Blast from the past
seen from United Kingdom
seen from Canada
seen from Russia
seen from China

seen from Malaysia
seen from Chile
seen from United Kingdom
seen from Israel
seen from Sweden

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from China

seen from Greece
seen from South Korea

seen from United States
seen from China
seen from Germany
Blast from the past

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Menonton Dick Diver di The Tote
Circa 2016
Setelah menghabiskan satu tahun lebih memoles nostalgia, saya akhirnya dapat beranjak kepada kenyataan hari ini dan menyelesaikan tulisan tentang hari-hari terakhir di East Brunswick bersama Maria. Akan tetapi, mampukah saya mempertahankan keriangan dan segala perasaan bebas dari tanggung jawab dan pada saat bersamaan mulai mengkhawatirkan segala atribut orang dewasa seperti karir dan keluarga?
Malam Natal itu Al Montfort mengenakan kemeja kuning lusuh yang warnanya mulai pudar. Perutnya terlihat sedikit menonjol dan bagi saya, cara bicara, penampilan dan perawakannya sungguh mirip dengan Resi Sadewa, seorang teman yang banyak bicara soal masa depan ketika kami makan bersama di Yammie pak Toyong Sagan sebelum saya pindah ke Australia. Montfort, yang secara informal dikampanyekan sebagai Australian of the Year pada 2013, menjadi anggota yang paling banyak berinteraksi dengan penonton bersama drummer Steph Hughes. Sebelum pertunjukan dimulai, saya melihat fotografer Mia Mala McDonald ada di pojok kiri barisan paling depan, mengenakan kaos Calendar Days yang kusut, tapi terlihat putih bersih.
Penampilan Dick Diver malam itu adalah yang pertama usai lama absen dari panggung Australia semenjak merilis Melbourne, Florida di awal tahun. Pindahnya gitaris/vokalis Al McKay dan Rupe Erwards, masing-masing ke Inggris dan Swedia, menjadi alasan utama untuk kevakuman itu. Tiketnya, juga untuk pertunjukan kedua di Boxing Day, terjual ludes. Segera, Dick Diver mengawali penampilan mereka dengan Waste the Alphabet. Penonton dihentak dan segera menggoyangkan tubuh mereka secara serempak.
Saya pulang ke Melbourne di minggu terakhir saya bermukim di Australia dengan niat paling tulus: saya ingin menonton Dick Diver, minum kopi yang menurut saya enak dan naik roller coaster di Luna Park St. Kilda.
Di bus menuju stasiun kereta api Broadmeadows, saya tak bisa berhenti menggigil: saya pulang, selamat datang kembali di Victoria. Setahun yang lalu adalah hari-hari paling menyenangkan. Libur empat bulan diisi dengan menyusuri pantai-pantai di pesisir South Australia, lalu secara singkat pacaran sambil melihat hari berganti di Observatory Hill di Sydney usai bermain tangkap bola. Tapi, saya selalu bergetar mengingat-ingat kawasan-kawasan dengan kabel-kabel tram yang rumit di seantero pinggiran Melbourne, anak-anak muda yang berdandan penuh kebebasan didominasi warna hitam, semangat untuk terus tetap menolak tua, kopi-kopi terlezat atau perasaan hidup yang muncul dari keramaian-keramaian yang sesak melingkupi pertunjukan musik, toko buku, taman, tram atau bahkan gedung bioskop.
Tahun ini saya menghabiskan separuh musim panas di Melbourne, lalu secara berkala kembali untuk praktek konservasi buku selama musim gugur. Lalu setelahnya, tiba-tiba ketua jurusan program pascasarjana yang sedang saya tempuh bertanya ‘Apakah Anda bersedia untuk ditempatkan bekerja di kuburan?’, ‘Dimana?’, ‘Melbourne.’. Tawaran itu adalah kejutan paling hangat di akhir musim gugur, membuat saya berusaha keras menyembunyikan reaksi yang berlebihan – saya terakhir kali bertingkah urakan di perpustakaan universitas Melbourne sebulan sebelumnya, terkejut bertemu teman lama dan mendapat tatapan tidak menyenangkan dari seluruh pengguna. Maka, saya sekali lagi kembali kesana, menghabiskan rehat musim dingin untuk berurusan dengan arsip-arsip pembangunan mausoleum Williamstown di awal 1980an yang meninggalkan banyak pertanyaan.
‘Siapa itu Dick Diver?’. Saya memutarkan Maria beberapa nomor dan videoklip mereka sebelum kami berangkat ke pasar Prahran. Dick Diver, yang dipuji-puji media baik untuk musik maupun departemen liriknya mampu dengan cerdas menggambarkan ke-Australia-an pemuda hari ini, pertama kali saya perhatikan di poster tur Australia Real Estate musim panas sebelumnya. Dick Diver awalnya akan menjadi salah satu band pembuka, namun batal dan digantikan ‘saudara’ mereka, Twerps. Awalnya saya tak tertarik ketika mendengarkan Soundcloud mereka, tapi tahu-tahu sudah mengoleksi dua album mereka di penghujung musim dingin. Dick Diver memainkan musik yang melukiskan, juga membawa sinisme, kehidupan para pemuda kelas pekerja dan bagi saya, membawa romantisme kental tentang keseharian hidup di bagian-bagian pinggir kota yang saya ingat dan pernah alami. Edwards suatu kali pernah berucap bahwa mereka menyukai musik yang terdengar sedih. Tiap kali pulang-pergi ke kantor tempat magang di Adelaide, jadilah saya selalu memutar mereka di dalam bus dan rasanya begitu pas: inilah perasaan putus asa yang begitu nikmat. Courtney Barnett menunjuk Dick Diver sebagai band yang paling di-underestimate, padahal Calendar Days menyabet penghargaan Australian Album of the Year dari The Age.
