BERBEKAL UNTUK PULANG Sejatinya, hidup ini adalah sebuah perjalanan (untuk pulang). Itu pasti. Saat lahir, itu adalah awal mula bagi diri untuk memulai sebuah perjalanan. Kalau dalam perjalanan ke sekolah, tempat kerja, atau lintas daerah, maka bekal adalah salah satu hal yang tak lupa dibawa. Walau dikata hanya sejumlah rupiah, toh ujung-ujungnya bakal jadi bekal yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan selama dalam perjalanan hingga sampai ditujuan. Bagaimana dengan perjalanan untuk pulang yang sesungguhnya? Slide kedua, cukup menggambarkan dengan jelas bahwa diri baru sampai di alam dunia. Bagaimana dengan perjalanan setelahnya? Se-panjang itu ternyata perjalanan yang harus ditempuh untuk sampai ditujuan. Bedanya, perjalanan diri bagian ini, persinggahan terakhirnya bergantung pada bekal yang dibawa saat menuju pulang. Bekalnya–secara keseluruhan jika dikelompokkan, ada dua; amal kebaikan dan amal keburukan. Kalau diri berhasil mengumpulkan banyak amal kebaikan, insyaaAllah arah kanan adalah persinggahan terakhirnya. Namun, sebaliknya. Kalau diri lebih banyak mengumpulkan amal keburukan, maka arah kiri akan jadi persinggahan terakhirnya. Maha Baik ya, Dia. Diri tidak hanya sekadar diciptakan dan melakukan perjalanan hidup begitu saja. Tetapi diberikan rute perjalanan yang bisa menjadi–seperti peta untuk diri dalam melakukan perjalanan yang panjang ini agar tidak tersesat nantinya. Tak pernah dirahasiakan sedikitpun. Bahkan lengkap, ada juga buku pedoman (Al-Quran) sebagai pengingat dikala lalai dalam mengingat. Kurang apalagi? Jadi, bagaimana diri? Mau pilih arah yang mana, kiri atau kanan? Sudahkah berbekal? Bagaimana kabar tabungan amal kebaikan yang harusnya selalu bertambah banyak itu? Sudah cukup sebagai bekal untuk dibawa pulang? Atau, sudah percaya dirikah untuk mempertanggungjawabkan bekal itu pada-Nya? #muhasabahdiri #30hbc2021 #30hbc2121 #30haribercerita _________ Sumber Gambar; Slide 1, potret pribadi. Slide 2, m.kumparan.com https://www.instagram.com/p/CKWkJb9JxSN/?igshid=8jw6rsbk6dbg