Satu Drum Sepuluh Ribu
Agustus 2015.
Kali pertama aku menginjakkan kaki di atas rangkaian papan kayu. Rasanya bergoyang-goyang. Tak heran terkadang limbung. Belum lagi harus menjangkahkan kaki lebih panjang, sebab ada rangkaian papan yang terlepas. Gelombang air laut yang tiada bisa di terka kedatangannya, lembut tenang atau malah sebaliknya.
Desa Bangko.
Sebuah takdir dimana aku harus melakukan perjalanan darat, udara, dan air. Merasakan berbagai fasilitas mulai dari VIP, ekonomi, dan seadanya. Waktu yang tidak sebentar untuk tiba di desa ini. Terlebih saya harus transit, menginap semalam di dekat dermaga karena laut sedang pasang. Apapun itu, aku lupa, soal jauhnya jarak, soal rentang waktu antara WIB dan WITA, serta soal rasa lelah dan penasaran. Sambutan warga terlalu hangat menerima kedatangan aku dan rombongan. Aku bersiap untuk mengenal dan belajar banyak hal. Aku orang “darat” yang akan merasakan bagaimana tinggal dan beraktivitas di desa yang mengapung di atas laut. Kayu besi setinggi 3-4 meter menopang kokoh rumah, masjid, sekolah, dan jalan penghubung setiap lorong desa.
Air.
Kebutuhan pokok yang sempat aku tanyakan. Air laut yang asin. Dimanakah aku mendapatkan air tawar? Di Jawa, aku terbiasa membuka kran. Memakainya sesuai dengan kebutuhan. Atau terkadang sedikit lalai untuk mematikannya. Mencuci baju dengan air melimpah ruah. Menyiram tanaman dua kali sehari. Mencuci motor. Bahkan mandi pernah juga sampai tiga kali sehari. Keberadaan air yang mudah didapatkan membuatku lupa. Lupa untuk menggunkannya dengan bijak. Di Desa Bangko boleh jadi air samudra melimpah ruah. Sementara air tawar berbanding terbalik.
Satu drum sepuluh ribu.
Aku belajar menghargai air. Ibu Aji, pemilik rumah yang aku tempati berpesan supaya aku baik-baik dalam menggunakan air. Untuk mendapatkan satu drum air, aku harus membayar sepuluh ribu. Tukang air datang setiap pagi atau sore. Tapi tidak mesti datang setiap hari. Pernah suatu ketika, persediaan air menipis, sementara terdengar kabar tukang air tak bisa datang. Aku urungkan untuk mandi. Aku cukupkan untuk wudhu dan minum. Hal tersebut tidak hanya terjadi sekali atau dua kali. Tak jarang aku berkunjung ke rumah lain menanyakan persediaan air. Menumpang wudhu atau menumpang mandi. Satu drum sepuluh ribu yang tak selalu ada, mengajarkan aku untuk menggunakannya dengan bijak, memberiku ruang untuk bersosialisasi, dan membuka mataku tentang indahnya berbagi.













