Abu Ja’far Al Mansur: Pemasang Pancang Imperium
Tahun 754, Abul Abbas meninggal dunia, dan ketika itu Abu Ja’far sedang bersama rombongan haji di Hijaz. Keponakannya, Isa ibn Musa, mengabarkan akan kematian Abul Abbas dan membai’atnya di Anbar. Masa kekuasaannya berbarengan dengan berkuasanya Abdurrahman ibn Mu’awiyah di Cordoba.
Ketika ia memimpin, ada tiga kekuatan besar yang kala itu ia harus hadapi. Yang pertama adalah Abdullah ibn Ali, pamannya sendiri. Yang kedua, Abu Muslim Al Khurasani, panglima hebat yang juga berperan besar dalam pendirian daulah ini. Yang ketiga adalah kalangan Syiah yang mendukung Muhammad ibn Abdillah—yang merupakan keturunan dari cucu Nabi, Hasan ibn Ali, menjadi khalifah. Ketiga kekuatan besar ini memiliki pendukung yang cukup banyak.
Abu Ja’far memutar otak untuk menyingkirkan ketiga kekuatan ini. Maka ia melakukan makar besar kepada Abdullah ibn Ali dan Abu Muslim. Pertama-tama, ia membiarkan kedua pihak berperang, hingga Abdullah ibn Ali kalah dan akhirnya dipenjara hingga meninggal dunia. Lalu ia menyingkirkan Abu Muslim dengan membunuhnya usai mengetahui bahwa suratnya sering dilecehkan oleh Abu Muslim. Perbincangan mereka terekam oleh Al Imam As Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’-nya:
Ketika Abu Muslim akan dihukum mati, Abu Muslim memohon belas kasih kepada Al Mansur, seraya berkata, “Wahai Amirul Mu’minin, biarkan aku hidup agar aku memerangi musuh-musuhmu”.
Lalu Al Manshur menjawab, “Musuhku yang mana yang lebih berbahaya daripada dirimu?”
Akhirnya Abu Muslim dieksekusi mati pada tahun 755.
Tindakan Al Mansur ini disesalkan oleh sejumlah penulis sejarah, termasuk di dalamnya Syaikh Muhammad Khudhari, karena faktanya, Abu Muslim dan Abdullah ibn Ali adalah dua orang yang berperan besar dalam Revolusi Abbasiyah. Mengeksekusi keduanya adalah bukan tindakan yang bijak—(bahkan) sangat ceroboh.
Sementara gerakan Muhammad ibn Ali, pasukan Abbasiyah berhasil membunuhnya ketika kedua pihak bertempur di Madinah. Saudaranya, Ibrahim, mendapat nasib yang sama dengannya; tewas di medan perang. Setelah itu, keadaan Bani Hasan tercerai-berai selama Al Mansur berkuasa.
Ia meletakkan dasar-dasar negara dan mengatur keuangan dengan sangat baik dan terkendali. Tercatat, ketika Al Mansur meninggal dunia, stok kas negara mencapai 810.000.000 dirham. Ia juga mencurahkan perhatiannya yang tinggi kepada ilmu pengetahuan, sehingga riset-riset terkait ilmu pengetahuan terus digalakkan. Ia juga menggerakkan gerakan penerjemahan literatur-literatur asing yang membahas tentang berbagai macam ilmu pengetahuan.
Ia juga terlibat sejumlah perdebatan dengan Abu Hanifah. Yang paling terkenal adalah ketika ia menolak untuk dijadikan qadhi qudhat oleh Al Mansur. Al Mansur menuduh Abu Hanifah berbohong ketika ia berkata bahwa ia tidak sanggup menerima jabatan qadhi. Tapi Abu Hanifah membalas tudingan itu dengan telak, “Kenapa kau ingin menjadikan seorang pembohong sebagai hakim?”
Abu Ja’far meninggal di tahun 775 M ketika sedang melaksanakan haji. Ketika ia meninggal, Islam mulai menyebar ke Afrika Utara dan beberapa daerah Byzantium. Muhammad Al Mahdi, anaknya, naik menggantikannya sebagai khalifah.
(Sumber: Artikel Republika: Abu Ja’far Al Mansur; Wikipedia - Al Mansur, Abu Muslim, Abdallah ibn Ali; Bangkit dan Runtuhnya Daulah Abbasiyah; Tarikh Al Khulafa’)











