Menghargai pendapat orang lain dan Dayus
Indonesia oh Indonesia. Semakin gw kepo tentang sejarah bangsa ini, semakin gw cinta Indonesia. Tapi ini bukan tentang nasionalisme yang secara umum didefinisikan, krna gw mencintai Indonesia karena nilai-nilai perjuangan pahlawan-pahlawan ny yg keren abis. Tentang Pangeran Diponegoro, Bung Tomo, Bung Hatta, dan para rakyat-rakyat terdahulu yang menunjukkan bahwa pertarungan bukan tentang senjata canggih lawan bambu runcing, tapi tentang idealisme dan prinsip yang harus diperjuangkan.
Jauh banget review ny. haha.
Ngobrol-ngobrol tentang Indonesia, ini gw tulis berangkat dari kondisi sosial humaniora negara ini pasca reformasi ‘98. Pasca itu, kebebasan berpendapat dan demokrasi semakin tak terkendali. Kalo kata orang-orang cerdas, ‘udah lewat batas’.
Emang apa dho hubungan ny dengan judul ny ?
Nah, ane cerita lagi dah. Pasca itu dan semakin hari, pemikiran-pemikiran yang masuk ke negara ini semakin banyak dan liar. Ini harus ditanggapi secara bijak oleh kita sebagai warga negara Indonesia.
Akhir-akhir ini kan banyak yah acara-acara diskusi, bertukar pikiran dan pendapat, sampai perdebatan panjang. Nah dari situ mungkin sebagian orang bingung menyikapi ny bagaimana kalo ada beda pendapat. Ada orang yang bilang “yah hargai aja pendapat orang lain” atau “ini menurut gue, terserah lo mau setuju apa ngga” atau yang juga sering “gw hargai pendapat lo”.
Kadang kan kita bingung dan bertanya-tanya, apakah kita harus menghargai segala pendapat orang lain ? Walaupun menurut kita “kaya ny ada yang ngeganjel dah”.
Trus tau-tau di Indonesia masuk pemikiran lesbian, homo, gay, dll. Apakah kita harus menghargai pendapat mereka ?
Nah ini berkaitan dengan dayus atau simpel ny ga peduli bahkan sama keluarga kita sendiri.
Kita samain persepsi dulu ya supaya ke depan ny ga salah persepsi.
Dayus itu definisi ny adalah sikap tidak peduli tentang (minimal) keluarga ny pas keluarga ny tuh berbuat hal-hal di luar nilai-nilai Islam. Dayus itu kalo kata para ulama “Seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu (karena iman) terhadap ahlinya (Istri dan anak-anaknya).” (An-Nihayah, 2/147; LisAN AL-Arab, 2150).
Supaya lebih jelas gini :
Dari Ammar bin Yasir berkata, ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:“Tiga golongan yang tidak akan memasuki syurga yaitu: Dayus, wanita yang menyerupai laki-laki dan orang yang ketagihan arak.”Lalu Sahabat bertanya:“Wahai Rasulullah, kami telah paham arti orang yang ketagihan arak, tetapi apakah itu Dayus?”Rasulullah menjawab:“Yaitu orang yang tidak mempedulikan siapa yang masuk (bertemu) dengan istri dan anak-anaknya.”(HR. At-Thabrani)
Gitu. Trus apa beda ny sama menghargai pendapat orang lan, kebebasan berpendapat dll ?
Ekstrim-ekstrim ny gini. Kalo sahabat atau keluarga lo ternyata ada yang gay, homoseksual, lesbi, termasuk hal-hal di luar nilai-nilai Islam, apa lo akan menghargai pendapat ny ? yang kata sebagian (kecil) orang adalah sebagai kebebasan berpendapat. Ya gak lah ! Itu dayus sob ! Lo mau masuk golongan yang ga akan masuk surga karna membiarkan orang lain menyimpang ? Yang cuma dalih untuk memuluskan hal-hal menyimpang di Indonesia. Ya gak lah !
Dengan catatan gini kawan, di awal-awal mungkin kita harus menerima kenyataan bahwa mereka (yang sudah masuk ke hal-hal menyimpang tersebut) sudah menjadi korban. Terimalah mereka apa ada ny. Terima mereka sebagai keluarga atau sahabat.
Tapi inget ! Sahabat atau keluarga ga akan membiarkan orang mereka tetap menyimpang. Di samping kita harus menerima dengan lapang dada, di dalam pikiran dan hati kita juga harus punya misi terdalam untuk mengarahkan sedikit demi sedikit bahwa itu menyimpang. Karna kita sayang mereka. Karna kita mau ke jalan kebaikan bareng-bareng. Dan karna kita juga ga mau masuk ke golongan orang yg ga bisa masuk surga.
Inti ny, terima dengan kesadaran penuh, tapi di lubuk hati terdalam kita harus punya misi untuk mengubah ny kepada jalan yg lebih baik.
Ngobrol-ngobrol, ini ga diterapin ke kasus-kasus yang gw sebutin aja, tapi juga ke pendapat-pendapat yang nyeleneh menurut Islam. Karna kita muslim (kalo lo muslim).
Batasan ny adalah hal2 yang prinsip dalam Islam, bukan cabang. Kalo kata mubaligh2 “Ga ada perdebatan dalam hal akidah”. Tapi boleh berpendapat dan menghargai pendapat dalam hal2 furu’ (cabang).
Gitu aja kawans. Selama kita bisa tenang dalam menyikapi suatu hal, dan selama kita masih bisa #asikaja dalam menghadapi tantangan, everythings gonna be oke ! Asal tetep akidah prinsip hidup lo.
Kalo kata Axel Djodi (salah satu rapper terbaik Indonesia), kita mati miskin Allah ga marah, ga punya rumah mati ga punya harta Allah ga marah, tapi mati tanpa iman ini kan yang marah.
The last. Kalo kata mas Darto the comment “Hidup itu murah, yang mahal tuh gaya hidup”. haha.
gw Yardho. Thanks udah baca.
Wasallam.














