Seringkali saya menjumpai ada anak-anak yang mungkin beberapa dari mereka “mengandalkan” orangtua sebagai sumber dalam mengerjakan tugas sekolah. Saya tidak mengatakan hal itu salah dan tidak pernah mempermasalahkan hal itu justru hal tersebut sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Namun hal tersebut menjadi tidak tepat ketika berlanjut ke jenjeng yang membutuhkan mereka untuk berpikir dewasa atau bahkan ketika hidup berasrama. Bisakah Anda bayangkan mereka harus menunggu dijenguk oleh orangtua mereka untuk mengerjakan tugas? Itu merupakan suatu hal yag sangat mustahil.
Saya sendiri terkadang merasa iri terhadap teman-teman yang dapat menanyakan perihal pelajaran kepada orangtua mereka. Dan ketika saya mengutarakan hal ini kepada mereka maka mereka akan dengan mudahnya menjawab mengapa saya tidak bertanya kepada orantua saya sendiri? Haha, mereka mungkin tidak tahu bahwa orangtua saya tidak lebih tahu daripada saya. Saya pribadi terakhir kali menanyakan perihal pelajaran kepada orangtua saya saat kelas 3 SD. Dan saya mulai menyadari bahwa setelah masa itu orangtua saya mulai kesulitan dalm menjawab pertanyaan-paertanyaan saya.
Namun disitulah saya baru menyadari bahwa itu adalah proses pendidikan yang secara tidak langsung diberikan oleh Allah kepada saya. Saat itu mau tidak mau saya dipaksa untuk memutuskan apa tindakan yang harus saya ambil. Apalagi dulu di pesantren saya waktu MTs tidak ada guru les dan guru hanya “tersedia” di waktu KBM. Guru pembina asrama saat itu masih mahasiswa dengan jurusan keagamaan yang mungkin kurang dapat menjawab pertanyaan saya seputar pengetahuan alam. . Kalu dibilang iri, saya sangat iri terhadap anak-anak yang tidak berasrama dan bisa mendapat belajar tambahan lewat kursus atau les. Tapi disitulah proses belajar saya.
Suatu ketika saya mendapati salah seorang teman saya yang sama-sama hidup berasrama bahkan dia berasal dari daerah yang sangat jauh, dia rela menelpon orangtuanya hanya untuk menayakan contoh soal (kerana saat itukita diberi tugas untuk membuat soal) yang menurut saya soal itu dapat di buat sendiri (sebagian besar teman saya mngerjakan sendiri). Saya merasa khawatir terhadap teman saya tersebut.
Pernah juga salah seorang teman saya yang dia curhat pada saya bahwa dia merasa kesal terhadap orangtuanya yang “melarangnya” untuk menyakan semua pe-ernya kepada orangtuanya. Dia mengatakan bahwa ayahnya jahat. Saya hanya tertawa menanggapinya karena saya tahu justru ayahnya telah menyelamatkannya dan beliau mempunyai sistem yang sangat baik dalam mendidik anak-anak beliau yang baru kali tersebut hidup di asrama. Dan saya berterimakasih atas teman saya yang satu ini karena berkat dialah saya dapat membuka mata saya lebih lebar untuk menangkap pelajaran-pelajaran tersirat yang diberikan oleh Allah kepeda saya. Pelajaran yang mungkin susah untuk dapat saya temukan di lembaga sekolah.
Petiklah hikmah dibalik kehidupan sehari-hari. Sesuatu yang awalnya menurut kita buruk belum tentu buruk di mata Allah dan di akhir nanti kita baru akan menyadari kebaikan hal tersebut. Sesungguhnya Allah tidak pernah menciptakan segala sesuatau di muka bimi ini sia-sia.
For the readers, thanks for reading this post. Kalian boleh komen sesuka hati karena saya lebih senang dengan hal itu. Kalian boleh menganggap tulisan ini hanyalah bullshit semata, karena mungkin pendapat kalian akan membuka mata saya.