Saya tiba di the Tote setelah band pertama, yang saya lupa namanya, pungkas bermain. Sudah jam setengah sepuluh dan saya menyesal tak mengiyakan tawaran Maria untuk membawa sepeda merahnya yang baru. Padahal, melihat besi sandaran di depan bangunan, banyak yang datang bersepeda malam itu. Saya memilih naik tram, yang artinya saya harus siap dengan resiko pulang berjalan kaki –tram terakhir biasanya lewat usai tengah malam, saat pertunjukan band juga baru usai. Masalahnya, saya harus berjalan kaki sekitar tiga blok sepanjang Johnston Street untuk menuju tram stop. Collingwood malam itu lengang, dan di kiri kanan jalan rumah makan nampak dipenuhi keluarga yang melakukan santap bersama. Band kedua, Terrible Truths, drummer-nya yang bernama Joe dan memakai topi berkebun berulang tahun dan disoraki penonton. Saya menikmati pertunjukan mereka meskipun cukup yakin, saya sebenarnya tak terlalu menyukai musik mereka. Usai mereka bermain, panggung kembali kosong untuk jeda pertunjukan.
Jeda pertunjukan, seperti ketika saya masuk, diisi para pemain, kru dan teman-teman (yang keduanya juga penonton) dengan minum bir dan mengobrol di halaman belakang yang penuh sesak. Seperti bisa diduga, semua orang kenal satu sama lain dan ini menjadi ajang bergaul. Saya tak tahan untuk terus melirik dan menguping dari kaca yang memisahkan panggung dengan halaman belakang, namun terlalu malu untuk bergabung, apalagi memulai percakapan meskipun seseorang, dengan aksen yang kental, sempat menanyai pendapat saya tentang Terrible Truths: saya menimpalinya dengan jawaban-jawaban singkat. Saya merasa déjà vu: saya berulang kali mengalami pengalaman untuk bersisian dan berinteraksi dengan sosok-sosok menarik ini, para peseni bawah tanah, seniman dengan publikasi terbatas, namun toh pada akhirnya saya belum pernah masuk ke dalam lingkaran pertemanan mereka. Dari informasi yang saya baca, the Tote sebenarnya merupakan arena pertunjukan bagi banyak band yang memainkan musik punk (cara Montfort memainkan bass-nya disebut-sebut banyak media bergaya punk). Gedung pertunjukannya kecil, pernah akan dirobohkan (dan dapat diduga, menuai protes keras) dan kita harus melewati bar di depan: membuat saya yang tidak biasa berkeliaran minum bir diluar kikuk.
Dick Diver malam itu tidak sendirian, ada dua pemain horn dan saksofon menemani mereka di sisi kanan panggung. Awalnya saya menyaksikan dari tengah namun setelah lagu ketiga, orang-orang di sebelah saya masih juga kaku dan malahan tak menyanyi sama sekali dan membuat saya merangsek ke baris terdepan. Sebelum membawakan Tearing the Posters Down, Montfort menyeletuk, ‘Ah, Posters…lagu ini soal Natal’, menyetem bass-nya, ‘akan tetapi, lebih tepatnya soal f**k Christmas!’, lalu lagu pun dimulai. Saya tak bisa, tentu saja, membohongi diri saya. Persetan dengan orang-orang yang datang hanya untuk berdiri ini, saya datang untuk bernyanyi dan menari. Posters pada akhirnya membuat penonton tak lagi terkendali dan di lagu-lagu selanjutnya, saya merinding menyaksikan semua orang mengangkat tangan –juga yang memegang gelas bir, dan mengepalkan jari sebelum akhirnya melepas baju mereka di 10 lagu terakhir.
Sudah lewat tengah malam dan pertunjukan baru saja usai. Saya mengecek tramtracker: Jurusan 96 terakhir sudah meluncur di Nicholson street dan akan tiba 10 menit lagi. Saya berlari di sepanjang Johnston street, lalu tiba-tiba sebuah mobil melintas dan kacanya dibuka, dari jendela muncul Mia Mala McDonald meneriaki saya ‘Hei Dick Diver!’.
Australia in November #Repost @pressplaypresents SUPPORT ANNOUNCED! PRIMO! (@primoparty ) Tickets selling fast. #kidcongopowers #badseed #terryband #dickdiver #totalcontrol #mickharvey #hugorace #primo #neardeathexperience #harryhoward #happybirthdayharry #edwinapreston #claremoore #davegraney #curtinbandroom https://www.instagram.com/p/B3ffBHHgG8G/?igshid=ppgb4mqijk0p
The Backstabbers - Shame hidiotic005
https://thebackstabbers1.bandcamp.com/releases
songwriting of the highest calibre my lord
elton john and sandy denny recorded demos in the 70′s? no. this is now.
failed connections and triumph. these songs are perfect. routine bites hard. laughter, always laughter.
rupert moved to Stockholm and the tape is out of print. this album will be compiled with new material and get the vinyl treatment it deserves. stay tuned
https://crawlspacemagazine.com/2014/06/16/listen-the-backstabbers-2002/
#lastfm #lastweek #gtlistens #gloss #muerte #posterchildren #dickdiver

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
7月のmusic!!! #lynntaittandthejetts #dickdiver #原田知世 #new #music #goodneighborsmusicvender 夏に窓を開けて聞きたい音楽たち、、、。 一緒にメロディーを口ずさむことがこの夏は何度あることか、、、。
sweatiest Christmas Eve that ever was #dickdiver @dick_divas #steamyas #phwoaaaarrr (at The Tote Hotel)