"... Saya membiarkan kebiasaan counterfactual thinking sekali-kali ikut menyelinap. Memainkan beberapa what-if scenarios karena memang pemikiran manusia terbiasa untuk memutar ulang kejadian-kejadian masa lalu di dalam kepala. Pun ketika menemui kejadian-kejadian tertentu di masa kini. A psychological term. Ketika mendapatkan obyek ataupun kata pertama, otak saya merancang alternative options yang bisa saja saya ambil selain yang sekarang saya jalani. ..." Misalnya, kemarin sore saya kelupaan mengganti alas kaki dari sandal ke sepatu ketika pulang dari kantor. Saya baru sadar ketika akan keluar gedung, yang ternyata hujan masih deras. Saya tidak balik ke ruangan mengganti alas kaki. Lanjut pakai sandal dengan bayang-bayang resiko besok ke kantor bawa sepatu lain karena area kampus (walaupun tidak ada agenda mengajar) π Sampai di parkiran, saya nyebur sekalian di air yang membanjiri parkiran sekaligus jadi joki untuk mengambilkan motor teman-teman saya yang tergenang air hujan, sedangkan mereka pakai sepatu. It was fun! π Sementara kendaraan saya sendiri aman-aman saja, jauh dari area kenangan eh genangan π Saya sempat bilang kepada teman, bahwa fasilitas dosen itu salah satunya parkiran yang aman dari banjir (dan tentu saja saya ngarang hahaha) π So, what-if saya tidak kelupaan mengganti alas kaki? What-if saya memilih balik ke ruangan? What-if saya ogah nyebur ke air seperti biasanya? What-if... β«β«β« I had very early morning meeting and i kept being nocturnal creature last night π΄ What i did, exactly? Maha benar Netijen dengan segala keponya, klik : http://www.nikenlarasati.com/2018/01/18/ngayal/ *diuncalsandal Thanks. Bhay. β«β«β« #counterfactualthinking *bukanklikbet #tulisan #nikenlarasatidotcom #tb #TravelifeSingapore #instamoment #instaplace (at Singapore River)







