Siapa suruh?
“Walau awalnya bukan panggilan hati, toh lambat laun malah rela untuk jatuh hati”
“Siapa suruh jadi perawat?” “Aku murni mau jadi perawat? Hahaha Rinta.. Rinta.. gak ada orang yang murni mau jadi perawat… apa anggapan orang tentang perawat? Tukang bersihin kotoran orang. Tukang bersihin yang jorok-jorok. Koreng, boroknya orang..” “Udah tante bilang, kenapa mau jadi perawat.. kenapa gak pilih jadi A? Kenapa gak pilih jadi B, C, D?” “Kan kena batunya, rasain. Kuliahnya capek, kerjanya capek.. harus shift-shiftan pula. Orang libur, kita gak libur..” “Salah gak kalo gue bilang, gue salah jurusan? Padahal udah semester akhir gini?” Yak. Hal diatas adalah sedikit dari ratusan pendapat orang. Ya, pendapat dari teman dekat, tante, teman dan teman sejawat. Lihat saja dari kata-katanya. Sempat tanya juga ke diri sendiri, kok aku terjun ke dunia ini, dunia keperawatan. Gak ada mimpi ataupun angan untuk bergelut dibidang kesehatan. Tak terpikir sama sekali. Yang aku pikirkan saat mendaftar di akademi keperawatan waktu itu adalah.. karena peluang saja, ingin coba-coba test selagi menunggu pengumuman kuliah universitas. Tapi ternyata aku lolos, dan orangtuaku mendukung. Sudah itu saja. Orangtua senang karena salah satu anaknya ada yang bergelut dibidang kesehatan, bayangan mereka, anaknya ini setidaknya bisa tau dan sigap kalau-kalau kedua orangtua jatuh sakit. Menjalani kuliah yang cukup menguras segala-galanya dibidang kesehatan, sebagai calon perawat. Dan akhirnya bisa lulus sehingga kini beralih menjadi pesawat.. eh perawat. Aku merasakan kemunafikan ini. Munafik! Jadi perawat itu memelihara sifat munafik! Apa yang membuat munafik? Berikut adalah berbagai kemunafikan perawat: 1. Perawat itu munafik, karena ia harus berusaha ramah dikala hatinya gundah. Ya. Seorang perawat harus menutupi segala masalah pribadinya. Rapat. Ketika bertugas, ia harus tetap menebar senyum kepada pasiennya. Pasien adalah sosok yang lemah, sedang sakit. Ketika pasien melihat perawatnya cemberut, ngomel tak jelas sana-sini. Apa yang terjadi pada pasien? Mungkin pasien akan lebih sakit ya :”) 2. Perawat itu munafik, karena ia harus tetap bertugas saat dirinya sakit Ketika perawat sedang sakit. Sakit ringan, flu atau kelelahan, perawat harus tetap jaga. Demi menjaga agar tak tertular dengan pasien, perawat memakai masker untuk menutupi flunya atau wajahnya yang lelah. Aku pernah liat seorang kakak perawat dipasangi infus oleh sejawatnya, karena ia sudah diare banyak hari itu. esoknya, ia harus segera sembuh, karena tuntutan pekerjaan. 3. Perawat itu munafik, sering melukai tapi tak mau dilukai Perawat sering memasangkan infus pada para pasien, untuk memasukan cairan dan obat pada pasien. Perawat juga sering melukai dengan menusukan jarum untuk pemeriksaan laboratorium. Tapi tahukan kamu, bahwa mungkan sebagian perawat itu juga takut jarum suntik dan gak pernah diinfus. Tapi sering menginfus orang. Apa yang diucapkan seprang perawat ketika akan menginfus? “Kalau sakit tarik nafas aja ya.. gak sakit kok.. kayak digigit semut aja…” padahal belum tentu perawat itu pernah diinfus. Nah untuk kasus ini, aku mungkin termasuk yang munafik. Karena pertama, aku tak pernah diinfus. Dulu saat menjadi mahasiswa dan latihan menginfus, diperintahkan untuk menginfus