Esai - Puisi Mario F Lawi
Sajak-sajak mario adalah sajak-sajak yang penuh pusaran rasa, yang menarik pembacanya seketika ke alam puisinya. Tak jarang ditemukan diksi-diksi yang mengantarkan kita pada sudut padang seorang mario terhadap agamanya. Meski begitu, pengalaman puitik yang hadir ketika membacanya nyata terasa universal.
Surga adalah gelembung sabun
Yang penuh udara
Karena dijejali keluh-kesah orang-orang
Pasrah yang malas berusaha.
Di sebuah taman, engkau pernah
Mewariskan hujah yang kini tak lagi cukup
Untuk menumbuhkan sebutir padi
Di dalam petakmu.
“Mencintai sesederhana menerima,” katamu.
Aku ingin percaya,
Tapi tubuh yang patah di atas salib itu
Menusukkan cahaya matanya ke celah-celah rusukku.
Aku memberi segala
Yang ada pada diriku
Hingga pemberianku tak lagi
Cukup di hadapanmu.
Pohon yang tumbuh dari sebutir kecil
Iman tak bisa dihinggapi burung
Yang malas terbang dan memasrahkan tubuhnya
Pada aliran udara.
Percayalah, Sayang, surga hanya akan menjelma
Puing-puing bagi doamu yang penuh beban.
Labirin yang berliku tidak akan meloloskanmu
Dengan sendirinya, dan jika engkau memilih
Berhenti bergerak, sulur-sulurnya akan menyeretmu
Ke dalam kegelapan.
Engkau tentu percaya, makanan yang dideretkan
Di atas meja jamuan diubah dari batu-batu
Yang berserakan di padang gurun, meski begitu banyak
Pundi-pundi telah diselipkan ke balik
Jubah-tenunan-tanpa-jahitan milik para imammu.
Sajak Terakhir adalah salah satu puisi Mario yang menyitir sikapnya dalam beragama. Bagaimana metafor surga ambruk sedemikian rupa. Begitupula taman-taman surga, do’a para hamba yang bergelut dengan duniawinya, hadir penuh elegi di Sajak Terakhir.
Ada perenungan yang dihadirkan pada larik “Pohon yang tumbuh dari sebutir kecil // Iman tak bisa dihinggapi burung.” Salah satu yang bisa saya tafsirkan adalah, betapa kecilnya Iman tak sebanding dengan harapan dan do’a-doa seorang hamba. Berlanjut hingga penulis menutup puisi sambil menyindir “..meski begitu banyak // Pundi-pundi telah diselipkan ke balik // Jubah-tenunan-tanpa-jahitan milik para imammu.” Maknanya begitu tajam meski sarat dengan kesedihan saat membacanya.
Diksi-diksi Sajak Terakhir juga dituangkan secara sederhana, memberikan ruang tafsir yang kaya untuk dimasuki pembaca. Bahwa beratnya tugas seorang hamba kepada Tuhannya penuh dengan penghayatan untuk tetap bergerak dan berusaha. Dan tentu, betapapun korupnya pemimpin di hadapan kita.
Stabat,
8 Mei 2016
@rintikkecil @kelaspuisi