Akhwat, Bukan Materialistis
Akhwat bukan materialistis. Hanya saja banyak hal yang terkadang perlu dia khawatirkan.
Suka hal glamour, suka yang cantik, suka yang menyejukkan hati. Dan yang paling penting, suka dengan gemerlap dunia.
Tapi suka itu bisa kalah dengan perintah tuhannya. Pun, alhamdulillah bila memiliki penuntun yang benar.
Akhwat bukan materialistis. Kami hanya realistis. Perlu memikirkan banyak pertimbangan, tapi yang paling tepat baik akhlaknya dan santun perangainya.
Karena sejatinya, perjalanan ini panjang. Ibadah terlama, pun jalannya panjang dan penuh liku. Belum lagi kalau si akhwat anak yang suka keliling dunia. Harus pertarungan batin dia.
Akhwat bukan materialistis, dia hanya penuh pertimbangan. Memangnya harta yang dibawa mati? Tentulah tidak. Tapi kalau hanya bermodalkan visi dan misi membawa ke surga. Itu impian semua orang.
Perjalanan terpanjang itu takkan mungkin dia serahkan pada orang yang bervisi standar. Tentu dia pilih dengan yang memiliki visi dan misi yang baik. Pun dia juga harus memiliki visi dan misi yang baik.
Karena bicara amanah ini, akan melahirkan sebuah amanah lain. Keluarga. Memangnya visi segeneral itu bisa di laksanakan dengan mudah bila keluarga tersebut tak bervisi dan misi yang jelas.
Kami tak mencari harta, tapi hidup berkecupan juga menjadi salah satu pertimbangan. Tapi perjalanan ini panjang, mari sama-sama siapkan pemikiran dan persiapan yang panjang. Karena yang kami cari adalah orang yang bervisi dan misi lebih dari harta.
Yang jelas, seorang akhwat. Tidak materialistis, tapi dia realistis.
Terlebih, perjalanan ini harus saling menyadari bahwa diri bukan orang terbaik. Berarti diri sendiri yang harus tahu mana yang paling tepat dengan visi misi diri.
Pertanyaannya, visi dan misimu sudah ada belum?
Tugas ini berat, dan bukan hanya pekerjaan satu pihak. Perlu disadari karena berjalan berdampingan itu terkadang sulit. Kadang ada yang tertinggal bahkan melambatkan langkahnya. Makanya perlu belajar, bukan sekedar cepatnya. Tapi pahamnyalah yang diperlukan. Karena hidup bukan tentang ada yang menemani. Perjalanan kita panjang, pasti sulit. Dan aku masih perlu banyak pendidikan.
Kami yakin, bahwa Allah telah siapkan semua sesuai porsinya. Belajar qonaah itu perlu. Tapi itu tugas kedua belah pihak. Bukan akhwat sendiri. Bukankah pekerjaan itu pekerjaan bersama? Mari saling mengingatkan.
- Dari aku yang suka futur