Surat di Penghujung Desember
Hmm, aku bukan yang pandai basa-basi. Kuharap kamu memakluminya.Â
Sebelum jauh membaca isi surat ini, mungkin kamu bertanya-tanya dalam pikiranmu..buat apa aku begini, mungkin juga kamu sedang geli sendiri sekarang, menertawaiku yang agak sedikit konyol menurutmu? hehhe.Â
Aku hanya ingin menuliskannya. Jadi, kalaupun kamu tidak membacanya sampai habis...setidaknya surat ini pernah ada. Bukannya bicara langsung atau mengirim pesan yang kupilih untuk komunikasi kali ini. Melainkan menuliskannya di sini, di beranda biru kesayangan. Walaupun sudah jarang juga aku singgah ke sini, setidaknya ini rumah buatku. Dan anggap saja aku sedang melatih diri untuk menulis kembali. Jadi seharusnya tidak masalah mau kamu baca atau tidak.
Hei, ingat tidak kapan kita pertama kenal? Aku lupa juga sih, tapi kucoba cari jejaknya. Ternyata sudah lebih dari lima tahun lalu. Dengan kerandoman kalian yang muncul dan hilang sesuka hati, lima tahun itu..sulit dijabarkan. Kita ini apa? Semoga buatmu, kita bukan sekedar orang asing yang pernah saling sapa ya.
Maaf...karena pernah merepotkanmu dengan kunjunganku beberapa tahun lalu. Maaf jika ada ekspetasi kalian terhadapku yang tidak sesuai. Maaf...tidak menghabiskan teh manis hangat buatanmu waktu itu, karena kemanisan. Maaf...sudah merepotkanmu lagi untuk mengantarku ke terminal sembari hujan-hujanan.
Maaf...jika pernah membuatmu risih dengan pertanyaan-pertanyaanku yang terlalu ingin tahu banyak tentangnya.
Maaf...jika pernah kekanakan dengan memaksakan pikiranku, yang buat kalian berpikir aku terlalu banyak berburuk sangka.
Maaf...atas sikapku dulu yang pernah sangat ingin dimengerti. Pernah memintamu memihakku daripada dia.
Maaf...kalau pernah membuatmu jengkel karena menganggumu dengan rasa putus asa dan kesalku terhadapnya.
Pernah ada yang bilang, kamu bukan tipe orang yang suka mikirin apapun berlarut-larut dan akan segera lupa nantinya. Sudah jelas buatmu, apa yang sudah lalu biar berlalu, mungkin juga menurutmu hal diatas berlebihan dan bukan hal penting. Ya, silahkan. Setiap orang kan tidak mesti sependapat.
Aku menulis ini terlebih untuk diri sendiri, biar tidak ada lagi yang mengganjal. Aku hanya ingin mencoba lepas dari resah yang tak jelas, tak pasti juga karena apa. Aku hanya sedang mencoba melepaskan rasa sakit dan marah yang tertinggal dan ingin memperbaiki satu persatu yang sekiranya masih belum selesai, menggantung tanpa kejelasan akan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab. Kamu..semoga paham.
Dulu kamu pernah bilang, terlepas dari hubunganku dengannya. Kita akan tetap bisa berteman, harus tetap menjaga hubungan meskipun dia tidak ada. Tapi realitanya agak sulit ya. Kamu sama dia itu sama, hobbynya hilang-hilangan. Pergi tanpa pamit dan datang tiba-tiba. Lebih lucunya lagi, kalian selalu memutus akses komunikasi lebih dulu. Waktu itu ku percaya, ada lagi kesamaan kalian, sama-sama keras kepala dan egois :P
Nia, Aku juga mau bilang terima kasih.Â
Terima kasih..sudah mau berkenalan. Terima kasih sudah mau mendengarkan dan juga membagi cerita-cerita random saat dulu.
Terima kasih...sudah mau menyambutku di kunjungan pertama dan terakhir waktu itu. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk sekedar piknik singkat. Omong-omong, aku rindu mochinya Sukabumi.
Terima kasih...sudah mau kembali menyapa lagi setelah hilang kontak beberapa kali. Terima kasih sudah mau memberi kabar tentangnya lagi di dua tahun lalu. Terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk kembali menyapanya di dua tahun lalu.
Terima kasih...sudah pernah menjadi teman yang baik. Teman sebaya yang lebih tua tapi malah menuakan orang lain, hahha sial. Terima kasih sudah menjadi si keras kepala yang tidak mudah luluh. Terima kasih sudah meyadarkanku secara tidak langsung.
Terima kasih ya, untuk semuanya.Â
Terima kasih, sudah mau meyempatkan diri untuk menyapa kembali setelah dua tahun. Seingatku yang ada masalah aku sama Dia, bukan kamu. Tapi kenapa ikutan menghilang juga?. Ah iya..mau gimana juga blood is thicker than water. Dan sejujurnya, sulit juga menepis ingatan tentang dia diantara kehadiranmu. Hehhe..maaf. Oya, besok-besok kurasa kalian tidak perlu menghilang lagi. Sebisa mungkin aku tidak akan menganggu. Atau..anggap saja kali ini aku yang menghilang pergi, meskipun aku tidak pernah kemana-mana.
Kurasa aku harus berhenti menulisnya sampai sini. Agar tidak perlu menyita waktumu lebih lama untuk membacanya. :DÂ
Selamat sore, dari Depok yang sedang gerimis sendu.