Woo Dohee x Kim Haekyung from Dinner Mate (2020) fancam edit
seen from Yemen

seen from Guatemala
seen from Singapore

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Yemen

seen from United States

seen from Singapore

seen from Türkiye
seen from China

seen from United States

seen from Australia
seen from United States
seen from Russia
seen from China
seen from Germany
Woo Dohee x Kim Haekyung from Dinner Mate (2020) fancam edit

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
At some point,I put the chips and chicken into the lettuce and had a huge bite…that combo felt so good
He officially introduced himself, so he isn't stranger anymore.
Dinner Mate: Magic in the Ordinary
There are many good KDramas out there. Some of them, especially the hugely popular ones like Descendants of the Sun, Goblin: The Lonely and Great God, Mr. Sunshine, and the recent hit, Crash Landing On You, are epic stories of love set against a backdrop of war, historical upheavals, differences in political ideologies, and even differences in lifetimes. Against these settings, the emotions that fuel their romances become tied with the over-arching story that goes on around the protagonists. Often, the romance that happens in the story is almost as epic, and is the kind that demands great sacrifice, and it makes for a highly compelling and often unforgettable drama.
And then there are those that deal with the ordinary lives of ordinary people, and the magic that can sometimes happen in the mundane, ordinary things. To me, that was what “Dinner Mate” was like.
There was nothing special about the main characters of the story. They were neither born into wealthy families nor occupying a position of power. They didn’t play pivotal roles that could change the course of history. Woo Do-hee and Kim Hae-kyung were both regular people. The kind that one can bump into in one’s workplace, on the street, in the subway, at a restaurant. Their joys and heartaches were the kind that most people go through; there was nothing extraordinary about them.
And yet the way their story unfolds, in its seeming ordinariness, in itself becomes extraordinary. Two strangers who both suffered heartbreak, meeting each other by chance, and pursuing that meeting through dinners and conversations without any further commitment between them except the promise of companionship over meals. Both afraid of being hurt again, yet finding themselves drawn to each other, somehow. No names shared, no other information that would reveal their identities to the other.
Yet the friendship and intimacy that is borne of their shared meals turn into love, despite not knowing each other’s names. It only goes to show that what’s important is the real person behind the name and not the name itself. You can know the other’s name and be in a relationship that spans years, which was how it was for Kim Hae-kyung and Woo Do-Hee before they met each other, yet never truly know the other. And yet you can meet a perfect stranger and suddenly find that connection that makes you feel as if you’ve known each other all your lives, and the love that you found so elusive is right there with this person, just waiting for the perfect time in your lives.
There are so many things that I wish I could change with the way the drama unfolded. There are so many sub-plots and arcs I would take out if I could. And I would remove some secondary characters while expand the roles of the others. Yet what I would never change and probably would even expound on is the relationship of Kim Hae-kyung and Woo Do-hee. Their romance may not have been as epic as that of other KDrama couples, but to me, it’s just as beautiful, even more so than the others. It was simple and yet there was so much emotional depth to it. It was sincere. It was genuine. It was relatable. It was real.
