The Transactional Audit
Ada orang yang memperlakukan hubungan seperti logaritma; semuanya harus punya basis dan hasil yang terukur.
"Kau mau kado? Kalau kau mau, aku beri. Tapi aku tidak niat. Aku hanya ingin memenuhi ekspektasimu."
Kalimat itu adalah sebuah kejujuran yang telanjang, sekaligus bentuk penghinaan yang paling sopan. Ia memberikan benda, tapi ia membunuh esensinya. Ia ingin aku tahu bahwa kebahagiaanku adalah beban teknis yang sedang ia selesaikan.
Lalu di hari lain, ia bertanya tentang antrean maaf. Siapa yang harus bicara duluan? Siapa yang harus merunduk lebih rendah?
Aku yang memulai. Aku yang memberi. Lalu dia menutup pintu dengan satu kata: "Sama-sama."
Selesai. Transaksi berhasil. Berkas ditutup.
Aku baru sadar, selama ini aku bukan sedang menjalin rasa. Aku sedang memberi makan ego yang tak pernah kenyang. Aku sedang memandikan monster dengan perhatian, sementara dia sibuk menghitung berapa banyak sisa tenagaku yang bisa ia peras habis.
Seseorang bilang padaku, "Belum mati kok sudah masuk neraka duluan."
Benar. Maka hari ini, aku mengundurkan diri. Aku berhenti menjadi donatur untuk ego yang tidak punya kapasitas untuk mencintai.
Tidak ada mulai dari nol. Sebab nol dikalikan dengan apa pun, tetap akan berakhir kosong.












