Adhissa: di Taman Ismail Marzuki
Adhissa membuka laman Facebook nya dan mendapati kabar bahagia di timeline nya dari seorang bernama Ifo Satya Gustoro
“Just can’t believe that I’m graduated summa Cumlaude from NYU! Thx God :))”
Sambil memandangi foto Ifo yang semakin klimis dengan toga di kepalanya, Dhissa reflek menulis komen di status bahagia itu “Congrats Bang Ifo! So proud of you!” berselang 1 menit, Ifo mengirimkan chat di Facebook
I: dhissaa long time no see! thank you yaa A: abang apa kabar? I: baik dek. kamu gmn? eh kita udh lama bgt gak ketemu A: baik jg bang. iya ya udh 3 tahun lbh I: 3,5 tahun 6 bulan A: pake 6 bulan ya bang? haha I: iyalah kan abang ngitungin udh berapa lama ga ketemu kamu. Yuk kita ketemuan! A: emang Abang langsung balik ke sini? I: iya Minggu depan Abang pulang ke tanah air. yuk dhissa kita ketemu A: yah dhissa lagi minggu uas nih bang maaf ya I: oh.. hmm oke deh semangat ya dhissa! semoga tercapai target utk jadi mapres nya! A: hehehe aamiin deh I: oh ya Abang beberapa kali baca puisi-puisi kamu di Tumblr, makin banyak euy fans nya! ratusan terus yg reblog dan like A: ah Abang bisa aja, dhissa jg bingung kenapa bisa kaya gt I: Dhis, kalo udah selesai uas nya kabarin ya A: Ok
Dhissa terhenyak. Memandang handphone nya yang sudah ia matikan. Ia terbayang akan kata-kata Ifo tentang menghitung berapa lama mereka tak bertemu dan tentu tentang mapres. Sebuah impian yang sebenarnya sudah lama sekali ia sampaikan. Namun Ifo masih mengingatnya. Juga tentang puisi-puisi nya, sebuah pelampiasan yang ia ejawantahkan lewat aksara kata.
2 Minggu kemudian, hari Kamis, pukul 12.30
I: dhis, Abang di kantin kampus kamu nih. kamu dmn? A: *mata terbelalak* Dhissa mau ngelab nih bang, ini lagi nunggu dosen. I: yaudah sekarang deh sebelum dosen kamu Dateng A: yah bang udh dtg nih dosenku I: selesai jam berapa? A: 17.00 I: wah msh lama bgt ya, bisa ke kantin sebentar aja gak? Abang mau ketemu A: duh maaf bang gabisa *matiin paket data* I: yah dhis, bentar aja. kok. I: dhis? I: Adhissa?
Bang Ifo pun beranjak meninggalkan kampus Dhissa karena ia jam 15 ada janji di daerah Bogor. Sementara Dhissa masih ngelab dengan perasaan amat bersalah karena telah berbohong pada Ifo soal jam selesainya ngelab.
A: Bang, maaf ya tadi gabisa nemuin karena lagi hectic bgt I: no worries dek A: Emang tadi Abang ngapain ke kampus aku? I: hmm itu Abang abis ketemuan sm temen SMA Abang skrg jadi dosen di kampus kamu di Fakultas Teknik nya A: ooh.. *huft… gue kira cuma mau nemuin gue doang* I: kapan luang dhis? A: hmm kapan ya bang, Dhissa blm bisa mastiin sih soalnya lg hectic bgt huhu I: hmm gitu ya
Kali ini Ifo yang berbohong, padahal tujuan ia ke kampus Dhissa ya semata hanya untuk bisa bertemu Dhissa. Namun ia tau kalau ia berkata jujur, Dhissa akan sangat merasa bersalah yang amat terlalu terhadap dirinya Jadilah ia berdalih seperti itu.
Suatu senja, Dhissa sedang berjalan di area kampus, ia melewati masjid, yang di depannya ada pohon yang begitu rindang “dulu waktu gue lagi survey kampus ini pas masih sma, bang Ifo yang nemenin gue terus dia nunggu gue selesai sholat di situ, di bawah pohon itu.” ucap Dhissa yang sedang asyik dalam lamunan nya yang tetiba dihentikan oleh suara klakson mobil “tiiiin! tiiin! kalo jalan jangan meleng dong!” Semalaman Dhissa terus berkontemplasi. Mengingat momen-momen kebersamaan nya dengan bang Ifo dulu, sebelum dia pergi ke Amerika utk kuliah. Pikiran Dhissa amat penuh, sibuk, dan berisik dengan berbagai pertanyaan yang telah mengendap menahun yang sekarang muncul kembali. Tanpa sadar, air matanya keluar, ia menangisi dirinya yang tak pernah bisa melupakan Ifo. Dalam keadaan emosi yang memuncak, ia membuka WhatsApp nya lalu membuka chat room nya dengan Ifo Satya Gustoro yang saat itu ternyata sedang online dan berstatus “I’ll come back to you.”
A: bang Ifo I: halo Dhissa akhirnya lagi gak sibuk ya? A: kenapa bisa bilang gitu bang? I: buktinya kamu ngegreet Abang duluan A: haha maaf ya bang sampe segitunya I: santai dek A: bang, besok Dhissa free nih. Yuk ketemuan! I: yaaaaah dhissaaa sayangnya besok Abang udh ada agenda nih A: yah syg banget :( emang apa bang agendanya? di mana? I: hmm Abang ada rapat besok di daerah Cikini A: Oh hmm oke deh gapapa I: maaf ya dek A: semoga lancar agenda nya bang I: terima kasih Adhissa :)
Ada agenda yang memang tak bisa Ifo tinggalkan di hari Minggu besoknya, akan amat tak elok jika ia tidak datang. Makannya terpaksa ia menolak ajakan Adhissa yang juga amat ingin ia temui.
