Ucap Ara sambil memainkan kakinya di air. Menimbulkan gelombang yang mengarak ke sekitar kemudian menghilang.
"Apa yang kamu nggak ngerti?"
Aku ikut duduk di sampingnya. Melipat celana jeans hitam panjang sampai selutut kemudian mencelupkan kaki ke air danau.
Ara menggigit bibir bawahnya. Menolehkan wajahnya menghadap ke arahku. Memelototi aku dalam-dalam kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Aku baru saja bertemu Jasmin."
Ara menundukkan kepalanya. Poni panjangnya jatuh ke depan. Jari jemarinya menggaruk-garuk bibir jembatan kayu. Kakinya bergoyang-goyang. Menimbulkan gelombang-gelombang air yang saling bersusulan. Dia gelisah.
"Aku heran, seorang Jasmin, yah yang kamu tahu dia seolah sempurna itu mau dengan seseorang seperti Ken? Yah aku tidak iri, aku hanya bertanya-tanya." Ara menggigit bibir bawahnya lagi. Melanjutkan dengan ragu. "Ken tampak biasa saja."
Aku tersenyum. Beginilah Ara. Segala pertanyaan yang menumpuk di kepalanya akan tertumpah dengan bahasa apa adanya. Aku mengacak rambutnya dengan cepat. Dia cemberut sambil memelototiku dengan galak.
"Mau aku beritahu sesuatu yang menarik?"
Ara menoleh ke arahku, tertarik. Mata cokelatnya berbinar. Ara mengangguk dengan semangat.
"Sebelumnya aku ingin bertanya. Kamu suka tidak diperlakukan dengan baik oleh seseorang?"
Ara mendengus. Memutar bola matanya. "Kamu melempar pertanyaan yang sudah jelas jawabannya, Kak. Retoris."
Aku tersenyum. "Tentu, kan, jawabannya? Kamu tahu, seseorang bisa jadi tampak sangat berbeda sebelum kita mengenal pribadinya lebih jauh, Ra. Tampak biasa saja dalam persepsi kamu, belum tentu dalam pandangan orang lain, yah contohnya saja yang baru kita bicarakan--Ken, seperti itu."
"Bisa seperti itu ya, Kak?"
"Tentu. Kita harus mengenal orang lain lebih jauh, Ra, dan untuk tidak menilai orang tersebut terlalu cepat. Apalagi ini soal perasaan dan hidup orang lain. Kita tidak pernah mengetahui yang sebenarnya kecuali kita adalah orang tersebut, Ra."
"Ra, rasa suka itu bisa hadir dalam berbagai bentuk."
Aku menjitak kepalanya pelan. "Hei! Kekerasan terhadap anak tetangga kamu ini, Kak!"
Aku tertawa. Dia melihat dengan sebal. Tangannya yang mengepal menggantung di udara, bersiap untuk memberikan serangan balasan ke arah ubun-ubun kepalaku. Aku tertawa sambil mengangkat kedua telapak tangan di depan dada. Mengisyaratkan benderan putih, tanda menyerah.
"Aku tidak mengada-ada, Ra." Aku menatap bola mata cokelatnya lekat-lekat. Mata teduhnya jarang terlihat oleh orang lain karena dibungkus oleh tampilan galaknya. "Rasa suka terhadap seseorang, dapat hadir dalam berbagai bentuk, Ra.
Dalam bentuk kebaikan hati seseorang.
Dalam bentuk senyuman ikhlas seseorang.
Dalam bentuk sederhana seperti selalu mengucapakan terima kasih, mengucapkan tolong, dan mengutarakan permintaan maaf dengan hati yang tulus.
Dalam bentuk akhlak yang baik, pengetahuan agama dan terapannya yang baik.
Dalam bentuk lain yang mungkin tidak semua orang mampu melihatnya.
Rasa suka itu dapat menyublim menjadi suatu bentuk lain yang tidak semua orang dapat merasakannya, Ra.
Jadi walaupun kita menilai orang tersebut tidak rupawan, misalnya, belum tentu bagi orang lain seperti itu. Bagi orang lain, mungkin, rupawan itu bukan urutan nomor satu dalam daftar kriteria pasangan. Bisa jadi yang lebih dipentingkan adalah bagaimana ia memperlakukan orang lain atau hal-hal lain yang tidak bisa langsung terlihat secara kasat mata.
Tidak semua orang dapat melihat atau merasakannya saat itu juga, Ra."
Ara mengangguk-angguk. "Ngga semuanya hanya tertampil secara superfisial aja yah, Kak. Hmm, bisa jadi Jasmin melihat sesuatu bentuk yang lain dalam diri Ken yah, Kak."
“Pinter. Semua orang itu punya keistimewaan sendiri-sendiri, Ra. Kita tidak bisa mematok standar yang kita terapkan pada diri sendiri ke orang lain."