Dindarrel #1. Se-buah Doa
Kenalin nama gue Dinda. Ini cerita tentang gue dan Darrel. Makhluk ter-out-of-the-box yang pernah gue temui.
Gue kenal dia udah dari beberapa tahun yang lalu. Tak ada yang spesial dari pertemanan gue sama dia. Yang gue tahu, dia sahabat dari orang yang pernah gue kagumi saat pertama kali masuk ke perusahaan ini. Dan satu hal yang pasti, dia lebih muda dari gue. Sebatas itu. Hanya saja kebetulan gue pernah di satu tim proyek dengan dia saat gue tahun pertama kerja di perusahaan ini. Itupun gak lama, cuma sekitar satu bulan.
Ketika suatu hari dia begitu menunjukkan ke khalayak tentang ketertarikannya pada seorang perempuan setelah berusaha move on bertahun-tahun, gue mendukungnya. Tak jarang gue isengin, mengajaknya bercanda tentang hubungannya itu. Karena saat pertama kali gue di satu tim dengannya, dia termasuk orang yang tak suka dihubungkan dengan perempuan manapun. Mungkin saat itu dia masih belum bersahabat dengan luka masa lalunya. Dia pernah di tolak saat melamar seorang perempuan.
Ada satu kejadian dimana dulu ketika gue masih setim sama dia dan kebagian ketemu user diluar kantor. Kita yang beranggotakan 10 orang dimana 8 orang lainnya udah saling berpasangan, tersisalah gue sama dia. Kita emang memilih naik motor biar lebih efisien, karena daerah yang dituju kawasan padat penduduk dan sarangnya macet. Di loby menuju parkiran, dengan lantangnya saat seseorang di tim kita menyarankan biar gue boncengan aja sama dia, taukah reaksinya?
Yes! gue ditolak di depan umum, ya meskipun gue cuma ngeliatin doang dan bukan gue juga yang menyarankan. Cuma gue jadi bisa menyimpulkan kalau manusia satu ini beneran se-gak-suka itu dikaitkan sama cewe, kala itu.
Namun seiring berjalannya waktu, entah dimulai sejak kapan dia mulai berubah. Berita silih berganti menghampiri, ada yang bilang kalo dia lagi suka sama si A lah, habis jalan sama si B lah, atau habis nganterin si C lah. Belum lagi ada si D, E, F yang suka sama dia. Gue si menanggapinya dengan santai bahkan excited buat semakin godain dia.
“Jadinya mau sama yang mana nih? kemarin gue sempet nanya ke si A loh, katanya lo dipertimbangkan buat jadi pasangannya hahahhaha“
Berbulan-bulan gue di kasih proyek yang ada di Indonesia bagian timur. Sama sekali gue gak dengar kabarnya. Ditambah gue gak ada proyek yang beririsan lagi dengannya. Pikiran gue waktu itu cuma pengen cepet-cepet balik ke kota biar bisa liat gemerlap lampu metropolitan yang menghiasi malam. Gue juga rindu suasana berdesak-desakan di komuter line.
Satu semester sudah, akhirnya proyek gue kelar juga. Tibalah hari dimana gue harus berpamitan. Good bye east and welcome back west. Rutinitas gue di barat sebalik dari timur tetap seperti biasa. Berhadapan dengan monitor yang sambil sesekali mencuri pandang ke sahabatnya dia. Dia sendiri ada, tapi hanya sesekali ke kantor. Yang gue tau, dia masih sibuk dengan proyeknya yang di ujung pulau Sumatera. Kita hidup di dunianya masing-masing.
Tapi malam ini, tanpa aba-aba dia datang nyamperin gue. Menggenggam tangan gue. Ijin ke mampap gue. Membawa gue yang penuh kekurangan ini ke tempatnya. Yakinin gue kalo dialah yang paling tepat buat masa depan gue. Dia juga nerima semua masa lalu gue yang diselimuti dengan ke-insecure-ran. Padahal selama ini kita gak ada komunikasi selain saat ketemu langsung di kantor. Dan entah gimana gue mendadak jadi seyakin itu sama dia.
Tiba saat berjalan di karpet merah menuju pelaminan, gue yang agak dibelakangnya, karena gue harus sambil angkat gaun gue yang lebar, gue tatap terus punggungnya yang seolah bisa lindungin gue dari badai kehidupan yang akan datang. Meski gue kadang masih gak habis pikir sendiri kenapa gue ada disini, bisa duduk sebelahan dengan dia.
“Makasih ya 'dek', makasih buat semuanya. Gue janji bakal berusaha yang terbaik buat jadi istri lo. Mungkin lo emang lebih muda dari gue, tapi sikap dewasa lo yang tiba-tiba itu mampu mengubah sudut pandang gue terhadap lo. Sekali lagi makasih adek yang pengen banget gue panggil abang”
“Tinggal panggil gue abang aja kali, dari awal kita kenal juga emang gue pernah manggil lo kakak atau mbak? Enggak kan?”
“Iya deh abangku sayaaaaang. Btw gue masih kepo sampe detik ini, jujur deh lo kenapa mau nikahin gue?”
“Simple, karena kata temen-temen gue, lo kayaknya suka sama gue, buktinya lo deket-deket gue mulu, ya meskipun lo seringnya iseng, tapi aslinya lo rindu kan ngobrol sama gue?”
“Dih, pede banget. Lo tuh lucu suka salting kalo diisengin makanya gue suka”
“Nah kan ngaku suka sama gue wkwkwkkwk”
“Eh bukan gitu maksudnyaaaaaa, malu deh gue”
“Gue istikharah-in elo udah dari lama dan ternyata ini jawabannya. Lo sendiri kenapa akhirnya mau nerima gue?”
“Ada masa dimana gue ngerasa nyaman sama lo, terus sesekali dengan TERAMAT SANGAT MALU-MALU gue nyebut nama lo dalam doa gue”
-------------------------------------------------------------
“Jadinya mau sama yang mana nih? kemarin gue sempet nanya ke si A loh, katanya lo dipertimbangkan buat jadi pasangannya hahahhaha“
“Halah, lo sendiri gimana Din? Disini masih banyak loh yang single“ (termasuk gue, lo gamau sama gue aja Din? Gue emang sempet suka sama si A, tapi bentar doang, selebihnya cuma buat pengen liat reaksi lo, kalo gue deket-deket cewe lain lo gimana. Ah emang lo gak peka banget sih orangnya)
“Gue mah gampang, kan elo tuh yang jelas udah ada dan pada ngantri di depan mata” (Tuhan.. kenapa tetiba gue pengen dipilih sama Darrel ya? Perasaan macam apa ini? Enggak.. enggak.. dia tuh adek gue)