Thursday, 24 June 2021
[2]
Proses 'Saling Bicara' tadi tentu tidak mudah.
Suaraku sudah bergetar, sudah pingin cry lah pokoknya, tapi aku harus berhasil nenyelesaikan hingga akhir.
Karena konsepnya 'Saling Bicara', jadi aku juga dapat masukan dong, hal2 yg aku kira biasa aja, ternyata bagi dia luar biasa. Hal yg menurut dia biasa, ternyata dampak nya ke aku, sampai bikin aku nangis 2jam padahal besoknya ujian. Hahaa. Drama abis yaa.
Sebagaimana aku punya keluhan akan beberapa sikap dia, dia juga punya keluhan akan sikapku, yg mana, aku bisa aja ngga notice kalau ngga diberitahu. Salah satunya, aku kurang 'perhatian'.
Aku pingin ngeles, “Aku perhatian cuma sama orang yg aku sayang aja. Lah elo siapa? Wkwkwkw” tapiii buru2 aku cegah. Ingat, saling bicara, tanpa ego.
Karena kadang, saat kita di kritik, pengennya bantaaah aja kan.😁 Bukannya langsung, “Oke aku salah, aku minta maaf, lantas apa yg bisa aku perbaiki untuk kedepannya.” Kebanyakan ngeles dulu wkwkwkw, pake 'tapi kan'; tapi kan aku begini karena bla bla bla (eh aku sih ini)
Tadi juga pas aku sampaikan, aku punya datanya berapa kali kamu begini dan begitu, terus malah dijawab: “Kayaknya kamu perlu ke dokter deh, hatimu penuh dengki, bisa2 nya nulis kok catatan keburukan” Ya Allaaaah rasanyaaa pingin kulempar kaca, wkwkwkw
Tapiiii ingat lagi, wahai diri. Pengendalian emosi. Jangan terpancing. Ego plis menyingkir dulu. 😂
-----
*Btw semenjak ikut EP aku jadi terbiasa punya data akan segala sesuatu. Biar jatuhnya saat berbicara itu based on data. Bukan menggeneralisir. Jadi ngga ada kalimat “Kamu tuh sukanya” atau “Kebiasaan deh”. Kebiasaan itu sebenernya berapa kali dilakukan? Jangan2 cuma 3kali dalam seminggu :')
Jadi sebenernya 'data' tadi tuh yaa buat catatan aku, bukan buat 'tajassus' kesalahan seseorang. Astaghfirullah, naudzubillah yaa.
Punya data yg lengkap juga berguna untuk membantu kita meningkat. Misalnya kita punya data marah seminggu tiga kali, terus karena kita terbiasa menulis progress, jadi tau, wah Alhamdulillah minggu ini aku meningkat cuma marah sekali misalnya. Dengan data dan catatan, kita jadi tahu, kita itu sedang meningkat atau justru stuck disitu2 aja?
Data ini bisa luas cakupan nya yaa, bisa akademik, ibadah, sosial, daaan lain2.
------
Alhamdulillah, it ended up with us yg saling memaafkan. Aku jadi tahu apa harapan dia dari aku, dan akupun jadi lebih lega karena sudah menyampaikan apa yg sebenernya aku mau, hal apa yg aku suka dan yg tidak aku suka.
Mengendalikan ego memang pekerjaan seumur hidup sih. Hmm, pekerjaan.😌 Komunikasi memegang peran penting disini.
Catatan sebagai self reminder untukku, bahwa memulai sesuatu yg baru tentu tidak mudah. Sebagaimana aku, yg sedang belajar untuk bisa mengungkapkan rasa. (kok kesannya kayak romance yaa wkwkw. Tenang, rasa kan luas, ngga hanya rasa cinta aja, tak iye? Rasa sedih, bahagia, kecewa, marah, dll.)
Tapii kalau tidak dicoba, kalau tidak dimulai saat ini, mau kapan lagi? Kalau tidak dicoba, mana tau kalau ternyata kita bisa, bukan? Kalau tidak mau mencoba, bagaimana bisa jadi piawai? Sebagaimana hestek nya tokopedia: udaaah #MulaiAjaDulu. Masalah hasil yg bagaimana, itu terserah Allah saja. Yang penting kita sudah memaksimalkan ikhtiar dan terus upaya, upaya, upaya. :D
Disclaimer: Yuhuuu, disclaimer dulu yaa, tulisan ini disimpan sebagai pengingat pribadi, pun sebagai data, bahwa aku pernah menyelesaikan konflik dg cara A, B, C, dengan hasil D. Semoga bisa menjadi pengingat agar aku bisa terus meningkat kedepannya. Aamiiin.