Dinner Mate was far from perfect. It could have been so much more, but despite the flaws in the storytelling I found myself loving it. I know it’s because of Kim Hae-kyung and Woo Do-hee, more than anything else. They were the saving grace of a drama that, at times, didn’t seem to know which direction it wanted to take (is this a romcom or a straight makjang?) and whose story it wanted to tell (Yes, writer-nim, I know Lee Ji-hoon was a wonderful actor, but this wasn’t supposed to be Jung Jae-hyuk’s story of redemption and mental recovery. Nor was it supposed to be the chronicle of Jin No-eul’s journey into emotional maturity and business entrepreneurship.). I would give credit to Song Seung Heon and Seo Ji Hye, whose sincere acting and electrifying chemistry made me believe in the love between Kim Hae-kyung and Woo Do-hee.
There will be many other KDramas in the future, but Dinner Mate will remain in my list of favorites. It will be one of those dramas that I will go back and watch again.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
What does it feels like, having a relationship for 5 years with one person?
2020,
hubungan yang udah gue bangun selama ini telah menginjak tahunnya yang kelima. Bukan hubungan terlama yang pernah kalian dengar, tapi ini hubungan terlama yang pernah gue pertahankan. Sebutan ‘life partner’ bukan lagi hal yang berlebihan setelah benar-benar menjadi pundak satu sama lain. Hubungan lima tahun ini dipertahankan sembari sama-sama bertumbuh dan pelan-pelan mendewasakan diri. Bukan hanya saling mempertahankan satu sama lain, tapi juga sama-sama mengembangkan diri, menyesuaikan semua perubahan yang terjadi dalam diri masing-masing. Sebagian besar ombaknya bukan dari luar, tapi dari dalam diri kita sendiri. Berbagi beban tentang life crisis yang sama-sama kita pernah rasakan, berbagi concern besar maupun kecil yang muncul karena berubahnya lingkungan sekitar. Intensi untuk pisah juga bukan sesuatu yang tidak mungkin.
Ada masa di mana ombak di luar terlalu besar, kapal kita jadi ikut bocor sana-sini, belum kuat karena biasanya cuman dihadapkan sama ombak kecil. Saling rebut-merebut, siapa yang kali ini harus tambal lubangnya haha.
Beruntung, dari awal menurut gue kerangkanya sudah cukup kuat untuk dibawa berlabuh sana-sini. Masih butuh renovasi di beberapa tempat, tapi gak tenggelam.
Susah? ya susah… :D
Manusia bukan sesuatu yang konstan, manusia itu dinamis. Padahal ya comfort zone itu ada di saat semua gak berubah dan tetap di ‘tempatnya’. Jujur, setiap ada perubahan gue sering ngerasa cemas. Menurut gue, hal paling berat dalam hubungan 5 tahun ini ya adaptasi. Transisi dari anak SMA yang pikirannya hanya berkutat pada bucin-bucin-bucin menjadi mahasiswa yang 24 jamnya dibagi untuk banyak hal. Belum lagi dengan lingkungan baru, orang-orang baru, circle baru yang satu sama lain gak kenal. Beda dengan masa SMA yang bergaul sama itu-itu aja. Mungkin gak semua ngerasain hal yang sama, tapi biasanya cinta di masa SMA identik dengan hal-hal bucin, di mana kalian lagi dibutakan rasa kasmaran anak remaja. Saat jadi mahasiswa, mulai deh dihadapkan realita dan perubahan drastis di mana tadinya hidup kalian hanya satu sama lain, jadi punya hidup masing-masing, harus saling mengenalkan dunianya masing-masing lagi.
Selama 2 tahun terakhir, gue dan dia menjalankan hidup sebagai mahasiswa yang sama-sama sibuk. Jadwal saling ganti-gantian sibuk, kalau gue ada waktu dia engga, kalau dia ada waktu gue engga. Pada akhirnya, kita terbiasa buat quality time sembari cari makan di penghujung hari. Jadi keinget quote di salah satu drama korea favorit gue, Dinner Mate.
“Sometimes, you’re willing to give up on everything as long as you can have dinner while feeling the warmth from him.”