Seminggu berjalan setelah chatting terakhir mereka, Ifo tak lagi menyapa Adhissa. Sedangkan Adhissa masih seringkali “mengintip” chat room nya dengan Ifo yang akhir-akhir ini lebih sering lagi online. “gabut banget apa ya bang Ifo online mulu WhatsApp nya. Eh terus gue apaan dong kalo bukan gabut juga? Haha.” ucap nya dalam hati sambil tertawa kecil
Tiga hari kemudian, Dhissa memutuskan untuk berjalan-jalan ke Kwitang mencari buku bacaan lama nan murah meriah. Hari ini sepertinya tak berpihak padanya, buku yang ia maksudkan tak juga ia temui. Namun akhirnya ia terpincut dengan sebuah buku berjudul Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer “wah boleh juga nih. beli deh.” ucapnya dalam hati. Setelah selesai ia bertransaksi dengan Abang penjual buku yang lapaknya tepat di ujung jalan Kwitang, ia langsung asyik membolak balik buku barunya.
“Dhissaaa!”
terdengar suara yang ia amat kenal meneriaki nya, seketika jantungnya berdegup kencang.
“Dhissaaa! ya ampuuun ga nyangka ketemu di sini.”
sambil membalikkan badan Dhissa dengan paksa dan memeluk gadis yang ia sebenarnya lebih tinggi 5 centi dari dirinya. Ya orang itu adalah Ifo
“eh bang Ifo! iya kebetulan banget ketemu di sini.”
Sambil mengatur napas dan membuat dirinya terlihat tetap tenang, Dhissa berusaha memulai percakapan basa basi
“abis dari Cikini dhissa, ada yang diurus di sana. Eh mau yg seger-seger gak? Ragusa yuk!”
“yah dhissa udah ga pu…”
“tenang! bang Ifo bayarin! nanti sekalian Abang anterin pulang”
Dhissa masih mematung. Ia masih tak percaya dengan apa yg sedang terjadi. Orang yang telah lama ia rindukan, orang yang selalu ia Kagumi dari jauh, sekaligus orang yang paling ia hindari untuk ditemui lagi, sekarang ada di hadapannya.
Ifo menyalakan mesin mobilnya, dengan wajah yang amat masih bahagia ia bertanya kepada Dhissa
“Dhisa gimana kabar kamu? cerita2 dong! Abang seneng banget akhirnya bisa ketemu kamu lagi setelah 3,5 tahun 6 bulan. Sekarang kamu keliatan lebih dewasa deh dan makin cantik.”
“iya bang setelah 3,5 tahun 6 bulan.” balas Dhissa dengan gelagap, menahan air mata nya yang tetiba ingin tumpah.
“kamu mau pesan apa?”
Dhissa masih diam seribu bahasa
“Abang pesenin Green Tea aja ya, kesukaan kamu kan?”
“Mas, Green Tea sama Espresso nya satu ya!” ucap Ifo ke waitres berseragam hitam-hijau bertuliskan “Koffie 45”
“Dhis..” belum selesai Ifo melanjutkan kalimatnya, Dhissa langsung memotong
“Bang Ifo kemana aja selama ini?”
Hati Ifo bergetar mendengar pertanyaan itu
“Maafin Abang dek.” jawab Ifo lirih. Seketika mereka terjebak dalam keheningan. Hingga suara jarum jam terdengar jelas di telinga keduanya.
“Silahkan Mas, Mba.” sang waiter datang membawa pesanan memecah keheningan
“Sekarang bang Ifo mau apa?”
Jantung Ifo berdegup kencang, setengah mati ia takut menyatakan maksud dan tujuan dirinya bertemu dengan Dhissa, seorang gadis yang amat ia sayangi dan tetiba harus ia tinggalkan tanpa penjelasan apapun untuk mengejar cita-citanya.
“Dhissa, sebelum Abang pergi dulu. Abang udah punya cita2 mau ngelakuin ini itu. Abang jadikan itu semua janji utk diri Abang sendiri. Tapi, hampir 4 tahun Abang merantau di sana, abang melewati berbagai episode2 kehidupan yang seringkali Abang gak sangka2 yang ternyata berdampak sama janji2 yang dulu pernah Abang buat. Abang sudah memikirkan ini matang2.”
Ifo mengambil tas nya yang ditaruh di meja, ia mengeluarkan sebuah benda berbentuk kotak. Bertuliskan “Taman Ismail Marzuki, 13 November 2016”
“Dhissa, Minggu depan Abang akan menikah, ini undangan nya.”
Dhissa terpaku, air mata nya jatuh
“Abang harap kamu bisa datang dan membacakan puisi untuk Abang.”
Dalam sekejap Dhissa beranjak dari kursi nya dan lari meninggalkan Koffie 45.
“Dhissaaa!” teriak Ifo melihat Dhissa pergi.
Ifo menutup wajahnya. Air mata jatuh membasahi pipi nya, ia menghina dirinya sendiri sebagai orang yang paling jahat di dunia
“Maafin Abang, Dhissa.” ucap Ifo dalam hati.















