Saat sendirian, di tembok kamar kadang kamu menemui beberapa keanehan. Seperti gema namun bukan suara, bukan bahana. Seperti dengung yang tak jelas lintasnya, entah dari ujung mana ke ujung mana. Bergetar sayup tapi ada. Hilang. Ada. Hilang. Mendekat meresonansi kata-kata yang kamu mengerti bahasanya. Berbaur, berkerumun, lalu hilang ditelan suara dari luar sana.
Berapa banyak harapan paham yang kita indahkan?
__________
Pintu dibuka. Kamu masuk, memberikan kecupan, menggantungkan tas di sandaran bangku. Menarik tirai mendekati tumpukan buku. Aku tak melihat siluetmu. Tak ada binar diantaranya, pagi jatuh begitu keras, diluar sana hujan deras. Besi-besi tua yang sekarat dideritkan oleh angin. Bunyinya mengiris kedalam telinga, menyelinap memasuki isi kepala, atau sekedar menyaingi detak jantung dalam rongga dada.
"Udah ku bilang itu rongsokan dijual aja"
"Hmmm"
"Kalo gak jadi sarang hantu"
"Emang hantu itu ada?"
"Lagian disimpen buat apa juga?"
"Buat pajangan depan rumah"
"Lumayan kan duitnya"
Telunjukmu bergerak ke tumpukannya, disaat yang sama aku kehilangan nalar antara sarang hantu dan tumpukan besi tua yang entah mengapa masih eksis berada disana. Bagaimana bisa? Sarang hantu? Aku duduk, mengurung diri dalam selimut bersama mata yang setengah terbuka. Tak banyak yang bisa ku amati. Aku rasa kamu butuh liburan pekan ini, sebab hingga hari ini mulutmu terus mengeluarkan korelasi-korelasi yang terlalu mengada-ada atau bertingkah tak seperti biasanya. Dua hari lalu misalnya, batu yang kamu lempar tak mengenai drone meskipun cuma baling-balingnya lalu kamu seperti tak melakukan apa-apa dan hanya berkata "langitnya bagus ya". Rasio otak kanan dan kiri ku semakin berkurang rasanya, ditambah lagi menurutmu Beryl itu harus menjadi vegetarian agar bulunya tak sekeras kulit Durian. Semoga suatu hari kamu tak berfikir untuk melatih anjing itu kungfu.
"Tuh baca!"
"Apaan?"
Mulutmu memberi instruksi ke arah laptop yang layarnya memuat banyak huruf berjenis Calibri dengan ukuran dua belas ku rasa. Kepalaku mendekat ke arah meja, ke arah cahaya putih. Pada headline berita tertulis "Misteri kampung hantu jadi-jadian di Lombok". Di belakangku, tanganmu asik meramu sesuatu, aku mendengar sendok dan cangkir beradu. Bunyi hujan seakan berhenti. Aku tak memahami mengapa kamu bisa berada di laman ini sepagi ini, atau kamu memang sengaja membukanya, atau kamu tersesat seperti biasanya, atau besi-besi itu, kamu memang ingin aku menjualnya?
Belum selesai ku baca, langkahmu menghampiri. Meletakkan secangkir minuman di atas meja lalu duduk di pangkuanku tanpa mengucapkan apa-apa. Tanganmu melingkariku. "Tehmu abis" bisikmu. Mataku mengarah ke cangkir, paha kiriku bertanya apakah beratmu bertambah?. "Kopi" gumamku dalam hati.
"Hantunya jadi-jadian, berarti bukan hantu beneran kan?"
"Tetep aja hantu"
"Tapi bukan roh penasaran"
"Sama aja kan?"
"Beda"
"Namanya juga hantu jadi-jadian, ya sejadinya aja! Kalo gak jadi yang tetep bisa dibilang hantu kan?!"
Kamu berdiri mengakhiri pembicaraan, pergi menuju pintu. Ke toilet pikirku, barangkali. Di luar sana hujan belum juga berhenti, namun angin mereda. Suara besi-besi tua tak terdengar seperti sebelumnya. Aku tertawa parau seraya bertanya-tanya, mengapa ibumu memberimu nama cahaya dalam bahasa Sansekerta.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
✓ Live Streaming✓ Interactive Chat✓ Private Shows✓ HD Quality✓ Free Actions
Free to watch • No registration required • HD streaming
Lima belas hari lagi. Jantungku tak karuan degupnya. Seperti akan diketemukan jodoh. Lima belas hari lagi. Lantas Ramadhan akan pergi dan kembali di tahun berikutnya. Sedang aku tak tahu apa masih diberi kesempatan bertemu. Lima belas hari lagi. Semua terasa sesak. Belum banyak ketercapaian. Parahnya. Kutemukan beberapa kekosongan. Lima belas hari lagi. Semoga bisa benar kumaksimalkan. Tidak hanya di niatan tapi juga dalam perbuatan.