Kita dibesarkan dengan lingkungan pertemanan yang gak kita duga. Dulu semasa kecil, kita bermain dengan teman sekampung yang selalu saling usil. Kadang-kadang berantem tapi gak lama baikan lagi. Unik ya, masa kecil tuh masa yang paling kita rindukan. Yang paling kita sukai karena wajah kita posisinya sedang polos sekali.
Segala permainan kita coba dengan teman kita. Sadar atau enggak, dari kecil kita udah banyak belajar. Belajar menghargai, ngalah, ngendaliin emosi, dan belajar bikin orang lain tertawa. Menghargai kalau temen kita gak setuju dengan apa yang kita inginkan. Ngalah kalau temen kita bersikukuh dengan apa yang mereka inginkan. Belajar ngendaliin emosi dengan yaudah diemin aja dulu trus saling tatap mata, eh ujungnya ngulurin tangan maaf-maafan. Lucunya waktu kecil, minta maaf bisa dengan semudah itu. Dan yang terakhir paling penting belajar bikin orang lain tertawa dengan candaan, usil, dan sifat keramahtamahan kita. Pernah nih dulu waktu kecil masak sama temen di tungku beneran. Saking polosnya gak tau apa-apa apinya makin besar dan ketika minyaknya terlalu panas jadinya makanan yang digoreng gosong lalu tangan dan kaki kecipratan minyaknya belum lagi wajannya jadi hitam banget. Memang sih dulu segalanya waktu kecil kita pengen coba ini itu tapi pas kejadian nahas itu terjadi, di halaman belakang lagi gak ada siapa-siapa dan keadaan api masih nyala dan kita (saya dan teman saya) malah ketawa bukannya panik. Kadang kalau waktu kecil, kejadian panik aja bisa bikin jadi bahan tertawaan karena tingkah laku sendiri. Kalau udah dewasa, intensitas rasa panik ya panik, ketawanya dikit paniknya yang banyak.
Kita masuk sekolah, kita ketemu dengan berbagai teman dari mulai yang karakternya cuek, banyak ngomong, jajan mulu, pamer, dan sebagainya. Banyak juga ya teman yang udah kita temui hingga kita menginjak usia (sebut sendiri aja ya). Secara gak sadar, kita sudah punya banyak relasi di dalam kehidupan ini. Bahkan orang asing yang pernah di temui di jalanan sekali pun atau dunia online bisa jadi teman dengan cara kita menjalin komunikasi yang baik.
Namun, ruang lingkup pertemanan semakin mengerucut kalau udah menginjak usia dewasa. Ada sebagian yang bilang,
Aku kehilangan temen-temen. Mereka kaya gak mau berteman, mereka kaya ngejauh karena kesibukan yang mereka miliki dan punya prioritas tersendiri. Aku nggak tau mereka kenapa dan salahku apa? Semoga mereka masih menganggap aku teman.
Semua akan baik-baik saja meskipun teman sudah memudar karena sudah bergelut dengan kesibukannya. Meski raga kita bilang mereka nggak ada dan menjauh, nggak apa-apa jangan memikirkan teman yang tidak memikirkan kita. Mungkin bisa jadi mereka punya alasan tersendiri untuk menjaga jarak pertemanan dengan kita.
Percayalah bahwa temen itu selalu ada kaya puisi Kebenaran Akan Terus Hidup milik Fajar Merah yang didalamnya ada kalimat,
'Aku akan tetap ada dan berlipat ganda'
Jangan pernah berkecil hati bahwa teman mulai menjauh, biarkan mereka memberikan asumsi apapun kepada kita. Kita akan sampai di fase kehilangan teman namun selalu banyak teman baru yang kita temui. Teman baru yang memberi semangat baru.
Teman lama yang selalu ada patut diapresiasi. Terima kasih sudah membuat perjalanan hidup lebih berwarna. Terima kasih sudah mau mendengar curahan hati yang berakhir dengan menyemangati. Terima kasih sudah saling mengingatkan mana yang dianggap salah dan mana yang dianggap benar. Terima kasih masih menjalin pertemanan hingga waktu yang tak ditentukan.
Teman,
Selalu ada dan tentunya sangat berharga di kehidupan kita.
Sudahkah hari ini bilang terima kasih pada temanmu? Coba bilang ke mereka ya, terima kasih dengan hadirnya kamu kita jadi sama-sama saling menjaga dan berharga.
"Friends who never leaving you is genuine friends in your life."
β¨β¨β¨










