Yang Sudah Pasti Ada = HARI INI, Sekarang..
Tentang jodoh, ah, ini sangat sensitif. Ada yang beranggapan bahwa suami dan istri, pasangan yang telah dinikahi, adalah jodoh. Ada pula yang berpendapat, jodoh tak selalu menyatu.
“Jatuh cinta itu takdir. Menikah itu nasib,” begitu kira-kira celoteh Sujiwo Tejo, dalang edan yang kini telah menjelma selebritas di dunia maya. Tapi, faktanya, pertanyaan paling abadi adalah, ”Kapan nikah?”
Seolah, menikah itu satu-satunya jalan menuju kebahagiaan. Padahal, belum tentu, ternyata.
Mereka yang telah mempunyai pasangan, yang mengunggah potret-potret kemesraannya ke media sosial justru dianggap sedang menutupi ketidakmesraannya di dunia nyata. Seseorang yang menulis puisi-puisi murung ditengarai tak senang hidupnya.
Kita menjadi makhluk amfibi yang hidup di dua dunia. Yakni dunia nyata dan dunia maya. Padahal kehidupan di dunia nyata saja fana, apalagi kehidupan di dunia maya. Tapi, kita menikmati itu. Kita suka menjadi akun.
Sejak memasuki era dunia dalam genggaman, kita gemar menghabiskan waktu lebih lama di depan layar gawai. Berkumpul pun tak menjamin kita saling menatap mata ketika berbicara. Mahfum saja, kita juga sedang sibuk berbincang dengan seseorang atau sekelompok orang di seberang, di ruang percakapan digital atau linimasa.
Teknologi komunikasi berhasil mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Kita berevolusi menjadi makhluk sosial yang sekaligus antisosial.
Namun ada yang ternyata tak pernah bisa ada dalam genggaman. Ia adalah waktu. Waktu adalah anugerah Allah yang tidak dapat dipegang. Sekali datang, seketika pergi.
Tiap kali tiba, waktu selalu tiba-tiba. Namun, waktu tidak pernah terlambat. Ia selalu tepat, dan oleh karena itulah kita sebut tepat waktu.











