Waham
Selama ini hidupku tidak nyata. Aku hidup di dunia yang kuciptakan sendiri. Selama ini aku ternyata memiliki waham atas apa yang kualami.
Waham kebesaran. Agaknya hal itu yang memenuhi hari-hariku. Selama ini aku terjebak dalam pemikiran semu. Tanpa kusadari hal ini menyebabkan aku tak bisa memandang secara objektif. Terutama terhadap diriku sendiri.
Bagaimana tidak, selama ini aku berpikir bahwa aku dapat menulis. Aku mengganggap diriku cukup mampu berlenggok di penulisan fiksi. Ternyata, tidak.
Apa yang kupikir nyata, ternyata tiada. Fakta bahwa aku tidak mampu mengolah kata, akhirnya kudapati. Tulisanku tak berisi. Hanya deretan huruf yang terangkai menjadi kata dan kalimat tak berjiwa. Mati.
Diksi yang kugubah tak jauh dari itu lagi-itu lagi. Kesalahan besar jika berpikir dunia menulis telah membuka pintu untukku.
Aku memiliki waham. Menganggap bahwa diriku berkualitas dan mampu bertahan di sini. Padahal, diterpa kenyataan seperti ini saja, kakiku goyah. Sementara para penulis hebat di sana, tentunya mapan dengan ide dan alam pikirannya.
Seorang mentor berucap padaku agar setiap tulisan yang kutelurkan memiliki makna. Agar ada nilai kebaikan yang kutularkan dalam tiap goresan ideku. Aku merasa gagal. Betapa setiap tulisanku tak ubahnya lontaran sampah yang mengisi jiwa dan pikiranku.
Pemikiran tak berdasarku ini lantas dibantahnya. Ia menanamkan ide, bahwa setiap penulis bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya. Oleh karenanya, keburukan atau pun kebaikan yang tercipta usai sebuah tulisan digulirkan, adalah suatu hal mutlak yang dipikul oleh penulisnya.
Selama ini aku merasa tulisan yang kubuat baik-baik saja. Ternyata fiksiku tak ubahnya lukisan cakar ayam balita. Tidak jelas point of view-nya. Tidak membumi. Hanya angan-angan mengawang yang liar dan tidak bernilai.
Selama ini, kupikir aku dapat menulis. Aku berwaham.


















