Seminggu Tanpa Handphone dan Masih Terus Berlanjut
Sudah seminggu handphone rusak. Well, gak tau kenapa tiba-tiba mati aja gitu. Tapi aku gak khawatir, gak gatel juga pengen bawa ke tempat servisan. Yah, rasanya lebih tenang aja tanpa handphone, tanpa social media, tanpa whatsapp, instagram dan lain sebagainya. Rasanya waktuku lebih berguna tuh, untuk merajut misalnya. :) You should try this guys. Its fun and addicted!
Iya. Pakai HP itu emang enak, informasi semua kita bisa tau cuman dengan sentuhan jari-jari. Cuman dengan tap-tap sana sini rasanya dunia udah ada di genggaman. Tapi, hal-hal semacam itu gak berguna-berguna banget kalau kalian masih sekolah SD, SMP, SMA atau bahkan kuliah. Orang-orang yang membutuhkan dunia berada di genggamannya itu cuman orang-orang yang memang tiap hari harus keep in touch sama dunia. Business-man misalnya, pekerja kantoran, pekerja paruh waktu, online workers dan lain sebagainya. Kalau cuman siiswa atau paling banter mahasiswa mah buat apa? Paling buat update status doang tentang kehidupan sehari-harinya yang enggak banget itu. Mahasiswa rasa artis. :P
Gak semua mahasiswa kayak gitu dong. Aku gak boleh pukul rata gitu. Oke. Ada pengecualian-pengecualian untuk itu. Tapi berapa persen sih mahasiswa yang benar-benar butuh handphone dengan segala kecanggihannya?
Justru aneh kalau lihat mahasiswa menyembah handphone-handphone canggih seperti samsung, oppo atau bahkan iphone. Bukannya mahasiswa lebih tau siapa itu Steve Jobs, Mark Zuckerberg, Bill Gates. Tau juga dong desas-desus kalau anak-anak mereka tidak dididik menggunakan handphone hasil penemuan mereka?
Terus tiba-tiba ada yang nanya. Gimana kalau ada yang hubungin?
What? Man, hari ini orang yang ngehubungin itu cuman kepo doang sama kehidupanmu. Apalagi kalau kamu gak pernah update social media. Kebanyakan orang akan menghubungimu dengan basa-basi yang sebenarnya benar-benar keingintahuan mereka pribadi. Nanya-nanya sampai-sampai ngalahin keponya Najwa Shihab ke politikus-politikus Republik.
Apalagi aku yang sekarang lagi thesis in the making. Pasti deh, orang-orang yang ngehubungin aku setelah lama tak bercakap-cakap lewat sosial media manapun, nanyanya sama.
KAPAN LULUS?
Terus kalau dijawab belum tau kapan ada komen negatif yang nyebelin selanjutnya.
Makanya jangan pacaran terus.
What the fuck! Emang kalau orang gak lulus-lulus itu kerjaannya cuman pacaran doang ya? Hahaha. Duh nak, no offense ya, tapi aku sungguh kasihan terhadap pola pikirmu yang sempit itu. Sejujurnya, setelah keluar dari universitas, bukan berapa IPK-mu kok yang jadi juaranya, bukan juga pengalaman organisasimu, atau mungkin masa studimu. Setelah keluar dari universitas, yang dinilai adalah kualitas hidupmu dan pemikiranmu. Yah, kalau lulus cepet cuman jadi priyayi sih. Gimana yaa. Masak jadi orang yang hidupnya bergantung sama pemerintah? Itu kayak burung Merak yang dikutuk jadi sapi trus dikasih cincin di hidung dan di gembalain sama pemerintah. Sori. No offense!
Yah, ujung-ujungnya mah tetep sama ya curhat soal tesis dan gimana perilaku orang-orang sekitar. Tapi, serius. Kelulusan dari universitas sebenarnya hanyalah cara untuk menghindari mulut besar temenmu, tetanggamu, keluargamu, dan yang lainnya.
Ya Tuhanku. Bukakanlah pikiran-pikiran orang-orang cerdas yang bisa lulus cepet dari universitas itu. Setidaknya, buatlah mereka untuk berhenti mengurusi urusan orang lain. Amin.
Say NO to Handphone









