Wanita dan Buku Catatan Dosa
Wanita itu sudah berumur lebih dari seperempat abad. Meski ingat betul tanggal lahirnya, tapi soal umur dia selalu lupa. Setiap ditanya, dia selalu butuh waktu sejenak untuk menghitung umurnya. Bukan menolak tua, baginya umur hanya sekadar angka. Seberapa tua atau muda dirinya bukanlah perkara penting.
Segala hal pada dirinya terlihat jelas dari cara bicara dan sikapnya. Dia terlihat tidak terlalu peduli dengan pandangan orang lain dan hidup menurut prinsip yang diyakini. Saat pertama kali bertemu, orang sering menyalahartikan sikapnya. Terlihat seperti wanita yang tidak punya belas kasih dan terlalu misterius. Padahal dia hanya wanita biasa yang sedikit bicara. Lebih suka memperhatikan dan mendengarkan dalam tenang.Â
Sulit memahami sikapnya yang terlihat tertutup. Sulit memahami jalan pikirannya yang berlapis. Pada sepinya kata yang diucap, terdapat keramaian dalam pikirannya. Semua keruwetan pikiran diurainya sendiri sampai menemukan solusi yang paling sederhana. Setelah mengenal cukup lama, orang mulai sadar dia hanya manusia sederhana. Cara berpikirnya mungkin sederhana, tapi semua itu berasal dari kesulitannya dalam menemukan jalan keluar.
Banyak hal yang dia kerjakan sendiri. Dia hampir tidak pernah menceritakan masalahnya kepada siapapun. Entah takut dikira lemah atau memang tidak terbiasa bercerita. Hanya sedikit orang yang pernah mendengar ceritanya karena tidak mudah baginya membuka diri bagi orang baru. Bagi wanita itu, bertemu orang baru berarti harus menceritakan semua tentang dirinya dari awal lagi.Â
Wanita itu sadar, suatu hari dia akan menikah. Dia tidak punya teman laki-laki yang begitu dekat. Kemungkinan besar dia akan menikah dengan orang yang pernah ditemui atau orang yang tidak pernah dikenal sama sekali. Itu artinya dia harus hidup bersama orang baru dan saling mengenal satu sama lain, memulai semuanya dari awal. Membayangkan hal tersebut membuat perasaan wanita itu campur aduk. Ada perasaan takut, lelah, senang, dan semangat.Â
Apapun masalah yang dihadapi saat menikah nanti seringkali membuatnya khawatir. Dia sering bertanya-tanya soal kesanggupannya menghadapi segala macam masalah. Haruskah semua masalah tetap diurai sendiri? Maukah pasangannya bekerja sama? Mampukah bertahan saat badai menerjang? Meskipun begitu, keinginannya untuk menikah tetaplah kuat.
Wanita itu memang agak unik. Bukan hanya dia yang menganggap demikian, saudara-saudaranya pun mengiyakan hal tersebut. Dia selalu punya berbagai pertanyaan di pikirannya. Penuh sekali isinya tapi raut wajahnya tidak berubah. Dia tetap diam dalam tenang. Hanya senyum tipis yang muncul sesaat setelah dia mampu mengurai pikirannya.
Semua yang dia lakukan terlihat sesederhana. Wanita itu lebih sering mengamati terlebih dahulu untuk memulai bergerak. Kadang dia bisa mengamati dengan sangat lama, kadang bisa mengamati sejenak dan langsung bergerak sigap.
Orang yang penuh inisiatif dan energi, akan merasa geregetan melihat sikapnya. Nampak seperti orang malas yang tidak mau berjuang. Tidak jarang wanita itu menghabiskan waktu beberapa menit dengan tidur-tiduran dan hanya menatap langit-langit. Siapapun yang melihat hal tersebut akan menganggap dia selalu punya waktu kosong. Padahal ada setumpuk pekerjaan menanti. Bukan maksud membela, tapi tiduran sejenak adalah cara lain baginya mengosongkan pikiran agar kembali siap beraktivitas.
Wanita itu selalu punya cara tersendiri memperbaiki masalahnya. Saat dia buat kesalahan dan merasa sangat menyesal, dia mulai menulis dosanya. Pada buku catatannya, tertulis deretan kesalahan yang pernah dilakukan. Melihat kembali catatan itu membuatnya sadar bahwa dia tidak lebih baik dari siapapun. Dia punya kesadaran penuh tentang dirinya yang hanya wanita biasa.
Ketimbang orang lain, wanita itu lebih sering mengutuk dirinya. Padahal setiap orang selalu punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Selalu ada kesempatan baru untuk mulai menulis cerita yang baru dalam hidup. Catatan kesalahan tetaplah penting untuk mengingat betapa tidak sempurnanya dia. Namun, wanita itu perlu membiarkan dirinya bergerak menjadi pribadi yang lebih baik.Â
Bukahkah setiap hari adalah hari untuk membuka cerita yang baru?












