangan hitungannya.
padahal ia pikir akan punya waktu lebih untuk mengumpulkan semua kepingan kelopaknya untuk diberikan pada ian — jadi setidaknya ada sedikit kepingan dirinya untuk laki-laki itu simpan. tapi kelopak terakhir terlanjur jatuh ke lantai. begitu tragis. dan egi tak dapat merasakan apapun lagi setelahnya. mungkin karena itulah yang seharusnya dirasakan oleh orang yang menyedihkan sepertinya. karena ia selalu tahu bahwa ibunya benar: ia bermimpi terlalu besar di dunia yang kecil, dan dicintai adalah salah satunya.
sekarang ia justru mati tercekik oleh hal yang dipujanya.
she was alone, dead, suffocated, unloved and surrounded by blood and flowers—but not just any flower, it's his favorite one.