Kadang makan lagi setelah makan di kampus, kadang gak makan cuman nemenin, bisa juga makan di atas jam 12 alih-alih supaya bisa ketemu dan ngobrol sebelum menutup hari. Menurut gue, makan itu salah satu hal yang bisa mendekatkan orang. Salah satu kegiatan yang menyenangkan, healing, apalagi kalau dilakukan sama orang terdekat, sekalian deh curhat dan tukar cerita. Gue gak mau bahas secara psikologinya karena nanti harus cari sitasi lagi hehe, tapi makan memang suatu hal yang sering buat kalian ngerasa lebih baik kan? Sekali lagi, mau share salah satu quote favorit gue dari Dinner Mate yang merupakan dialog psikiater gila, Kim Hae Kyung, terhadap salah satu pasiennya yang nyaris bunuh diri karena rasa bersalahnya atas kematian istrinya dalam perjalanan menuju makan malam bersama malam itu.
“Couples who share meals together every day are happier than couples who share the same bed. That’s how important it is to eat together, face to face.”
Selama lima tahun, gue berusaha selalu menekankan dia untuk jujur di segala hal. Gue gak menerima white lies, tujuannya ya karena gue gak mau image yang gue kenal gak sesuai dengan apa yang dia rasakan, apa yang mau dia lakukan. Sayang juga kalau selama 5 tahun hanya kenalan dengan ‘topeng’ seseorang bukan? Di sisi lain, reality hits you. Semua orang bisa egois, even your partner. With or without his intention, it hurts. Gak menutup kemungkinan, gue pun pernah dibohongin untuk mengurangi perdebatan gak penting, tapi menurut gue pribadi, being lied to is the worst. So i prefer to accept every bitter truth.
Menurut gue, masalah hubungan yang terbilang cukup lama ini biasanya justru kenyamanan yang berlebihan, terbiasa menjadi ‘rumah’ satu sama lain. Hal ini pernah gue diskusikan dengan salah satu sahabat gue di mana saat itu gue mulai lelah menjadi ‘rumah’ seseorang yang hanya dikunjungi saat lelah, susah. “Cape gak sih, kita tunggu dia untuk ada waktu buat kita tapi begitu ada yang dikasih lihat cuman cape dan bete,” kira kira begitu curhatan gue saat itu haha. Pernah juga salah satu mantan protes, “Kita gak ada romantis-romantisnya, kayak sahabatan aja sangking deketnya. Jadi bosen”. Tapi, setelah dipikir-pikir ya namanya juga kita yang selalu ada dan siap kalau pasangannya jatuh jadi harus gimana lagi kan? Emang tugasnya saling jadi pundak satu sama lain. Yah justru mungkin kalau kita gak bisa leaning on each other’s baru bingung. Bersyukurnya adalah selama ini gue dan pasangan gue selalu menempatkan diri sebagai teman di segala hal. Rasanya kayak satu orang untuk berbagi semua moment. Bisa jadi temen nyanyi, temen motoran, temen nugas, temen diskusi, bahkan jadi fotografer-model. Menurut gue pribadi, kalo cuman jadi ‘pacar’ gak akan asik dan rawan jenuh. Ya itu pelajaran dari hubungan gue sebelumnya sih, makanya di hubungan ini gue berusaha menempatkan diri sebagai segalanya.
Terakhir, love is fluctuating.
People really changes the way they wanted to be. Ada saatnya bahagia, ada saatnya sedih, layaknya hidup aja. Mungkin gak selamanya bahagia, tapi semoga kalian yang lagi menjalankan hubungan bertahun-tahun gak lupa untuk menghargai dan mengapresiasi mereka yang selalu ada dan bikin bahagia. Please, don’t take them for granted, appreciate every little things. Jangan sampai karena mereka selalu ada, kalian lupa kalau mereka juga bisa pergi kapan pun mereka lelah atau merasa tidak dibutuhkan. Itu juga akan menghindari penyesalan di diri kalian kalau sialnya hubungan kalian gak berakhir indah. “Mungkin akhirnya tak jadi satu, namun bersorai pernah bertemu” kata nadin.
Semoga pertemuan itu gak ditemani dengan penyesalan karena kurang memperjuangkan, kurang menghargai, tapi ditemani rasa ikhlas dan suka cita karena telah berbagi manis dan pahitnya hidup.
Anyway, selamat merayakan 5 tahun kita bertemu, No.
xx
omg her piercing look