Hai, aku Gema Atharya. Inginnya, tulisan ini kutulis cepat-cepat karena di depan pintu sudah ada tamu yang mengetuk-ngetuk dengan terburu. Sebentar, kubilang sembari melongok siapa disitu. Tapi, merajut huruf-huruf ini ternyata memakan waktu, kukira membuatnya menunggu sebentar tidak akan membuatnya marah, ya kan? Kepalaku bising sekali hari ini. Berdesakan dari kotak terang, kotak gelap juga tidak mau kalah berjuang. Tenang, mohon antri, semua dapat giliran untuk tumpah lewat ujung-ujung jari. Tentu tidak semua lolos sensor, beberapa berakhir jadi kertas yang menggumpal di ujung lobus frontal. Hari ini warna langit sungguh menarik. Entah biasanya selalu begini atau atau aku saja yang terlalu lama melesap dalam keyboard mekanik. Warnanya seperti karpet lembayung yang ketumpahan belau, dengan pendar keperakan di ufuk barat yang kutebak adalah Hesperus, eh, apa sudah jadi Fosfor? Semoga kamu cukup paham bahwa aku agak payah soal orientasi waktu. Tapi waktu itu relatif kan ya? Tak peduli betapapun hidup diatur oleh detik-detik, menit-menit, jam-jam, hari-hari, pekan-pekan, bulan-bulan yang sama, dimanapun tempat berdiam di bumi, waktu tidak akan pernah absolut, kan? Laju lintasannya bergantung sekali dengan kecepatan dan akselerasinya. Ngomong-ngomong soal relativitas waktu, masih jadi misteri, mengapa waktu bisa lebih lambat dan lebih cepat pada saat yang bersamaan? Misalnya, kalau aku sedang bersama kamu, mengapa waktu terasa jauh, jauh, jauh, lebih singkat? Einstein, bisa bantu? #30haribercerita #30HBC2023 #3HBC2302 https://www.instagram.com/p/Cm5gpFWpmpD/?igshid=NGJjMDIxMWI=
Loading...









