Berburu Daun
Ada satu hal, yang sependek ingatanku hampir tidak pernah Akung lewatkan semasa beliau hidup. Hal itu adalah berburu daun!
Ya, daun! Dengan bersenjatakan tongkat kayu yang dibagian ujungnya dipasang paku panjang, Akung memburu dedaun nakal yang berani mengotori halaman rumah stoplas.
Satu, dua, tiga..., dengan tekun, Akung menusuk satu persatu daun-daun yang berserakan di halaman. Jika tumpukan daun di paku sudah penuh sehingga tidak ada lagi ruang di tersisa di batang paku, Akung akan membuangnya ke tempat sampah di bawah pohon jambu air di halaman depan. Lalu, kembali berburu daun lagi.
Aku tidak pernah benar-benar paham alasan dibalik "keistiqomahan" Akung dalam berburu daun tersebut. Hingga dalam kondisi sakit pun, akung tidak mau melewatkannya. Asalkan masih kuat berdiri dan berjalan, bagi Akung, aktivitas berburu daun tak boleh berhenti.
Padahal sakit yang diderita Akung bukan penyakit receh lho. Akung mengidap paru-paru akut sehingga kami harus menyiapkan tabung Oksigen di rumah Stoplas. Bukan tabung Oksigen portable, melainkan tabung Oksigen besar seperti yang dipakai di rumah sakit. Nah, kebayang kan gimana seriusnya sakitnya Akung.
Lagipula, sebenarnya tanpa akung harus berburu daun pun, halaman depan setiap hari juga kami sapu. Meski memang, bersihnya tak tahan lama. Bagaimana tidak, di halaman depan ada tiga pohon jambu air besar yang begitu gemar berganti baju, alias merontokkan daun-daunnya.
Apakah sekedar karena gemar? Apakah karena Akung begitu mencintai kebersihan sehingga tidak tahan melihat daun coklat berserakan? Atau apakah karena
Apapun alasannya, aku berdoa perburuan daun tersebut Allah catat sebagai kebaikan. Dan, semoga setiap helaian daun yang Akung bersihkan selama hidupnya menjelma dedaun pohon besar di halaman rumah Akung di jannah-Nya. Aamiin. Nanti, mudah-mudahan kita bertemu lagi di surga ya, Kung!














