“Karna Mereka”
Sinar matahari yang tidak pernah berhenti untuk menyinari dunia sudah menjadi aktivitas dan rutinitas matahari yang harus ia lakukan, sama halnya seperti makhluk hidup yaitu manusia.
Matahari tergelincir dan bayangan mulai memanjang, inilah awal waktu dzuhur.
Adzan berkumandang, dengan diikuti suara injakan bumi yang begitu banyak dan percikan air keluar mengalir secara bergilir.
Seorang anak kecil datang menghampiri ketika makanan siang siap disantap.
Bukan ...
Bukan ...
Dia bukan ingin meminta makanan yang siap dilahap. Dia menebarkan secarik kertas dan menjualnya
"Ini adalah puisi karyaku, jika kakak ingin membeli harganya Rp.2000"
Berjualan puisi dengan modal secarik kertas dengan mengharap banyaknya kertas bernominal Rp.2000 dapat memenuhi kantong disakunya.
Puisi yang berjudul
'karna mereka'
Tersenyumku buat mereka ...
Bahagiaku demi mereka ...
Tertawaku buat mereka ...
Karna merekalah ...
Disaat bibirku lelah ...
Disaat mataku terpejam ...
Disaat terakhir melihat ...
Mereka ada ...
//
Tidak lamanya nafasku terhenti ...
Disaat aliran darahku menyempit ...
Disaat tidak adanya lagi senyuman ...
/
Mereka ada ...
Aku berada ...
Aku berbahagia ...
Aku tertawa ...
Karna mereka ...
Karna mereka ...
//
Karna tulisan puisi mereka, saya tersenyum :)














