. Suatu ketika Salman Al-Farisi baru menjadi gubernur Madain, ia pernah dianggap kuli panggul oleh seorang kaya di kota itu. “Bawakan barang ini!” selorohnya. Rupanya dia tidak mengenal siapa Salman. Barang-barang itu diangkat Salman di atas bahunya. Setiap bertemu penduduk, mereka menawarkan diri untuk membawakan barang itu. Tetapi Salman menolaknya, hingga ia sampai di rumah si kaya. Selang beberapa saat orang kaya itu baru mengetahui bahwa lelaki yang disuruhnya adalah gubernur. Ia meminta maaf dan berkata, Saya berjanji tidak akan menghina orang sesudah kejadian ini untuk selamanya. Dalam keseharian, mungkin banyak orang yang keliru dalam menilai kita. Mereka gagal menginterpretasikan keinginan, pikiran dan tindakan kita. Kesalahan itu mungkin diikuti oleh kesalahan yang lain, yaitu ketika mereka memposisikan diri kita. Namun sangat disayangkan ketika banyak dari kita tidak siap dalam kondisi seperti itu. Kebanyakan beranggapan peniliaan orang lain cukup penting. Dan merasa terbebani dengan penilaian yang kurang baik. Padahal yang terjadi hanyalah ketidaktahuan. Seperti halnya orang kaya di negeri Madain. Dari gubernur Salman kita belajar. Tidak ada yang perlu di permasalahkan dengan ketidaktahuan dalam menilai. Semua dapat kita maklumi. Dari gubernur Salman kita juga belajar. Kemuliaan seseorang terletak dalam kemuliaan hatinya, bukan penilaian orang lain, bukan juga jabatan dan posisi. Semua akan baik saja ketika penilaian berpijak kepada kekuasaan Rabb-Nya. Tak perlu merasa terhina dengan penilaian seseorang. Kemuliaan seseorang juga ditentukan dari bagaimana mereka memahami dan menerima pendapat orang lain. Rasanya, bukankah indah ketika banyak ditemui orang seperti gubernur salman di masa sekarang ini? Sepertinya saya sedang merindu sosok Salman Al-Farisi hari ini. #CreatesFutureLeaders #InvestasiAkhirat (di Universitas Sebelas Maret) https://www.instagram.com/p/Buyy4hQFV2c/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1ur387w22v993












