Another lupus flare ._.

#dc#dc comics#batman#bruce wayne#tim drake#batfam#dick grayson#batfamily#dc fanart


seen from China
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Sweden

seen from United States

seen from Lebanon
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Kazakhstan
seen from United Kingdom

seen from Maldives

seen from Germany
seen from United States
seen from Australia

seen from Netherlands

seen from Australia
seen from Germany
seen from China
seen from Germany
Another lupus flare ._.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Almost 25: Preamble
Dari awal bikin blog sejak SMP (yang berlanjut ke kuliah dan kerja!), kebanyakan isinya cuma puisi atau cerita singkat yang menye. Nggak tahu kenapa ya, emosi saat sedih secara nggak sadar bikin motivasi nulis makin tinggi. Semakin sedih, semakin lancar pula nulisnya. Parah, sih, tapi ya… daripada nggak nulis sama sekali? Hahaha.
Tentu aja aku nggak mau kebiasaan ini berlanjut karena bikin nggak terlalu produktif dan kayanya capek deh nulis sedih-sedihan melulu. Klise banget, tapi memang mungkin aku sedang butuh sesuatu yang baru di awal tahun 2019.
Februari ini resmi memasuki bulan keenam aku bekerja di salah satu multinational advertising agency di Jakarta sebagai seorang copywriter. Kantor ini dulunya juga tempat awalku magang, tempat di mana aku memantapkan niat untuk masuk ke dunia persilatan ahensi. Dan aku nggak salah, my bosses and collagues are just so great! Meski kerjaan dan brief dadakan kadang mengobrak-abrik jam tidur, orang-orang kantor berhasil bikin diri ini tetap happy dengan jokes receh dan petuah kerjaan serta kehidupan yang nggak ada habisnya.
Kehidupan sebagai seorang “fresh graduate yang akhirnya merantau ke ibukota untuk bekerja” awalnya berjalan dengan lancar. It was some kind of liberation! Merasa bebas, mandiri, dan merasa udah jadi orang dewasa yang bisa mengambil keputusan sendiri (this was gooood at the very beginning). Pekerjaan di kantor juga nggak main-main, tanggung jawab sepenuhnya pun aku pegang. Hingga akhirnya di bulan ketiga (atau keempat, aku lupa), ada sesuatu yang rasanya mengganjal.
“Do I really want this job? Am I doing great in my job?”
“Bener nggak sih jalan yang aku ambil sekarang? Kok rasanya aku gini-gini aja.”
“I don’t think I’ll be a great copywriter in the future…”
“Will I ever be afford to buy a decent house? A car? What about my future investment? And my parents, what about them???”
“SHIT I’M ALMOST 25 AND STILL A POTATO!”
Yup, kira-kira itu pertanyaan dan pernyataan yang ada di kepala selama beberapa bulan terakhir. Did it bother me? A LOT! Pertanyaan-pertanyaan ini udah jatuh di tahap mengganggu, di mana aku bisa mewek begitu aja saat lagi memikirkannya. Hasilnya, aku makin insecure dari hari ke hari. Setiap kerja, brainstorming, sampai present ide pun bawaannya minder. Melihat unggahan teman-teman di media sosial juga bikin drop. Akhirnya cuma bisa sambat dan uring-uringan. Is adulting really this hard?
Akhirnya, beberapa waktu yang lalu aku mulai teringat tentang istilah quarter-life crisis dan mulai googling buat menuntaskan rasa penasaran. Ternyata, menurut Alex Fowke, quarter-life crisis dikategorikan sebagai “…a period of insecurity, doubt and disappointment surrounding your career, relationships and financial situation.” Meskipun namanya ‘quarter-life’ alias usia ke-25, tapi nggak serta merta baru di usia 25 tahun orang bisa mengalaminya. Krisis ini bahkan bisa muncul di usia 18 tahun.
Beberapa hal yang aku dapatkan dari hasil googling singkat ini ternyata cukup menarik. Salah satunya adalah bagaimana krisis ini dianggap sebagai salah satu fase yang wajar dialami pada masa pendewasaan seseorang. It’s a part of adulting! Semua orang bisa dan sangat mungkin mengalami krisis ini. Oh well, ternyata aku nggak sendiri.
Artikel lain pun menunjukkan cara-cara untuk melalui krisis ini. Sewaktu dibaca rasanya simpel, tapi buat ngelakuinnya ternyata harus punya keyakinan diri yang cukup kuat. Dari sini aku berpikir untuk menuliskan aja hal-hal yang ikut andil dalam pembentukan quarter-life crisis yang membingungkan ini. Selain sebagai salah satu metode yang disarankan untuk overcoming the crisis, yaitu mengidentifikasi masalah, mungkin ini jadi pertanda buatku untuk mulai menulis sesuatu yang lebih konkret daripada puisi-puisi galau (ha!).
So, it’s final! Aku akan mulai menulis beberapa topik tentang quarter-life crisis dengan tajuk Almost 25. I think this is the right opportunity that might help me to overcome the crisis (dan sebagai latihan menulis yang runtut, cuz you’re a goddamn copywriter!) . I’ll write, discuss it with my friends, and of course, have some self-talk untuk merefleksikan masalah yang ada ke diri sendiri.
I’M SO EXCITED! Let’s start this sebelum 2019 tiba-tiba udah setengah jalan!
P.S. I don’t think anyone will read this but I’ll keep trying anyway!
Today, I was feeling good enough about myself to take a whole body picture of myself. 😍😋 #love #me #loveyourself #bodygoal #selfesteem #workhard #beproud workout #weightlossjourney #happy #almost25
How to look younger: take selfies into a cave using your friend t-shirt as filter #selfie #redlight #cute #italy #cave #pasquetta #2018 #choker #almost25 #like4like #follow
Cualquier lugar es bueno para una buena foto... Some Nice Pic Before 25 Years Old #almost25 #Pregnant #38weeks #BabyBoy #Sebastian #Hesalmosthere #icantwait 💙💕♥️ #babyhappy #momyhappy 🤍 (📷: @shooterlily) 🥰 (at Foster-Powell, Portland) https://www.instagram.com/p/CAj5boxjcDLzEgP5aH58_WDQn_-dtBIsDnCBMQ0/?igshid=m30v686es5qk

