Menulis, Cara Menasehati Diriku Sendiri
Sebuah bibir kadangkala mengucapkan sebuah kebohongan, mengucapkan kata yang mengecewakan orang. Mata kadangkala melihat sesuatu yang kurang dibenarkan, akal seringkali berfikir negatif terhadap kondisi. Bibir, mata, akal, dan semua raga yang terintegrasi dalam sikap keseharian perlu refleksi, perlu dinasehati, agar bibir, mata, akal, dan semua raga berjalan di jalan kebenaran. Kadangkala pula kita mendengar nasehat dari teman atau keluarga tentang sikap keseharian kita, tapi alangkah baiknya jika kita mempunyai kesadaran untuk selalu berinstropeksi diri.
Banyak cara untuk instropeksi diri, ada yang mencari kesunyian untuk berdialog dengan diri sendiri, ada yang sebelum tidur merenungkan aktivitas harian. Kalau caraku berinstropeksi dengan menulis, dengan menulis ku mencoba jujur terhadap diriku, dengan menulis ku mengakui kesalahan-kesalahanku, dengan menulis ku berharap akan sesuatu. Menulis membuat diri ini berusaha untuk jujur terhadap diri sendiri. Setiap saat merasakan kegelisahan akan sesuatu, ku mencoba menulis dan bertanya terhadap diriku, apakah yang aku ucapkan tadi menyakiti hatinya? Apakah yang aku ucapkan tadi sebuah kebenaran? Apa kekuranganku selama ini? Kenapa dia bisa sedangkan aku belum, apakah usahaku selama ini masih kurang? Sejujurnya saya kurang sepakat dengan sebuah slogan “Lebih Baik Jadi Diri Sendiri”, saya lebih menyukai slogan “Lebih Baik, Selalu Berusaha Menjadi yang Lebih Baik”. Menasehati diri sendiri membuat kita jujur akan diri kita.
Menulis dengan menggunakan perasaan, menulis dengan berisi ungkapan hati, membuat hati lebih tenang. Ada sebuah tulisan yang perlu disampaikan ke orang lain sebagai pesan-pesan kebaikan, dan adapula tulisan cukup kita yang sendiri yang mengetahui. Menulis untuk orang lain dan menulis untuk diri sendiri. Cara terbaik membahagiakan diri sendiri yaitu dengan selalu mengungkapkan isi hati, tak selalu bercerita ke orang lain, menulis cara mengukapkan isi hati yang terbaik.












