Turbulensi
Semakin gelap, hanya cahaya merah terlihat. Menggelinding sepanjang kekang, terpandu. Menggilas, menggetarkan, menyibak debu-debu. Terduduk manusia yang kelelahan karena sudah ratusan malam tertidur dengan mata terbuka. Tiada pernah tahu harus mengagumi atau mencaci. Lidah masih kelu.
Kekisruhan menimpa semua, sama saja. Membiarkan diri kita lenyap ditelan langit yang berdarah. Tak dapat dielak, hanya dapat diterima. Jika semua bilang sedih, pastilah tak ada yang lebih sedih daripada yang dirisak perpecahan. Cih, sungguh cerita lama. Muak dan mual jadi satu, menunggu untuk jadi penyakit yang meruntuhkan orang-orang terdahulu, yang telah lama tinggal nama, tercantum di nisan dingin.
Buruknya kantung yang terisi, si perut ini. Sudah berisi muak dan mual, masih dijejali usus binatang. Ada yang dapat melihat dasar samudra, melihat yang gelap sebagai terang, terang-terang menyilaukan, melenakan. Ada yang takut mengarungi samudra, bergeming. Semakin aku tidak ingin kena getahnya, semakin banyak getah yang menempel. Semakin aku ingin napas abadi, semakin orang menghujaniku dengan rentetan peluru. Beruntung masih ada orang-orang baik yang rela membiarkan dirinya terbakar terik matahari hanya untuk membuatku bisa menghela dua-tiga napas panjang, sebelum akhirnya ambruk lalu tergolek tak berdaya lagi.
Turbulensi, bak sapuan gelombang yang derasnya hanyutkan kesombongan manusia, bak angin ribut yang redanya hanya bisa diharap, dan kalian masih belum mengerti, masih belum berhenti saling meludahi muka satu sama lain. Ada juga yang tak bosan mengoyak kembang, kembangnya kembang murahan. Padahal kita tidak perlu membayar untuk sekadar diam.
Banyak yang punya telinga, tapi hanya daunnya saja. Banyak yang punya akal, tapi hanya dipakai untuk meloloskan diri dari lubang jarum saja. Banyak yang punya tangan, tapi hanya dipakai menuntun si lemah ke keterpurukan yang semakin menjadi-jadi. Banyak yang punya kaki, tapi hanya dipakai menginjak sesama. Banyak yang punya mata, tapi hanya dipakai bermain mata. Banyak yang mengukir senyum, tapi senyumnya senyum jorok. Banyak yang punya hati, tapi hanya dipakai bermesraan saja. Tak sedikit juga yang punya borok, tapi disembunyikannya, sebab tak seorang pun ingin dihadiahi timah panas.
Sekali waktu kupadamkan si jago merah, tapi malah menyulitkanku. Entah berapa kali aku jadi dikejar-kejar hantu, hantu yang sama pula. Rupa-rupanya masih belum hendak berkirai juga itu hantu sialan. Semua itu memaksaku untuk membasuh mukaku dengan darah hitam. Makin sulit saja untuk lepas dari tali kebencian yang meresahkan.
Ada masa mendulang emas. Emas putih, emas hitam, emas tak terlihat. Sedikit banyak menyirami kering kerontang. Meski tak segunung, kilaunya menjadi ajaran berharga. Saat dunia berputar, matahari terbenam, keberuntungan habis. Kupikir ini saatnya untuk menentukan arah menghadapku: utara, selatan, timur, barat, atau malah tengadah. Meresonansikan suara masih belum selesai, selepas ini masih ada tulang yang mesti dibanting.
Hari ini, semuanya (sementara) harus berakhir. Selamat untuk yang berbahagia, selamat untuk yang masih bisa lolos dari lubang jarum. Tampaknya aku masih harus menunggu juru selamat.
"Terima kasih, masukkan koin Anda, silakan coba lagi!"
31/12/2018












