Orang-orang di sekitarku selalu menganggap aku sebagai orang yang sempurna, seorang calon pemimpin yang hebat. Namun, jauh di dalam, sesungguhnya aku adalah orang yang brengsek. Aku menyadari hal itu.
Mendapat pujian dari guru di sekolah dan dielu-elukan oleh teman-teman sekelas bukanlah hal yang aneh bagi Asano Gakushu. Pintar, kaya raya, tampan, jenius, ahli dalam bernegosiasi dan berdiplomasi, memiliki bakat untuk menjadi pemimpin yang kuat. Sudah menjadi hal yang wajar bagi Asano gakushu untuk menjadi nomor satu. Bahkan ia akan melakukan apapun untuk bisa mencapai dan bertahan di posisi itu, termasuk dengan memanipulasi teman-temannya. Pada akhirnya, di mata Asano, mereka hanyalah sebuah bidak. Ya, Asano tidak pernah menganggap mereka teman. Keberadaan mereka tidak memiliki arti apapun, selain sebagai alat untuk memenuhi ambisinya.
Asano Gakushu, dalam seumur hidupnya, tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang teman dan Ia sama sekali tidak mempedulikan hal itu.
Namun, semua pandangannya tentang 'pertemanan' perlahan mulai berubah. Seorang pemuda dari kelas E telah berhasil mengubah pandangan Asano. Pemuda itu tidak lain dan tidak bukan adalah sang ketua kelas dari kelas E, Isogai Yuuma.
Isogai mempercepat langkah kakinya. Saat ini ia sedang berjalan menuju gedung utama untuk menghadiri rapat OSIS. Di belakang Isogai terdengar beberapa suara langkah kaki lainnya mengikuti ritme langkah kaki sang pemimpin. Merasa jengah, Isogai menghentikan langkahnya dan dengan segera berbalik badan. "Kalian.., mau sampai kapan kalian mengikutiku?" Tanya Isogai sambil menghela nafas panjang. Mereka, yang mengikuti di belakang terpaksa ikut menghentikan langkah mereka dan memasang senyuman awkward. "Ketahuan ya..?" Ucap salah satu dari mereka, satu-satunya wanita di kelompok tersebut. "Tentu saja, Kayano-san. Suara langkah kaki kalian terdengar jelas." Jawab Isogai sambil tersenyum, "jadi, ada apa?" Lanjutnya. Yang dipanggil Kayano hanya terdiam. Seolah bingung menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan oleh Isogai. Akhirnya, salah satu dari mereka memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan itu, "sebenarnya, kami mengkhawatirkanmu, Isogai".
Isogai menaikan sebelah alisnya, bingung. "Apa maksudmu, Maehara?" tanya Isogai. Pemuda yang dipanggil Maehara itu kembali menjawab, "Kami khawatir si Ketua OSIS, Asano Gakushu, akan melakukan sesuatu padamu!"
"Ha?"
"Sadarkah kau kalau akhir-akhir ini ia selalu memperhatikanmu? Bahkan kami pun menyadarinya! Kau harus berhati-hati, Isogai! Dia itu pria licik yang akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan!" Ujar Maehara dengan sangat tidak santai. Isogai hanya bisa menghela nafas panjang dan tersenyum, "kalian terlalu berlebihan. Belum tentu kan kalau dia benar-benar orang yang seperti itu? Tenang saja, tidak usah khawatir."
"..tapi.." potong Kayano dengan nada khawatir. Isogai hanya bisa tersenyum, "percayalah. Aku pergi dulu ya." Maehara, Nagisa dan Kayano hanya bisa menatap punggung Isogai yang Sedang berjalan menjauhi mereka. "Bagaimana ini.. bagaimanapun aku merasa khawatir" ucap Kayano dengan lirih. "Bagaimana kalau kita tunggu di gerbang sekolah saja? Kalau dalam waktu satu jam ia masih belum keluar, kita jemput ia di ruang OSIS" ajak Nagisa sambil mendorong kedua temannya berbalik menuju pintu keluar gedung utama.
