Bagaimana kabarmu sore ini? Apakah lembayung masih menghiasi keyakinanmu yang semakin temaram? Aku adalah celah sempit yang berharap-harap cahaya akan datang di kegelapan.
Memastikan kedatanganmu ternyata bukan sebuah kemudahan. Ruang tunggu ini nampaknya harus benar-benar dibersihkan. Rindu harus diminta untuk pergi membeli perlengkapan penyambutan. Dia nampaknya paling tahu apa-apa yang akan membahagiakan.
Perjalananmu sudah sampai di mana? Sudah semakin dekatkah? Atau keraguan membawamu pada banyak persimpangan? Aku adalah pihak yang paling tidak berdaya menghadapi keraguan. Ruang hatimu belum mengizinkanku untuk mengambil tempat di sana. Sesulit itukah? Haruskah aku kembali memencilkan diri di ruang tunggu ini? Haruskan pintu ruang tunggu ini terkunci sekali lagi?
Ruang tunggu ini memang kuyu. Aku tidak sempat menghiasinya. Setiap hari rutinitasku hanya meladeni kegaduhan rindu dan waktu. Menjaga cinta agar petirahannya takterganggu. Kini cinta telah siuman. Kegemparan di sini semakin menjadi. Kali ini aku benar-benar harus meminta bantuan kesabaran.
Mungkin salahku, mengabarkan kehadiranmu pada saat yang belum tepat. Aku telalu bahagia sebelum memastikan yang datang benar-benar kamu. Bahkan jika tamu yang akan datang ini sudah berada di persimpangan terakhir, ia masih bisa berpikir untuk menyingkir.
Manusia ruang tunggu memang tertakdir untuk menerima. Tidak ada permintaan dalam kamus hidupnya. Mereka selalu berjuang untuk menghibur tangis, mengekalkan tawa. Sepi adalah sahabat paling setia.
"Tidak ada yang istimewa," pesan ini yang selalu diulang untuk menenangkan tamu yang akan datang. Kesenyapan adalah hiburan paling menyehatkan. Seperti pil pahit yang harus ditelan pada waktu yang sudah ditentukan. Apa boleh buat, semua demi kebertahanan, karena menjadi penghuni ruang tunggu adalah takdir yang sudah ditetapkan.
Sukab, aku sedang menyiapkan penyambutan untukmu. Ini sudah telanjur kami lakukan. Jika pun tamu yang sudah hampir sampai ini bukan kamu, kalaupun perjalananmu masih sangat panjang, kami masih tetap akan melakukan perayaan. Paling tidak, rindu dan cinta bisa mecicipi arti kebahagiaan. Lekaslah-lekas, jangan kalah oleh cemas. Kami masih di sini menunggumu bersama waktu.[]