10089
By : Marcia Damayanti / 1801375806 / DKV Animasi
10089. Yep, that’s me :D I was hoping it to be 24601, but eventually...universe said no #lesmisjoke. Okay. for the first time in forever, I’ll be writing the post in Indonesian~
10089 adalah nomor peserta saya di acara DV RUN 2016 yang saya ikuti pada hari Minggu, 4 Desember 2016 kemarin. Event ini diadakan oleh Komunitas Mahasiswa Buddhis Dhammavaddhana (KMBD) universitas Bina Nusantara.
Acara ini dimulai sejak pagi. Sekitar pukul 7.00, lokasi acara, yaitu Pasar Seni Ancol sudah dipenuhi oleh para peserta lari meskipun kondisi cuaca saat itu sedikit hujan. Tak lama kemudian, kami mulai melakukan pemanasan. Agak berat rasanya memulai pemanasan dalam cuaca dingin dengan rintik-rintik hujan. Tetapi semangat dari instruktur pemanasan membuat kami pun ikut bersemangat untuk melakukan pemanasan.
Kami mulai berlari sekitar pukul 7.30.
Saya berkumpul bersama teman-teman sejurusan saya. Kami tidak pernah berlari bersama, karena biasanya hanya 3-5 orang yang berlari. Sisanya akan terus berjalan sampai bertemu lagi dengan yang sudah lebih dahulu berlari. Mengejar para pelari itu cukup mudah karena biasanya mereka tidak sanggup berlari lebih dari 3 menit. Terkadang kami merasa yang kami ikuti bukan DV Run, tetapi DV Walk hahaha.
It was a walk to remember. Yah, biasanya waktu kami selalu tersita untuk pekerjaan dan tugas-tugas kami sampai-sampai kami jarang menghabiskan waktu bersama. Paling hanya sekali-sekali kami menonton bioskop atau pergi karaoke. Apalagi, semester depan kami akan terpisah-pisah karena harus menjalankan program magang #dramatis #sentimental. Jadi, sepanjang jalan kemarin kami bercanda ria, bermain dengan obstacle, berfoto-foto, menikmati pemandangan laut sambil bernyanyi ‘How Far I’ll Go’ dari film Moana, sampai mengganggu kucing yang berkeliaran. Kami baru mulai berlari serius pada kilometer terakhir, tetapi kami masih sampai di garis finish sebelum pukul 9.00, sehingga kami masih mendapat medali, yay :)
Begitulah perjalanan 5K kami.
Setelah itu kami beristirahat sejenak. Kami duduk meluruskan kaki sambil menikmati jajanan dan musik yang disajikan di atas panggung. Jempol deh buat event ini, seru banget #applause #cheers #confetti.
Ketika mendaftar untuk acara ini, saya sebenarnya hanya mencari ‘pelarian’ hehe. Di kala UTS baru selesai, ditambah lagi mengikuti acara Binus Festival yang berlangsung 3 hari berturut-turut, jujur saja kami agak kelelahan dengan hal-hal yang berbau perkuliahan. Jadi, mengapa tidak menggunakan sedikit waktu untuk bergerak dan bersenang-senang? Kapan lagi...sebelum...magang... #breaksdownandcry #jk.
Kemudian, mengingat acara ini juga diadakan sebagai acara amal untuk anak jalanan, saya jadi mengintrospeksi diri sendiri. Bangun pagi, memacu diri sendiri, lari-larian di bawah hujan mungkin bukan hari Minggu pagi yang ideal untuk kita. Namun membayangkan bagaimana anak-anak jalanan yang tidak terurus harus menghadapi hal itu hampir setiap hari...sepertinya tidak pantas kalau saya mengeluh hanya untuk mencari alasan supaya bisa bermalas-malasan di rumah. Jadi saya belajar untuk memotivasi diri sendiri dan menunjukkan bahwa saya bersemangat. Semangat itu ternyata menular, sama halnya dengan kasus instruktur pemanasan yang sempat saya ceritakan di atas.
Oleh karena itu, saya juga ingin memberi pesan kepada teman-teman anak jalanan dan aktivis-aktivis anak jalanan supaya tidak mudah menyerah dalam menjalankan misi mereka. Apabila mereka melakukannya dengan semangat dan niat yang baik, pastinya usaha mereka dalam memperjuangkan kesejahteraan anak di Indonesia tidak akan sia-sia. Sering-seringlah mengadakan acara seperti acara DV Run ini, karena acara-acara seperti ini sangant membantu kami untuk kami lebih sadar / aware terhadap permasalahan sosial yang mungkin selama ini tidak pernah kita perhatikan. Penyertaan anak-anak jalanan di dalam acara juga sangat baik apabila dapat dilakukan. Di dalam acara ini, saya sangat senang melihat bagaimana panitia mengikutsertakan anak-anak jalanan di dalam acara, salah satunya untuk mengalungkan medali bagi para runner ketika mencapai garis finish.
Berdasarkan info yang pernah saya baca, anak jalanan di Indonesia saat ini jumlahnya mencapai 5 juta anak dan tidak kurang dari 240.000 anak hidup terlantar di 12 kota besar di Indonesia, dengan Jakarta sebagai kota dengan jumlah anak jalanan terbanyak. Kita tentunya tidak boleh membiarkan masalah ini berlarut-larut karena mereka juga adalah bibit-bibit penerus bangsa. Pemerintah melalui Menteri Sosial saat ini sedang mencanangkan program Indonesia Bebas Anak Jalanan tahun 2017. Ada baiknya kita ikut mendukung program tersebut sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Apabila tidak dapat terjun langsung ke lapangan, kita dapat mendukung teman-teman sukarelawan kita dengan menyumbang bantuan berupa dana, fisik, maupun moral. Beberapa sarana bantuan bagi anak jalanan pun sudah tersedia untuk masyarakat, di antaranya : Rumah Singgah, KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan), Griya Baca Kota Malang, dan Komunitas Peduli Anak Yatim dan Jalanan.











