Berharap Restu Sang Ibu
Tak ada lagi nasehat darimu, tak ada lagi pelukan hangat menemani hariku, dan tak ada lagi tangan yang setiap pagi ku cium. Sejujurnya banyak cerita yang ingin aku ceritakan, banyak keluh-kesah yang ingin aku bagikan, banyak hal yang ingin aku katakan padamu. Wahai ibu, ku sangat merindukanmu, tetes air mata tak sanggup mengembalikanmu, hanya doaku lah yang engkau tunggu, maafkan diriku sering mengkhianati nilai-nilai yang engkau tanamkan dahulu. Maafkan aku pula belum bisa menjadi kakak yang baik untuk adekku. Ku menyadari, bukan kekayaan, bukan megahnya rumah, bukan tingginya jabatan yang bisa membahagiakanmu, tapi sikap dan doaku yang bisa membuatmu tersenyum bangga padaku. Ku berjanji, mulai detik ini akan berusaha menjaga sikapku agar engkau tak malu mempertanggungjawabkan amanah terbesarmu di dunia ini di hadapan Tuhan kita, yaitu mendidik aku sebagai buah hatimu, ku berjanji akan selalu mendoakanmu di setiap sholatku, agar engkau semakin berbahagia di sana. Meski ku tak pernah berharap berpisah darimu, tapi takdir lebih berkuasa mengatur kepergianmu. Meski raga tak lagi berjumpa, ku selalu mengharap restumu untuk kehidupanku. Semoga engkau diberi kebahagiaan di pusara keabadian.
Sidoarjo, 22 Desember 2016













