Menjawab Bang Wiro
Harusnya tulisan ini di-postĀ kemarin, hanya saja tulisan yang saya postĀ kemarin lebih mengalir ditulis dibanding harus memikirkan jawaban dari pertanyaan Bang Wiro.
Hari ini genap hari ke-17 gerakan 31 Hari Menulis, yang artinya tinggal 2 minggu lagi misi ini berakhir. Kalau ditanya bagaimana rasanya tiap hari harus postingĀ diĀ Ā blogĀ pribadi, rasanya biasa aja buat saya. Padahal saya tidak pernah serutin ini nulis di blog.Ā
Barangkali ini juga menjawab pertanyaan kedua dari Bang Wiro, apa yang dirasakan setelah aktif menulis selama lebih dari dua minggu. Setidaknya, dengan saya tidak pernah absen sampai sekarang dan selalu konsisten setor tulisan, saya jadi menemukan karakter diri yang selama ini sulit dideskripsikan. Ternyata saya adalah tipe, mau dikasih tugas apapun saya akan konsisten untuk mengerjakannya. Karena brief dari Bang Wiro adalah satu hari satu tulisan ya saya deliver-nya satu hari satu tulisan. Mau tadinya tidak pernah nulis jadi rutin nulis, tidak berdampak pada perasaan yang istimewa. Karena konsistensi ini ternyata sudah mendarah daging di karakter saya. Mau tugasnya besok nulis pantun juga dilakukan.Ā
Kesulitan untuk menemukan waktu menulis? Tidak juga, karena ya itu tadi alam bawah sadar saya sudah aktif memerintahkan sel-sel dalam tubuh saya untuk memproduksi tulisan untuk blog ini satu hari sekali setelah menyatakan sanggup untuk ikut tantangan Bang Wiro. Jadi kayak semacam mboh piye caraneĀ pasti akan ada waktu nulis meskipun belum ada ide sama sekali.Ā
Saya ini orangnya kan konsekuen, bukan esuk dele sore tempe. Nah loh, malah ketemu satu karakter lagi. Sebenarnya, ketika menulis saya tidak pernah memikirkan mau nulis apa. Ketika laptop sudah terbuka dan jari sudah menyentuh keyboard,Ā kata-kata seperti mengalir begitu saja. Lha temane dibebaske.Ā
Saya baca-baca ulang beberapa tulisan yang sudah saya postĀ 2 minggu belakangan ini. Ternyata, saya punya banyak bahan cerita ya. Padahal, saya merasa hidup saya ini cenderung membosankan sekali, ya soalnya saya kan suka stabilitas. Makasih ya Bang Wiro, sudah jadi platformĀ buat anak rebahan kayak saya bisa memproduksi banyak cerita.









