Beberapa orang menjadikan orang lain sebagai idolanya, dijadikan panutan dan ingin menjadi seperti idolanya? Salah gak sih mengidolakan orang lain? Setiap manusia punya dua sisa, baik dan buruk. Kita semua memiliki keduanya. Apakah kita mengetahui semuanya? Bisa iya bisa tidak, sebab kehidupan terus beradaptasi. Sebagai hamba, tentu siapapun kita pernah melakukan kesalahan, setiap kita memiliki rahasia-rahasia. Bahkan sedekat apapun kita dengan orang lain, kita tidak bisa pernah tahu apa yang tersembunyi. Yang mengetahui secara pasti ya dirinya sendiri. Berangkat dari sini, orang diluar sana yang kita jadikan idoa pun sama dengan kita. Maha baiknya Allah, Dia tutup aib-aib kita dihadapan manusia lainnya. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab orang-orang yang mengidolakan orang lain begitupun sebaliknya biasanya adalah orang tak bersama dirinya selama 24 jam. Orang yang jarang berinteraksi dan hanya melihat dari linimasa sosial medianya. Kita hanya mengetahui apa yang terlihat di permukaan. Sebab jika kita mengetahui kesalahan orang tidak ada seorang pun yang mau mendekat apatahlagi mengidolakan. Muhammad bin Wasi’ rahimahullah ketika ia berkata, “Andaikan dosa itu memiliki bau, tentu tidak ada dari seorang pun yang ingin duduk dekat-dekat denganku.” (Muhasabah An-Nafs, hlm. 37. Lihat A’mal Al-Qulub,hlm. 373) Deep!! Kata guru saya, kelak kita dikumpulkan bersama dengan orang yang kita cintai meski mungkin saja amalnya jauh dari mereka. Ini adalah dorongan untuk menjadikan orang shalih sebagai panutan. Jika sudah jauh melangkah, bisa di cek lagi apakah orang yang kita idolakan adalah yang bisa mengantarkan kita kepada kenikmatan abadi yang kekal? Yogyakarta, Januari 28 th 2021















