Tiba-Tiba Muncul | Rafa 2
Suatu pagi, masih di masa libur kuliah, Rafa iseng keliling-keliling rumah. Mana lagi yang tidak dikunjunginya bila bukan rumah indekost. Ia sekedar suntuk saja, bingung karena terbangun pagi namun tak ada yang dikerjakan. Ia ke lantai 2 berniat melihat depan rumah dari beranda. Sesampai di sana ia pun duduk santai.
Ia berada di balkon. Balkon itu diakses dengan pintu kayu bukaan ganda. Satu pintu tertutup dijadikannya sandaran saat duduk di kursi plastik ala pedagang kaki lima. Sedang asyik bersantai sambil mendengar musik, tiba-tiba muncul orang dari balik pintu.
"Eh, Mas?!" kata Aas kaget.
"Eh iya," jawab Rafa agak kaget juga.
Mukhlas pagi itu sedang ingin mengambil sepatunya yang ia jemur dari kemarin di balkon rumah. "Mau olahraga di deket stadion," katanya. Namun, lagi-lagi saat Rafa bertemu Mukhlas, si Mukhlas bertelanjang dada lagi. Saat ini bersarung bukan bersampir handuk.
"Kamu kok kayak ndak pernah pakai baju liburan ini?" tanya Rafa iseng.
"Hehe, eman mas bajunya," jawabnya seraya melanjutkan, "saya kan nyucinya pakai tangan."
"Lah terus nggak pakai toh emang sehari-hari?"
"Enggak, Mas," jawab Aas dan meledaklah tawa mereka berdua.
"Mari, Mas," katanya seraya pergi.
Rafa lanjut dengan santainya di balkon. Namun, tak lama sudah bosan ia berniat untuk pergi ke kamarnya lagi. Bosannya Rafa adalah karena perutnya sudah rewel meminta sarapan. Saat berjalan menuju tangga belakang, alangkah kagetnya ia melihat Mukhlas yang masih belum berangkat sedang bersiap-siap.
Tidak ada yang salah dengan bersiap-siap untuk olahraga, namun ia tidak menutup pintunya saat berganti pakaian untuk olahraga. Rafa kaget karena kondisi saat ia lewat adalah Mukhlas sudah mengenakan atasan jersey bola, namun bawahnya belum mengenakan apa-apa. Ia menghadap ke lemari dan sedang mencari celana.
Rafa yang niatnya kembali ke kamar jadi memperlahan langkahnya. Kesempatan kecil ini tidak boleh disia-siakan. Mukhlas dengan santainya mengenakan celana bolanya menutupi 2 bongkah pantat yang kecoklatan khas kulit Indonesia. Rafa berusaha untuk tetap melangkah namun tidak bisa hati kecilnya menahannya untuk tetap memandang kagum sebongkah persik yang matang itu. Sedangkan, orang yang dilihatnya sama sekali tidak menyadari keberadaan Rafa.
Lalu, suara pintu di depan kamar Mukhlas terbuka. Tanpa melihat, Rafa langsung tahu bahwa itu Geri. Rafa langsung turun agar tidak ketahuan bahwa matanya habis menikmati pantat Mukhlas yang indah.
"Jadi pinjem?" tanya Geri.
"Nggak sudah, gini aja dingin," jawab Mukhkas.
Rafa yang sudah tidak bisa melihat interaksi 2 orang idamannya itu mendengar dengan pikiran ke mana-mana.
"Nanti pulang beli CD, di Indomaret kan banyak," kata Geri.
Lohh? CD? Yang dipinjamkan Geri itu CD? Rafa pun berlalu takut malah tegak di jalan. Sampailah ia ke rumah utama dan menjalankan kegiatan lainnya.