teman sendiri. Intinya saling menginfus. Tiba di giliranku, aku tak mau diinfus. Aku nyogok cokelat ke teman pria. Dan minta tolong, “Jangan infus gue balik dong! Gue kasih cokelat aja deh yaa !” aku bukan orang yang takut jarum. Tapi untuk diinfus, dan melihat jarum pamflon masuk ke pembuluh sepanjang itu, dan membiarkan plastik panjang itu berada di pembuluh darah, merasa tak tega sajaa. *alasan* hehe. 4. Perawat itu munafik, banyak pesannya “Nah kata dokter, kamu udah bolehh pulang dek.. seneng kan? Jangan jajan sembarangan yaa. Kurangin makan gorengan. Gorengan bikin batuk, banyak minyaknya… kalau bisa bawa bekal kalau sekolah yaa…” tuturku kepada seorang pasien anak yang baru sembuh dari thypoid nya. Padahal yang bicara itu mantan ber-penyakitan thypoid juga. Punya penyakit faringitis kronis, tapi tetep getol jajan dan beli yang berminyak. Tapi kalau pesan yang bawa bekal kesekolah, ya aku salah satu pelakunya hehe. Munafik ya? Maaf. Sebagai tenaga kesehatan memang harus punya pesan-pesan positif untuk pasiennya. Agar pasien bisa terus sehat dan menjaga kesehatannya. “Olahraga yang rutin ya mbak.. supaya tetap sehat. Sering-sering makan sayuran..” ucap seorang perawat. Padahaal.. perawat itu belum tentu olahraga rutin, selain olahraga jalan kaki bulak-balik lorong ruangan rumah sakit.. hehe. 5. Perawat itu munafik, karena harus dipaksa sabar Sejak baru menjadi calon perawat, seorang calon perawat sudah diajarkan etika keperawatan. Alias belajar bersabar. Sering dosen menugaskan untuk membuat Role Play. Yaitu adegan drama mengenai kondisi rumah sakit, yang diperankan oleh mahasiswa itu sendiri. Tugas itu untuk menguji sifat perawat ketika ada hal-hal yang tak diinginkan. Seperti kemarahan keluarga pasien dan lain-lain. Ketika ada keluarga pasien yang marah-marah menuntut A-B-C. Dan sebagai seorang perawat sudah merasa melakukan apapun sesuai tugasnya. Perawat tak boleh ikut terpancing marah juga. Seorang perawat harus tetap diam dan mendengarkan dahulu, kemudian berbicara dengan suara yang tenang, tak boleh ikut emosi. 6. Perawat itu munafik, tega meninggalkan keluarganya di jam orang-orang sedang libur Jadwal liburnya seorang perawat itu tak pasti. Kadang dihari minggu harus bekerja. Kadang shift pagi-sore atau malam. Perawat yang memiliki anak, harus siap meninggalkan anaknya. Dan tak ketemu jam libur dimana ibu dan anak berada di waktu yang sama: libur. Kadang ibu tak akan ketemu anak full seharian dalam seminggu. Karena saat shift pagi mungkin bertemu anak saat pulang dinas. Saat shift sore malah hanya ketemu anak pagi-pagi sekali saat menyiapkan keperluan anak sekolah, saat anak pulang, si ibu yang harus pergi bekerja. Kalau shift malam, ibu bertemu anak sebelum berangkat kerja, pagi saat pulang kerja, mendapati rumah kosong karena anak sudah berangkat sekolah, dan suami sudah berangkat kerja. Itulah kesan yang aku lihat pada kakak ruangan yang sidah memiliki anak. Ya, kadang mereka galau, berkeluh dan kangen sama anak mereka karena jarang bertemu lama. Kadang juga kakak perawat itu kepikiran anaknya, sudah makan belum. Sudah mandi belum. Jadilah saat jeda dan istirahat mereka menelepon orang rumah dan bertanya berbagai hal mengenai anaknya. 