Isogai mengetuk pintu ruang OSIS dengan hati-hati, lalu membuka pintu. Di dalam ruangan, semua anggota OSIS dan hampir semua perwakilan kelas sudah duduk tenang di tempat mereka masing-masing. Isogai membungkukan badan, lalu berjalan menuju tempat duduknya. Tempat duduk disebelahnya terlihat masih kosong, pertanda bahwa ketua kelas D masih belum datang. Dalam hati, Isogai bersyukur karena bukan ia yang terakhir datang ke ruang rapat. Sebagai anggota kelas E yang diasingkan oleh orang-orang di gedung utama, akan menjadi sangat kurang ajar apabila ia datang terlambat ke ruangan rapat. Siapa dia sampai harus membuat semua anggota rapat menunggu? Isogai menghela nafas panjang. Sebenarnya ia tidak perlu datang juga tidak apa-apa, toh tidak ada satupun anggota rapat yang mau mendengarkan pendapat dari siswa kelas E. Sambil memainkan pulpen, ia melayangkan pandangan matanya ke seluruh isi ruangan. Tanpa sengaja, matanya beradu pandang dengan sang ketua OSIS, Asano Gakushu. Asano terlihat sedang memperhatikan Isogai dengan seksama. Pandangan matanya sama sekali tidak pernah lepas dari sang target. Secara spontan, Isogai mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya memerah. Sepertinya, ini adalah pertama kalinya seseorang memperhatikan ia secara intens. Tatapan mata Asano seolah sedang menelanjangi dirinya, membuatnya merasa tidak nyaman. Isogai mencoba melirik kembali ke arah Asano. Yang bersangkutan terlihat masih belum melepas tatapan intensnya dari Isogai. Isogai segera menenggelamkan wajahnya ke meja. Ia sama sekali tidak paham, mengapa seorang Asano Gakushu sampai menatap ia dengan tatapan seintens itu. Apa ia telah melakukan suatu kesalahan? Isogai berdoa dalam hati, semoga rapat bisa segera dimulai, agar ia bisa segera lepas dari tatapan sang ketua OSIS.
“Oi! Ketua kelas dari kelas E! Rapat akan segera dimulai. Jangan tidur!” Tegur salah seorang siswa di dalam ruangan. Isogai segera mengangkat kepalanya dan menegakan posisi duduknya. Di meja sebelah, ketua kelas dari kelas D sudah duduk dengan tenang sambil mengeluarkan buku agenda kepengurusan kelasnya. Tak mau memperpanjang masalah, Isogai memilih untuk meminta maaf dan mempersilahkan anggota OSIS untuk segera memulai rapat. Asano kemudian berdiri di depan kelas, lalu membuka rapat OSIS.
“Kau tau? Kau ini adalah orang yang sangat beruntung.” Bisik Asano ke telinga Isogai. Rapat OSIS telah selesai 5 menit yang lalu. Isogai sebenarnya ingin sekali segera meninggalkan ruangan itu, tetapi Ia masih harus merapikan isi tasnya yang tercecer di lantai. Ya, Wakil ketua kelas dari kelas D yang ceroboh itu tidak sadar kalau ia telah menjatuhkan tas Isogai saat ia berdiri dan meninggalkan ruangan dengan sangat terburu-buru. Siswa lain terlihat tidak memperdulikannya, mereka keluar dari ruangan tanpa melirik sedikit pun. Isogai hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Sesungguhnya ia tidak begitu mempedulikan perilaku mereka, tetapi yang Ia khawatirkan adalah..
“Isogai Yuuma, apakah ini milikmu?” Isogai segera menghentikan segara aktivitasnya. Tubuhnya menjadi kaku mendadak. Asano Gakushu berjalan mendekati Isogai yang sedang berjongkok, berusaha untuk kembali memunguti buku-buku dan alat tulisnya yang terjatuh.
“Terima kasih Asano-kun” Isogai berdiri, lalu mengulurkan tangannya. Asano meletakan barang milik Isogai tadi di telapak tangan sang empunya. Melihat barang yang diberikan Asano, wajah Isogai mendadak pucat.
“Em.. ini..”
“Ternyata kelas E memiliki nametag sendiri ya..? Designnya bagus.” Sindir Asano sambil mendekatkan wajahnya pada Isogai.
“Kau tau? Kau ini adalah orang yang sangat beruntung.” Bisik Asano ke telinga Isogai. Isogai tercekat. Telinganya terasa panas. Ia berusaha mencerna kata-kata dari Asano, tetapi otaknya terasa kosong.
“A..Asano-kun? Apa maksudmu?” Tanya Isogai dengan sangat hati-hati. Asano hanya tersenyum, lalu meninggalkan Isogai yang sedang terbingung-bingung sendirian.