Lalai Padahal Membersamai
Satu hal yang seringkali membuat saya cemas dalam membersamai anak adalah saat saya menyadari bahwa anak saya sudah besar sementara saya merasa belum optimal dalam mendidiknya. Semacam “Hah kok udah gede aja sih deeek” yang akan semakin galau berlebih jika diikuti kalimat ini: “Duh udah telat belum yaa menstimulasi kamu dengan kegiatan ini” atau “Duh ini kan harusnya dikasih bulan lalu, ih Uma ngapain aja ihhh”.
Lalai. Kata itulah yang tepat dalam mendefinisikan ilustrasi kejadian di atas. Lalai padahal secara kasat mata terlihat 24 jam membersamai sang anak. Lalai padahal selalu ada di samping anak. Lalai padahal selalu mengamati tumbuh kembang anak. Akhirnya waktu berjalan sedemikian cepat dan baru menyadari ternyata banyak ketertinggalan yang harus dikejar. Lalai, akhirnya baru menyadari bahwa peran sebagai ibu dalam membersamai anak sungguh masih jauh dari kata optimal.
Dalam pengasuhan, membersamai anak memang bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan fisiologisnya saja. Bukan hanya memberi makan dari hari ke hari dan seterusnya hingga ia besar. Jika hanya demikian, kucing dan kambing pun sama mahirnya dengan manusia kan. Membersamai anak memerlukan kecerdasan, skill, ilmu yang amaaaat banyaaaak, memerlukan kinerja akal dan hati yang merupakan keistimewaan manusia yang telah diberikan oleh Allah. Karena membersamai anak sungguh tak boleh sekadarnya.
Lalai menurut saya bisa disebabkan karena dua hal. Pertama, sang ibu hanya menjalankan fungsi sebatas pada mengasuh agar tidak menangis, memberi makan, menjaga kebersihan anak, menjaga waktu istirahat anak, cukup. Karena rutinitas itu pun memang sudah amat melelahkan. Namun ia kurang ilmu tentang visi pengasuhan, tentang “bagaimana aku harus mengasuh dan mendidik anakku” atau kurang peka dalam mengamati tumbuh kembang anak sehingga alarm tanda bahaya tidak dapat dirasakannya. Alhasil si anak sudah terlanjur besar dan sang ibu panik, “Kok anakku bisa ngomong jorok sih, kok anakku gak peka sih, kok anakku emosian sih, kok anakku ga mau solat sih” dan berbagai problematika lainnya.
Kedua, sang ibu terlalu banyak mendapat arus informasi. Terlalu banyak input model pengasuhan x, y, z. Terlalu banyak galeri aktivitas yang semuanya ingin diberikan pada anak. Terlalu banyak teori yang entah dari mana sumbernya yang semuanya ingin diaplikasikan pada anak. Melupakan tahapan memahami karakter anak, dan itu tadi lupa akan visi pengasuhan, mau dibawa kemana arah pendidikan anak-anaknya. Yang penting terasa bagus, aplikasikan. Tanpa prioritas, tanpa adanya keterkaitan dengan tujuan. Alhasil ketika anaknya sudah besar si ibu masih panik dengan kalimat-kalimat: “Aduh kok anakku belum bisa menej emosi ya kan udah kuajarin mengenal emosi? Duh kok anakku ga bisa diatur ya, apa karena di sekolah alam ya? Duh anakku kok ga bisa bergaul ya, apa karena dulu sering aktivitas di rumah ya? Duh kok anakku cepet bosen ya? Duh kok anakku jadi ga tertarik sama semua mainannya? Duh kok di usia segini belum bisa ngaji ya? Duh kok anakku sekarang susah banget ya diajak belajar” dan berbagai problematika lain yang bisa terjadi ketika anak overload, overstimulated, bosan, lelah dan merasa dipaksa.