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Almost 25: The thing about crying
Since I was a kid, I know that I am such a weeper. Aku selalu bisa merasakan mataku memanas dengan cepat setiap kali ada sesuatu yang ‘mengganggu’.
Kena marah bapak/ibu? Tentu saja menangis.
Dikritik orang lain di depan orang banyak? Dalam 30 detik sudah ada genangan di pelupuk mata, lalu harus kedip-kedip ekstra supaya nggak ada yang jatuh.
Nonton film keluarga yang plotnya mengharukan? Mewek sesenggukan sambil menyumpal tisu ke lubang hidung.
Merasa takut/khawatir/sedih/patah hati? Dijamin pagi-pagi mata sudah bengkak.
I mean, how can I be THAT easy to pour my tears down? Dulu, aku masih berpikir bahwa seiring berjalannya waktu dan semakin dewasanya usia, akan makin berkurang hobi cengengku ini. Ternyata aku salah.
Bedanya, kali ini lebih banyak faktor internal yang memicu air mataku, utamanya ketika aku merasa khawatir berlebihan. Belakangan memang sepertinya aku overthinking. Selalu merasa inferior, merasa nggak perform di kerjaan, dan merasa nggak cantik (yes, I’m dead serious and I might gonna write about this).
There was one time when I cried over a dress in the middle of the night. No, you didn’t misread it: A DRESS! I felt ugly when I wear that dress, so I felt disappointed with my reflection in the mirror. I also cried in my office bathroom at the end of working hour because I was exhausted, confused, and of course, I didn’t get enough sleep for almost a week (turns out being an adult demand long sleeping hours lol).
Setelah nangis sesenggukan dan paginya mata langsung bengkak kayak orang habis patah hati, perasaanku jadi jauh lebih ringan daripada sebelumnya. Sedikit banyak ada yang terangkat dari pikiran yang membludak. Memang nggak lantas hilang rasa khawatirnya, tapi ada sedikit ruang yang terbuka untuk rasa lega. I did wear that dress at my friend’s wedding party tho, and I didn’t feel as ugly as I think before (thanks to makeup, I guess?).
Ternyata perihal hobi mewek ini nggak seburuk itu, seenggaknya dalam kasusku ya. Buatku, menangis jadi semacam metode untuk menguras pikiran dan perasaan negatif yang udah menumpuk. Syukur-syukur kadang bisa berpikir lebih jernih untuk menghadapi masalah yang bikin mewek tadi.
Namun, metode mewek mungkin agak bikin khawatir orang lain ketika aku nangis di depan mereka. Nggak salah sih, aku tahu mereka peduli dan pengen aku lebih happy. Makanya, setiap kali mau nangis di depan orang aku selalu bilang, “Aku mau numpang nangis, jangan dipuk-puk dulu ya. Biarin aja sampai nangisnya habis.” Setelah itu baru deh cerita sampai habis.
For me, crying is a way to release painful or negative emotions inside my head and my heart. Sometimes it helps me to get through a problem too. It’s simply my way to survive the adulthood 🤪
The face behind the ramblings. Hi.
Since I’ve been spending so much money prepping for this (almost) birthday gyal’s Vegas trip, here’s a #tbt featuring one of my favorite humans! 😍🤗 #sisters #almost25 #throwback