Cerpen - Abstrak
Cerita ini lahir setelah aku nonton anime movie 5 cm per second untuk yang kesekian kalinya. Bukan animenya yang menginspirasiku kali ini, tapi ending theme songnya, memories of distant days. Nanti aku upload deh lagunya ^^
Oke, lets read it!
-Abstrak-
AuliyaPN
“Nyebelin.” Kutendang rumput-rumput hijau di bawah kakiku.
Sepatu merah berhak lima centi yang kupakai terasa tidak nyaman, sama dengan gaun merah muda bermotif bola-bola putih ini. Renda-rendanya membuat leher dan lututku terasa gatal setiap menoleh atau berjalan. Dan ooh! Kenapa suasana tempat ini benar-benar menyebalkan?!
Err, aku tak menyalahkan pohon dan bunga-bunga di sini, juga danau buatan yang tampak cantik itu. Tidak. Aku cuma tidak suka orang-orang yang ada di sini. Suasana ini. Kedamaianku hilang seketika begitu mama memasuki kamarku, memaksaku memakai gaun dan sepatu konyol ini, lalu membuatku terpaksa selalu tersenyum setiap tamu berdatangan.
Aku benar-benar tidak suka ini. Apalagi jika bibi-bibi bermake-up tebal dan berparfum menyengat itu sudah berkumpul. Urgh! Suara mereka benar-benar membuat telingaku gatal!
Ini perayaan ulang tahun perusahaan papa, emm mungkin lebih tepat kalau dibilang perusahaan kakek karena mama bilang, papa cuma mewarisi apa yang kakek bangun. Yah apapun itu. Yang aku tahu, acara ini selalu menyebalkan.
Tapi aku selalu terjebak di sini tiap tahunnya karena Mama!
Sudah satu jam aku berusaha mencari tempat bersembunyi. Tapi sialnya, mama selalu berhasil menemukanku. Dan yah...aku benci mengakuinya, tapi mama memang selalu berhasil menyeretku untuk menemui bibi ini, bibi itu, paman bla bla bla, atau nenek ya ya ya. Semua orang yang tak kukenal itu.
Mereka memuakkan. Terutama saat salah satu di antara mereka mengatakan, “Adel sekarang sudah besar yah. Kayaknya sudah cocok jadi menantu keluarga kami.” Dan seketika, yang lain akan menyambut ucapan itu dengan tawa.
Menantu kepalamu?! Aku ini baru sepuluh tahun! Apanya yang lucu dari kalimat mengerikan itu?!
Saat seorang paman berkepala setengah botak menyapa papa dan mama, aku cepat-cepat menundukkan badan dan berlari dari kerumunan, menyingkir ke tempat yang menurutku lebih aman.
Kutoleh kanan dan kiri. Aku tak mungkin bersembunyi di bawah meja-meja bundar bertaplak putih. Atau di antara semak. Atau dibalik pohon. Mama sudah menangkapku di semua tempat itu tadi. Yang tersisa sekarang adalah danau dan...
Belakang panggung!
Aku menyeringai dan mengendap-endap untuk bersembunyi di sana. Live music adalah tontonan favorit mama dan papa. Setiap tahun, selalu ada band pop terkenal yang mengisi acara. Tapi kali ini cukup beda. Mama memutuskan menyewa sebuah grup jazz. Tentu saja papa mengiyakan. Tak ada yang bisa mengatakan “tidak” saat mama sudah bersuara dan meminta, apalagi jika dia memaksa. Lihat saja nasibku ini.
Jika diamati, panggung tahun ini dibuat lebih besar dan elegan dari biasanya. Sepertinya memang dibutuhkan ruang yang lebih besar untuk para pemain drum, piano, biola dan cello itu. Yah, supaya siku mereka tak saling bersinggungan saat bermain. Kurasa begitu. Atau mungkin karena paman keriting pemain saxophone yang enerjik dan berpakaian nyentrik itu tak bisa diam. Kulihat, dia suka sekali meniup alat musiknya sambil berjalan ke sana kemari.
Aku menyibak sebuah kain putih panjang dan menyelinap ke bagian belakang panggung. Dan...yes! Aku beruntung bagian belakang panggung serba putih ini sangat teduh.
Tempat yang nyaman untuk sembunyi, pikirku.
Kusenderkan bahu di sebuah batang pohon apel yang tinggi. Aku tak peduli jika gaunku kotor.
Biar saja, seringaiku.
Angin membuat rumput-rumput dan bunga-bunga bertangkai tinggi seolah menari, juga membuat dedaunan mengeluarkan bunyi gemerisik. Aku suka. Terlebih saat suara musik jazz yang sejak tadi menemani sejenak terhenti, berganti dengan suara seorang wanita yang terdengar sayup-sayup saja.
Kupandang langit biru yang terang, juga awan-awan yang terlihat seperti gula kapas versi putih. Awan-awan itu tampak bergerak cepat, seperti mengejar sesuatu. Atau mungkin dipaksa pergi dari tempat itu.
Mirip aku yang dipaksa mama keluar dari kamar untuk ke sini.
Aku tersenyum geli membayangkan kalau awan-awan itu juga punya mama yang sama cerewetnya dengan mamaku, mama yang super perfeksionis kalau kata papa.
Lama-lama, angin membuaiku untuk terpejam. Tapi, sebuah suara yang dihasilkan oleh tarian jari-jari tangan di atas tuts-tuts piano tiba-tiba menghentakku. Aku membuka mata dan menoleh ke arah panggung. Alunan musik yang kudengar sangat pelan, merdu, sekaligus...entahlah. Aku bingung jika harus mengungkapkannya dengan kata-kata. Menyanyat hati? Mengguncang emosi? Aku tak tahu mana yang lebih tepat.
Ini aneh.
Penasaran, kugerakkan tubuh menuju panggung. Aku merangkak seperti bayi dan menyembulkan sedikit wajahku dari balik kain putih yang menghalangi pandangan. Kuperhatikan pemilik tangan berjari lincah itu; bocah laki-laki yang seusia denganku. Pakaian serba hitamnya terlihat bertabrakan dengan kulit pucatnya, juga dengan rambut panjangnya yang merah menyala; memperlihatkan ketidakseimbangan warna.
Seharusnya, penampilannya sekarang tak akan jadi pemandangan bagus. Apalagi latarnya taman bunga penuh warna. Dia yang terlihat suram, di atas panggung cantik itu, tampak seperti kanvas yang dicoret sembarangan dengan cat-cat akrilik.
Anehnya, lengan kemeja hitamnya yang digulung setengah itu, entah kenapa rasanya cocok-cocok saja. Cocok dengan wajah tanpa ekspresinya, juga dengan semua warna yang terlihat. Matching, kalau meminjam istilah mama. Setidaknya di mataku sih. Perpaduan keanehan semua warna ini membuatku terpesona.
Kayaknya sekarang aku tahu kenapa banyak orang suka dengan lukisan abstrak.













