. Karena di Indonesia sendiri mental illness seperti anxiety disorders dan insecurities masih sering dianggap lelucon, tak peduli bahwa di tiap malamnya para penderita menangis dan membenci diri sendiri tanpa ada yang bisa membuat mereka tenang, kecuali menyakiti dengan menyakiti diri sendiri. Mereka masih dipandang sebagai orang yg suka cari perhatian, padahal hal ini merupakan penyakit yang butuh manusia-manusia di sekelilingnya untuk membeluat mereka bertahan. Seakan tombol on dan off kehidupan mereka bisa ditekan kapanpun. Manusia, makhluk diberi akal dan hati masih saja tak memperdulikan hal-hal seperti ini, mengolok, dan merasa dirinya yg terbaik hingga mampu melecehkan yg lainnya. Tak semua orang memiliki mental sekuat dirimu. Syukurilah itu. Ada di antara kita yang membutuhkan semangat darimu. Hal-hal kecil seperti, "Kamu telah melakukannya dengan baik.", "Tak apa, kamu telah bekerja keras." akan sangat berarti untuk mereka. Tak peduli dia siapa, walau kita tak mengenalnya secara dekat, siapa tahu kalian menjadi alasan mereka tetap hidup, tetap bernafas hingga Tuhan sendiri yang menentukan kapan mereka dipanggil. Bukan juga karena kurang iman, bukan. Bagaikan flu atau batuk, hal-hal seperti ini membutuhkan penyembuhan, bukan malah hinaan. Jadi tolong mari buka mata, lihat sekeliling kita. Jangan beranjak jika kita menemukan mereka yg sedang melawan penyakitnya sendirian. Sebuah renungan utamanya untuk diri sendiri karena sekarang ini sering terdengar kabar duka tentang mental health. Seperti Chester yg memilih mengakhiri hidupnya karena sudah tidak kuat melawan mental illness yg dideritanya. Tulisan asli oleh @bellabeldik_ Foto latar diambil dari @unsplash Lettering oleh saya. #artchemist #artchemist2019 #lettering #letteringdaily #letteringindonesia #hurufraktur #kaligrafina #mentalhealthawareness #mentalillness #linkinpark #ligaturecollective (at Kudus) https://www.instagram.com/p/Bu1V60YF3uH/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1nvyj2wuu5t7c