Mbak Opi, anak kedua nya Pak Hanafi.
Siapa itu? Nama asli nya Inayah Shofiyati panggilan bocah nya Shofi, diplesetkan jadi Opi.
Kata orang, harus nya pola untuk anak kedua lebih berhasil, orang tua lebih berpengalaman sehingga harapan nya lebih kompeten dalam beberapa hal, mulai dari masa mengandung, melahirkan dan membesarkan.
Kata orang, anak kedua itu enak karena kebutuhan nya pasti lebih lengkap meski ga mustahil ada peninggalan dari anak pertama.
Kata orang, anak kedua itu akan menjadi perbandingan dari anak pertama. Apa aja yang bisa dibandingin pasti dibanding-bandingin. Manusia baik sengaja maupun tidak hobi sekali melakukan kajian studi komparatif.
Tapi itu kata orang?
Gak melulu kan kita harus peduli dengan kata orang, ada yang perlu didengarkan jika memang baik, ada juga yang harus di masa bodohkan jika hanya menjadi parasit. Setiap keluarga memiliki khas dan nilai penerapan nya masing-masing. Dan aku yakin ada hal yang menjadi prinsip dari setiap orang tua, untuk tidak membeda-bedakan antara anak pertama, kedua dst. Tidak ada orang tua yang ingin melebihkan satu dari yang lain. Jikalau ada tentu semua nya demi kebaikan masing-masing, dengan tujuan yang luhur pastinya.
Sebagai anak kedua, tidak asing lagi klo orang menjuluki ku dengan nama baru "oh adek e Khusna nggih" "oh Niki adek e to, tak kiro sek mbarep" "Niki ndak Khusna, wes gede yo saiki" (belum dijawab juga udah pada jawab, padahal salah. Wqwq). Jadi anak kedua ya gitu, ingatan orang lain terhadap anak nya bapak adalah "Khusna" dan adik-adik nya. Wkwkwk. Paket hemat tanpa harus mengingat lebih.
Lalu? Sebagai anak kedua, dimana letak dan peran strategis mu untuk keluarga?
Yhaaa. Pertanyaan nya sulit, jawaban nya apalagi. Dari mbak opi untuk Kaina ditunggu jawaban nya, besok atau lusa, lebih dari itu akan berkurang nilai nya. :V