Karenanya dalam pengasuhan, penting sekali ditetapkannya tujuan. Ingin membentuk anak yang seperti apa sih kita? Adapun saya, saya meyakini bahwa apa yang kita lakukan dalam rangka mengasuh dan mendidik anak pasti akan dimintai pertanggungjawaban sementara Allah telah memerintahkan setiap orang beriman untuk menjauhkan dirinya dan keluarganya dari api neraka sebagaimana termaktub dalam al quran surat At Tahrim ayat 6. Jelas sekali, tujuan pengasuhan keluarga kami adalah menjauhkan anak dari api neraka. Tujuan yang berimplikasi agar saya membentuk anak saya nanti sebagai pribadi yang selalu menjauhi sebab-sebab dimasukannya manusia ke neraka dan sebaliknya melaksanakan hal-hal yang membuatnya dapat masuk surga.
Dan ketika tujuan tersebut akan diturunkan dalam bentuk aktivitas maka yang menjadi panduan saya adalah syariat. Yang nantinya akan saya gunakan untuk memperkenalkan kepada anak saya terkait apa saja yang diperintahkan dan dilarang Allah dan rasulNya sesuai Quran dan sunnah. Dengan demikian, langkah pertama saya adalah saya harus terlebih dahulu berilmu tentang syariat tersebut. Berikutnya mengaplikasikan ilmu tersebut dalam setiap tindakan, karena anak saya membutuhkan teladan bukan cuma perintah dan aturan.
Adapun dalam aktivitas lapangannya nanti, di tengah berbagai banyak pilihan kegiatan, saya harus fokus pada visi itu, mengeliminasi kegiatan yang jauh dari visi dan memilih mana yang sesuai untuk saya terapkan. Tentunya yang sesuai dengan karakter anak saya, sesuai tahapan perkembangan anak saya dan sesuai dengan tujuan pengasuhan keluarga.
Tentu tujuan pengasuhan ini nantinya akan memberi banyak batasan dalam aktivitas anak saya. Seperti bagaimana mengenalkan konsep Allah dan implikasi beriman pada Allah dan rasulNya akan menjadi prioritas utama pendidikan anak kami dibanding topik lain, bagaimana saya membiasakan anak dari bangun tidur sampai tidur lagi yang harus sesuai sunnah, memilihkan buku yang akan anak baca yang kontennya sesuai dengan syariat (nampaknya ga mungkin kami ngasih materi liberal atau kapitalis), ketika sedang ngetrend les musik, kami justru menjauhkan musik (yang mungkin masih pro kontra terkait haramnya namun kami memilih lebih hati-hati sebab sekali kenal musik walaupun genrenya baik, saya nggak akan pernah tahu kan bisa jadi suatu saat diluar pengawasan saya ia akan mendengar musik dengan genre tidak baik karena sudah kadung menikmati musik), disaat orang tua lain mengenalkan superhero marvel atau disney tapi kami memilih tidak melainkan menggantinya dengan sahabat shahabiyah, disaat ngetrend mengenalkan bahasa Inggris sedari dini tapi kami justru memperkenalkan bahasa al quran, keharusan menutup aurat menjaga pandangan dan menjaga interaksi kepada nonmahram, mengajarkan adab dsb. Intinya adalah mengajarkan anak tentang ibadah di agamanya dan mengenalkan apa yang dilarang oleh Allah dan rasulNya.
Dengan adanya tujuan, membuat saya lebih fokus dan tidak kalap saat menyaksikan betapa bagus dan banyaknya metode pendidikan anak yang informasinya sangat mudah diakses. Saya akan lebih bisa mengendalikan diri dengan berkata, “Bukan untuk itu anak saya dilahirkan”.
Dan tulisan ini adalah untuk menguraikan benang kusut yang stuck di kepala. Merefresh kembali apa sih tujuan pengasuhan anak saya. Dan untuk memudahkan saya pribadi dalam menjalankannya, sebab dalam tulisan ini masih rangkaian kata “harus” belum yang “sudah” saya lakukan, yang tentunya menuntut saya untuk menjalankan, tak hanya terbatas pada retorika.