Teruntuk Terkasih Tersayang Cinta Pertama (T3CP)
Sebagai wanita yang dominan Sanguine-Melancholia, saya ucapkan selamat meruwetkan pikiranmu sendiri. Kalau kangen, tinggal bilang. Kalau sayang, tinggal bilang. Kalau marah, tinggal bilang. Hidup jangan dipersusahlah. Sedangkal pikiran saya, seegois kemauan saya, kita diciptakan bersama dan itu hak paten saya mencintai anda. Kenapa saya bilang senekat ini? Karena anda cinta pertama saya. Sekali lagi, itu hak saya pribadi. Terima atau tidak, itu bukan kewajiban saya mencampuri. Sampai di sini anda paham, cinta saya yang menurut anda kumuh ini?
TERUNTUK sahabat masa kecil yang saya rindukan, Kenapa saya harus takut perubahan?
Baik hati dan pikiran, akan selalu berubah-ubah. Saya tahu, kematangan berpikir seseorang pun berganti-ganti. Saya tidak harus takut, cinta yang menggebu-gebu ini pudar. Saya hanya takut, anda yang saya rindukan, telah kehilangan diri.
TERKASIH kesayangan yang bersemayam dalam jiwa. Kenapa saya harus takut mencintaimu?
Mulut boleh saja berdusta, perasaan saya tidak. Maaf, saya telah temukan jati diri terlebih dulu. Saya mencintai jiwamu, bukan ragamu. Untuk apa harus kamu penjarakan jiwa. Saya hanya takut, kamu tidak memahami kemurnian cinta.
TERSAYANG penawar luka hati yang saya kasihi. Darimu, saya belajar mencintai kehidupan. Kenapa saya harus tetap bertahan oleh sikap kencangmu?
Telah saya hapus kesedihan hati karena rasa sayang ini. Saya tak perlu menjawab pertanyaanmu tentang ketertarikan saya. Bukan wilayah saya untuk merespon rasa penasaranmu. Bila kamu cukup jeli kamu sudah dapat membaca itu dari tatapan mata saya ketika melihatmu. saya hanya takut, kamu yang tertinggi di hati setelah Tuhan dan mama saya, berpaling menjadi kasar.
Dengan kekuatan pikiran, saya yakin kamu memikirkan saya. Saya tahu, saya paham, saya tak akan merubahmu. Saya tak akan merontokkan keteguhan hatimu.
Teruntuk, terkasih dan tersayang, itulah yang tumbuh dalam jiwa saya. Akan selalu tumbuh dan tak akan hilang.
CINTA PERTAMA, Ya... kamu cinta pertama saya. Biarlah kamu membenci kata-kata ini, tak ada yang bisa merubah ketetapan hati saya. Saya tidak akan takut sikapmu yang telah hilang, kekerasan dalam hatimu, dan juga kata demi katamu yang penuh amarah.
Sekali lagi, saya telah berbahagia mencintai jiwamu, karena meskipun sikapmu bertolak belakang, saya masih tetap bersahabat karib dengan jiwamu.
17/03/2017