7. Perawat tak munafik, jika ia berharap memiliki ladang amal seluas-luasnya Tak ada yang bisa diharapkan menjadi seorang perawat. Mendapat gaji besar? tak semua seberuntung itu. Mendapat jaminan dihari tua? Tak semua seberuntung itu. Tapi ada satu yang bisa dipastikan, jika seorang perawat menjalani hari-hari kerja kerasnya dengan tulus ikhlas. Adalah, ladang amal yang seluas-luasnya dari Rabb semesta alam. Menjadi seorang perawat, walau awalnya bukan panggilan hati. Namun setelah dijalani, kembali meluruskan niat, memfokuskan menjadi ibadah, InsyaAllah akan terasa nikmat pekerjaan ini. ketika ikhlas dan bahagia pasien akhirnya tak ketemu kita lagi, alias sudah sembuh dan boleh pulang kerumah. Menjadi suatu hal yang menyenangkan, mendapati senyum mereka sambil bilang.. “Sus, pulang ya.. makasih ya Sus, sudah dirawat…*lalu bersalaman*” Pernah dengar hadist menjenguk saudara yang sakit? Seperti ini….. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang mengunjungi orang sakit atau berkunjung ke tempat saudaranya sesama muslim, maka malaikat akan mendoakan kebaikan dan keselamatannya dalam perjalanannya, serta mendoakan agar mendapat tempat di Surga”. (Hadits riwayat At-Tirmidzi) Rasulullah bersabda: “Orang yang menjenguk orang sakit itu berarti dia mengarungi rahmat Allah Taala dan jika duduk dekat orang yang sakit, maka dia tenggelam dalam rahmat Allah SWT ”. (Hadits riwayat Imam Ahmad dan At-Thabrani) Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa menengok orang sakit, akan ada yang memanggil dari Langit, “Engkau telah berbuat baik dan langkahmu telah benar, engkau juga berhak atas sebuah rumah di Jannah”. (Hadits riwayat At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah) “Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim yang lain pada pagi hari melainkan 70.000 malaikat akan bershalawat (mendoakan ampunan) baginya sampai sore hari. Jika menjenguk pada sore hari maka 70.000 malaikat akan bershalawat baginya sampai pagi hari. Dia pun berhak untuk memiliki buah-buahan yang dipetik di surga.” [HR. at-Tirmidzi dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu] Luar biasa ya. Perawat memiliki 3 shift, shift pagi, sore, malam. Jika ikhlas, luar biasa keutamaannya. Pada shift pagi, ketemu (menjenguk) pasien. Di doakan oleh para malaikat. Pada shift sore, di doakan pula oleh malaikat, pada shift malam yang selesai pada pagi hari, pun di doakan oleh 70 ribu malaikat. Apalagi kita sambil merawatnya? Wih. Alhamdulillah. Jadi, ketika kemunafikan perawat terjadi seperti point diatas, yakinlah kemunafikan itu tak akan merugikan. Perawat memang cukup munafik mengenai hal diatas. Tapi mereka memang harus melakukan hal itu, semua tindakan keperawatan memiliki rasional atau hal baik yang menajadi tujuan. Jadi, maafkan kemunafikan perawat ya! Sungguh, perawat tak akan se-munafik pencuri uang rakyat kok. Jika kamu perawat, berbanggalah, jadikan kemunafikan itu sesuatu yang bermanfaat. Munafik harus menutupi kesedihan? Tak apa. Daripada munafik untuk mentupi kesalahan kan?hehe. Baiklah. Tak ada yang bisa diharapkan menjadi perawat, selain kedamaian hati. Dan berprasangka baik pada Allah, dan menanti ladang itu.. ladang amal yang sudah disiapkan untuk siapa saja yang mau berbuat baik dengan ikhlas.
oleh : Rinta Wulandari
Cieee yang tiap hari praktek nya di taman surga :p













